
"Kamu serius Dek dengan ucapan kamu tadi?" Tanya Arka. Arka menerka jika ucapan adiknya tidak serius hanya karena sedang diliputi emosi sesaat saja.
"Iya kak aku serius. Rasanya aku udah lelah mengharap cinta yang belum pasti. Baru kali ini Kak aku berharap kayak gini, aku kira pintu hati kak Rio bakalan terbuka. Selama aku kerja bersama Kak Rio kurang lebih tiga bulan, kita dekat, sering jalan bareng, makan bareng, aku kira itu bakalan merubah segalanya, tapi ternyata enggak Kak, tetap aja Kak Nadia yang ada di hati kak Rio," ucap Aria menatap dengan tatapan sendu.
Arka pun menatap wajah sang adik, tidak biasanya Aria seserius itu berbicara soal cinta. Sepertinya saat ini Arya benar-benar sudah lelah dan ingin menyerah. Arka merasa sangat kasihan melihat adiknya, akan tetapi lagi-lagi ia tidak tahu harus berbuat apa, karena ia sama sekali tidak bisa memaksa perasaan orang lain untuk mencintai. Arka hanya dapat menyemangati Aria dan mendukung apapun yang sudah menjadi keputusan adiknya itu.
"Ya udah Dek, kalau memang itu udah jadi keputusan kamu Kakak dukung. Tapi kamu janji ya jangan sedih dan kalau seandainya kamu nggak kuat, kamu keluar aja dari perusahaan tempat Rio kerja. Kamu kerja aja di perusahaan kita atau kamu mau ngelamar di perusahaannya Leo? Atau Perusahaan Ara? Kakak bisa bantu kok, Kakak Yakin dengan kemampuan yang kamu punya, mereka dengan senang hati memperkerjakan kamu. Terlebih lagi sekarang ini kamu tau kan kalau Ara lagi mual-mual gitu, apa tuh istilahnya," ucap Arka.
"Morning sickness Kak," ucap Aria.
"Ya seperti itulah katanya, jadi Ara untuk beberapa bulan ke depan belum bisa ke kantor. Mendingan kamu ngelamar aja deh di sana, bisa sekalian bantuin Ara kan?" kata Arka.
Aria menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Enggak Kak, aku bukan orang yang seperti itu. Kakak tau kan kalau aku udah bekerja di perusahaan tempat Kak Rio dan udah dikontrak selama satu tahun. Jadi aku harus tanggung jawab dong kak sama kerjaan aku, setidaknya sampai habis masa kontrak. Lagian Kakak tenang ajalah, aku yakin kok kalau aku bisa untuk mengendalikan perasaan aku. Aku akan anggap semua biasa aja, aku akan anggap kalau Kak Rio hanya Bos aku aja di kantor. Sebisa mungkin aku akan menghindar dari dia kecuali hanya urusan pekerjaan," kata Aria dengan sangat yakin.
Hatinya benar-benar sudah sangat lelah, rasanya tak ingin menyerah, tapi apalah daya ia hanya manusia biasa yang punya batas kesabaran dan butuh kepastian. Sekarang ini tekad Aria benar-benar sudah bulat, ia akan melupakan Rio mulai saat ini dan menganggapnya tidak pernah hadir di dalam hatinya.
"Kak, kenapa malah duduk di sini sih? Kasian Kak Sherin lho lama nunggu Kakak," kata Aria.
"Oh iya, ya udah deh kalau gitu aku mau pergi dulu ya. Kamu masuk aja gih sana temenin Papa," kata Arka.
__ADS_1
"Iya Kak, ini aku mau masuk kok. Kakak hati-hati ya, salam buat Kak Sherin," ucap Aria.
"Iya, atau kamu mau ikut Kakak aja nggak?" Tanya Arka.
"Ogah banget jadi obat nyamuk," tolak Aria mentah-mentah.
"Ya udah kalau nggak mau, lagian cuma basa-basi doang kali. Siapa juga yang mau pacaran ngajak adik," kata Arka.
"Iya aku tahu kok kalau Kakak cuma basa-basi, makanya aku nggak mau dan aku langsung nolak," kata Aria. ketus.
"Ya udah, gak usah sewot lah," kata Arka.
"Iya deh iya. Sana masuk! Kakak mau pergi nih," kata Arka.
"Kakak gih sana pergi duluan, aku kan di rumah Kak, Kakak yang mau pergi ya pergi aja duluan," kata Aria.
Memang sudah kebiasaan mereka berdua jika bertemu selalu berdebat, masalah kecil saja bisa menjadi berbelit-belit. Mereka selalu saja membuat keributan-keributan kecil seperti Tom and Jerry, tetapi mereka berdua tetaplah kakak adik yang saling perduli satu sama lainnya. Arka sangat menyayangi adiknya, begitu juga dengan Aria yang sangat menyayangi Kakaknya.
Setelah Arka berlalu dari pandangan mata Aria, Aria pun segera masuk ke dalam rumah. Dia melihat pak Boby yang sudah tertidur pulas, lalu ia pun kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.
__ADS_1
Aria meraih ponselnya yang ada di atas nakas, ia mengotak-atik ponsel tersebut, mencari hiburan agar ia dapat melupakan kegundahan hati yang saat ini sedang dirasakannya.
...
Saat ini Arka dan Sherin sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah restauran untuk makan malam bersama. Sedari tadi Sherin memperhatikan Arka yang tampak termenung memikirkan sesuatu dan membuatnya bertanya-tanya di dalam hati. Ia yakin jika saat ini Arka pasti sedang memiliki masalah, karena tidak mungkin jika Arka seperti itu dalam keadaan baik-baik saja. Sherin pun memberanikan diri untuk bertanya kepada kekasihnya itu.
"Sayang, kamu kenapa? Aku liat kayaknya kamu lagi mikirin sesuatu," Tanya Sherin.
"Duh … maaf ya Sayang aku cuekin kamu ya? Keliatan banget ya kalau aku lagi ada masalah?" Tanya Arka pula.
"Iya keliatan, aku tahu kalau kamu lagi kayak gini pasti lagi memikirkan sesuatu," kata Sherin.
Saat ini hubungan Arka dan Sherin memang semakin dekat dan terlihat sudah sangat serius. Jadi Sherin sudah sangat mengenal sifat Arka itu meskipun mereka berpacaran belum sampai satu tahun lamanya. Akhirnya Arka pun menceritakan masalahnya kepada Sherin, tentang apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini. Sherin manggut-manggut dan mendengarkannya dengan seksama, ia juga dapat merasakan kegundahan hati Arka. Karena bagaimanapun juga Aria adalah adik kandung Arka, tentu saja Arka sangat peduli dan saat ini Sherin pun ikut merasa peduli. Karena Aria merupakan adik dari kekasihnya yang berarti akan menjadi adiknya juga jika nanti ia dan Arka berjodoh.
"Kasian juga ya sama Aria, lagian Rio tuh kenapa sih nggak ngerti banget perasaan wanita. Ya dia enak bisa manfaatin Aria gitu aja, bisa senang-senang sama Aria karena saat ini Nadia udah nggak ada. Dia bisa menganggap Aria hanya sebagai sahabat, nggak memikirkan gimana perasaan Aria yang menaruh harapan sama dia," ucap Sherin kesal.
Saat itu, tanpa sadar ternyata ucapan Sherin telah membuat Arka menjadi emosi, ia yang tadinya berpikir positif tentang Rio, saat ini malah berpikiran yang bukan-bukan. Ia seperti sedang dipanas-panasi, ia merasa sakit hati terhadap Rio karena menurutnya telah mempermainkan adik satu-satunya itu. Dalam hati Arka telah berniat setelah pulang mengantar Sherin nanti, dia akan menemui Rio di rumahnya untuk membicarakan tentang ini semua.
...****************...
__ADS_1