Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_205


__ADS_3

Cinta dan kakek Broto sedang duduk di depan rumah menikmati udara dingin di pagi hari Kota Bandung, tepatnya di daerah Ciwidey.


"Kek, makasih ya udah izinin Cinta dan Beni nginap di sini. Untung aja tadi malam kita langsung ke Bandung, Cinta benar-benar gak mau ketemu sama mama Kek," ucap Cinta.


"Neng Cinta, pintu rumah kakek akan selalu terbuka buat kalian. Kalian adalah cucu Kakek," kata kakek Broto.


Lalu Beni yang baru selesai mandi itu pun datang menghampiri kakek Broto dan istrinya.


"Pagi Kek, sayang," sapa Bryan.


"Pagi Mas, gimana mandinya, dingin gak?" tanya Cinta. Semenjak menikah ia memutuskan untuk memanggil Beni dengan sebutan Mas.


"Dingin banget sayang," jawab Beni.


"Ya udah kek, Mas, Cinta buatin sarapan dulu ya ke dapur, kalian ngobrol-ngobrol aja dulu," kata Cinta.


"Iya sayang," jawab Beni. Sedangkan kakek Broto hanya mengangguk.


"Beni, kamu ingat ya sama janji kamu, jaga dan sayangi Cinta dengan segenap jiwa dan ragamu. Kalau kamu berani menyakiti Cinta, Kakek tidak akan segan-segan untuk memberi pelajaran buat kamu," kata kakek Broto dengan wajah seriusnya.


"Terima kasih ya Kek, Kakek udah kasih Beni kesempatan untuk menjaga Cinta, Beni janji Kek gak akan pernah nyakitin cucu Kakek, Beni akan lakuin apa pun demi kebahagiaan Cinta," ucap Beni.


"Ya syukurlah, Kakek percaya sama kamu," kata kakek Broto.


...


"Brengsek, anak kurang ajar! Ini pasti ulah papa lagi jadi Cinta berani membangkang sama aku," ucap bu Lily yang sangat emosi.


Semalaman ia menunggu Cinta di rumah tetapi Cinta tidak pulang, pergi ke apartemen Beni juga hasilnya nihil, ia yakin Cinta dan Beni ada di Bandung, di rumah kakek Broto.


"Aku harus ke Bandung sekarang juga! Anak itu benar-benar kurang ajar, sama sekali tidak menghargai aku sebagai ibunya," gumam bu Lily.


"Ada apa Tante ajak saya ketemu?" Tanya Rolan saat mereka bertemu di suatu tempat.


"Maaf Nak Rolan, saya kan sudah melakukan apa yang Nak Rolan mau, apa belum bisa Tante meminta uangnya sekarang? Karena Tante akan meninggalkan Jakarta hari ni," kata bu Lily.


"Oh, masalah uang 200 juta itu, tidak masalah buat saya, tapi saya akan transfer 100 jutanya dulu, setelah tugas kedua sudah berhasil Tante lakukan, saya akan mengirimkan kekurangannya bahkan akan ada bonus buat Tante," kata Rolan.


"Tugas kedua apa...?" Tanya bu Lily tidak mengerti.


"Aku mau, Tante menggagalkan rencana honeymoon Cinta dan Beni ke Perancis," jawab Beni.


"Ke Perancis? Bagaimana bisa, sementara menikah saja secara sederhana seperti itu," kata bu Lily.

__ADS_1


"Jadi Tante gak tau kalau mereka dapat kado dari teman-temannya yaitu tiket honeymoon ke Perancis, bahkan semua biaya di sana sudah termasuk dalam kado itu," kata Beni.


"Beruntung sekali nasib mereka," gumam bu Lily.


"Jadi, apa Tante bisa melakukannya...?" Tanya Rolan.


"Sepertinya ini sangat menarik, uang dan bonus, lagian aku juga gak terima jika Cinta dan Beni hidup bahagia," gumam bu Lily dalam hati.


"Tante..." Panggil Rolan membuyarkan lamunan bu Lily.


"I-iya Nak, baiklah, saya akan melakukan itu," jawab bu Lily.


"Bagus, Tante boleh cek rekening Tante sekarang," kata Rolan.


Dengan cepat Bu Lily langsung merogoh ponselnya yang ada di dalam tas, lalu segera memeriksa m-banking rekening yang ia punya. Bu Lily membelalakkan matanya dan tersenyum puas karena melihat nominal uang yang besar telah menjadi miliknya sekarang.


"Terima kasih Nak Rolan, Tante tidak akan mengecewakan kamu," ucap bu Lily.


"Ya Tante," jawab Beni dan tersenyum tipis.


...


Tok... Tok... Tok... Karina mengetuk pintu ruangan CEO.


Terlihat Karina masuk membawa secangkir kopi untuk Leo.


"Pak, ini saya bawakan kopi buat Bapak," kata Karina sembari meletakkannya di atas meja.


"Saya sudah bilang, kamu tidak perlu membuatkan saya kopi kan? Biar Bu Siti aja yang buatin saya kopi seperti biasanya," kata Leo.


Memang biasanya Bu Siti yang merupakan salah satu cleaning service di situ, yang selalu membuatkan kopi untuk Leo, jadi Leo sangat tidak terbiasa jika ada orang lain di kantor yang membuatkan minuman untuknya selain Bu Siti. Meski pun sudah di peringatkan dan di tolak, tetap saja Kirana yang bandel ini melanggarnya. Ia ingin mencari perhatian dari Leo walau pun tidak pernah berhasil.


"Bawa kopi itu!" Perintah Leo.


"Pak, tapi kopi ini enak loh, ini itu american coffe yang Papi saya kirimkan buat saya Pak," kata Karina.


"Ya sudah kamu saja yang minum, bawa kopi ini keluar sekarang dan suruh Bu Siti buat kopi yang biasanya!" kata Leo.


"Baik Pak," jawab Karina lalu mengambil kembali secangkir kopi tersebut dan hendak keluar dari ruangan Leo.


"Tunggu!" teriak Leo.


"Hm... Pasti berubah pikiran, tadi aja sok-sokan nolak," gerutu Karina dan tersenyum tipis, lalu ia membalikkan badannya menghadap Leo.

__ADS_1


"Iya Pak, saya tarok lagi ya kopi nya," kata Karina.


"Siapa juga yang mau kopi, cepat kamu periksa file yang barusan saya kirim ke surel kamu, setelah itu kirim rekapannya ke saya sekarang juga!" Kata Leo.


"Oh, baik Pak" jawab Karina lalu meninggalkan ruang kerja Leo.


Karina sangat kesal dengan perlakuan Leo itu, Sudah dua bulan ia bekerja di situ, tapi sikap Leo benar-benar dingin terhadapnya. Jika alasannya karena Karina adalah pegawainya, lalu kenapa Leo bisa bersikap ramah terhadap pegawainya yang lain? bahkan dengan CS, pikirnya.


"Ah sudahlah, mendingan sekarang aku kerjain aja tugas dari Leo," gumam Karina.


...


"Halo Sayang," ucap mami Ara dari sebrang telepon.


"Halo Mi, ada apa?" Tanya Ara.


"Kamu masih sibuk ya?" Tanya mami Ara. "Jangan lupa ya malam ini papi kamu ajak dinner sama keluarga rekan bisnis papi yang besok akan pulang ke luar Negeri" katanya pula.


"Iya Mi, Ara ingat kok. Ini bentar lagi Ara juga pulang, lagian dinnernya juga nanti malam," kata Ara.


"Iya Sayang, Mami hanya mau ingatkan saja, takut kamu lupa dan malah lembur," kata mami Ara.


"Gak kok Mi," kata Ara.


"Ya udah, Mami tunggu kamu pulang ya Sayang, bye...." Kata mami Ara.


"Iya Mi, bye..." balas Ara.


Lalu panggilan telfon berakhir.


"Ara ke ruangan saya sekarang ya!" Perintah pak Haris melalui telepon.


Ara pun bergegas melangkahkan kaki menuju ke ruang Direktur.


Tok.. Tok.. Tok.. Ara mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruang Pak Haris.


"Ara, silahkan duduk!" Ucap pak Haris.


"Terima kasih Om," ucap Ara.


"Ara seperti yang kamu tahu bahwa saat ini tidak ada CEO di Perusahaan ini, apa kamu bersedia menempatinya...?" Tanya pak Haris yang membuat Ara tercengang tidak mempercayainya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2