Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-328


__ADS_3

"Amira, kenapa kamu sedih? Apa ada perkataan Tante yang menyinggung perasaan kamu ya?" Tanya Bu Maria.


"Sama sekali nggak Tante, Mira terharu karena merasa sangat beruntung bisa kenal sama Tante dan Mbak Ara. Kalian berdua begitu peduli dan sayang sama Mira, Mira nggak tau gimana cara membalasnya Tante. Yang jelas Mira juga sayang sama Tante dan Mbak Ara," ucap Amira yang mengeluarkan bulir bening dari sudut matanya.


Bu Maria pun ikut terharu hingga matanya berkaca-kaca, lalu ia meraih tubuh Amira ke dalam dekapan hangatnya. Amira dengan sangat senang membalas pelukan tersebut dengan sangat erat.


"Sayang kamu nggak usah ya mikir untuk membalasnya, gak usah mikir tidak-tidak. Kamu tenang aja, pokoknya sampai kapanpun ada Tante yang akan selalu ada buat Mira. Anggap aja Tante ini sebagai orang tua kandung kamu, meskipun Tante tidak bisa menggantikan posisi ibu kamu di hati kamu. Dan kalau Tante boleh meminta, kamu mau nggak panggil Tante dengan sebutan Mami?" Pinta bu Maria.


"Mami … ?" Tanya Amira untuk memastikannya lagi apa yang telah didengarnya tidak salah.


"Iya Sayang, Mami. Apa kamu mau memanggil Tante dengan sebutan Mami?" Tanya bu Maria.


"Tapi apa itu pantas Tante?" Tanya Amira, ia merasa sangat tidak enak. Terutama terhadap Ara. Bagaimana tanggapan Ara jika ia memanggil ibunya dengan sebutan Mami.


"Tentu saja pantas. Tante sudah menganggap kamu sebagai anak Tante sendiri, begitu juga dengan Ara yang sudah menganggap kamu sebagai adiknya. Jadi kenapa tidak pantas?" Jawab bu Maria.


"Kalau gitu Mira mau Tante, Eh Mami," jawab Amira yang membuat bu Maria begitu sangat senang mendengarnya.


Amira dan bu Maria tersenyum bahagia lalu mereka semakin berpelukan erat sembari bu Maria mengusap-usap pelan pundak anak angkatnya itu.


...


Di saat anaknya sedang tertidur pulas, setelah menyusui Sarah pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan membuka laptop. Ia membuka toko onlinenya dan dilihatnya telah banyak orderan masuk. Karena selama mengalami morning sickness hingga melahirkan, ia berhenti untuk berjualan terlebih dahulu. Sarah melihat beberapa pesan masuk yang isinya meminta Sarah untuk men-stock barang-barang kembali.


Sarah sangat senang dan begitu antusias, ditambah lagi saat ini anak mereka sudah dua, tentunya akan membutuhkan biaya yang sangat besar. Bukan berarti uang dari Bryan itu kurang, bukan, tetapi Sarah hanya memikirkan untuk menabung demi masa depan anak-anaknya kelak. Padahal Bryan sendiri bukan orang susah, ibunya yang sadari dulu sudah berbisnis catering juga mempunyai tabungannya sendiri. Ditambah lagi dengan harta warisan peninggalan ayahnya yang sangat cukup untuk kehidupan mereka. Tetapi karena Sarah yang sudah terbiasa hidup mandiri, ia tidak bisa diam begitu saja di rumah dan tetap ingin menghasilkan uang sambil menjaga kedua anaknya itu.


Bu Sinta yang saat itu baru saja menidurkan Kayla, ia menghampiri Sarah di kamarnya dengan maksud untuk melihat Kiandra.


Tok … tok … tok


Bu Sinta mengetuk pintu kamar, Sarah bergegas membukakan pintu untuk ibu mertuanya itu.


"Ibu, masuk aja," kata Sarah.


"Nggak apa-apa Ibu di sini aja. Kamu udah makan belum? Adek Lagi tidur ya?" Tanya bu Sinta.

__ADS_1


"Adek baru aja tidur, Kakak juga udah tidur ya Bu?" Jawab Sarah dan bertanya balik.


"Iya, si Kakak baru aja tidur makanya Ibu ke sini," jawab bu Sinta. "Terus kamu udah makan?"


"Sarah tadi baru aja makan jam 10.00 dan sekarang baru jam 11.30 Bu, jadi masih kenyang," jawab Sarah.


"Oh … gitu. Tapi kamu memang harus banyak makan supaya ASI kamu banyak dan bagus. Kalau ASI kamu nggak banyak, kasian tuh si Adek ntar nggak puas nyusunya," kata Bu Sinta.


"Iya Bu, ntar lagi Sarah makan lagi kok," kata Sarah.


"Ya sudah. Kamu lagi ngerjain apa?" Tanya bu Sinta yang melihat laptop terbuka di atas nakas samping tempat tidur.


"Oh … ini Bu, Sarah lagi buka toko online Sarah dan ternyata banyak banget permintaan untuk Sarah stok barang lagi, setelah beberapa bulan Sarah vakum," kata Sarah.


"Oh gitu, jadi kamu mau melanjutkan lagi ya?" Tanya Bu Sinta.


"Rencananya sih iya. Ibu nggak keberatan kan? Tenang aja Bu, Sarah tetap sambil menjaga anak-anak kok," kata Sarah.


"Iya, itu semua terserah kamu. Yang penting kamu bisa membagi waktunya saja ya," jawab bu Sinta yang memang selalu mendukung apapun yang sudah menjadi keputusan Sarah, selama itu positif dan juga baik, dibandingkan Sarah harus bekerja di luar.


"Sama-sama Sayang, itu memang sudah kewajiban Ibu sebagai Ibu kamu untuk mendukung apapun yang terbaik buat kamu," Jawab bu Sinta tersenyum.


"Oh iya, Ibu udah makan?" Tanya Sarah.


"Belum, ini rencananya Ibu baru mau makan," jawab bu Sinta.


"Ya udah, Ibu makan aja dulu ya. Jangan sampai telat. Sarah nggak mau Ibu sakit," kata Sarah.


"Iya Sayang. Ya sudah kamu lanjutin lagi kerjaan kamu, Ibu mau makan dulu ya," kata bu Sinta.


"Ya Bu," jawab Sarah.


Lalu bu Sinta pun beranjak pergi meninggalkan kamar Sarah menuju ke ruang makan.


.....

__ADS_1


"Sayang kamu pulang kerjanya jam berapa?" Tanya Ara lewat telepon.


"Seperti biasa, Jam-jam 04.00 gitu," jawab Leo. Kenapa Sayang?" Tanyanya.


"Aku bisa titip cimol yang ada di jalan XX nggak?" Tanya Ara.


"Cimol di jalan XX?" Tanya Leo mengulangi ucapan Ara itu.


"Iya Sayang, yang ada di jalan XX. Cimol Pakde yang biasanya pakai gerobak itu loh," jelas Ara.


"Oh … itu, ya udah ntar aku beliin ya," jawab Leo.


"Tapi Sayang, cimol itu kan enak banget, biasanya cepat habis. Jadi kamu harus cepetan ya ke sana, aku nggak mau kalau sampai nggak kebagian. Ntar anak kamu ngences loh, katanya kamu nggak mau kalau anak kamu sampai ngences," kata Ara yang mulai menjual nama anaknya seperti biasa.


"Iya Sayang, aku usahain kerjaan ini cepat selesai, nanti aku langsung ke sana deh beliin cimol buat kamu ya," kata Leo.


"Makasih suamiku sayang," ucap Ara dengan manja.


"Iya sama-sama istriku sayang. Kamu udah makan belum?" Tanya Leo.


"Udah, cuma aku kurang selera, makanya aku titip cimol sama kamu. Aku lagi pengen banget tiba-tiba," jawab Ara.


"Iya, nanti aku beliin ya Sayang. Sabar ya," kata Leo.


"Iya Sayang. Kamu sendiri udah makan kan?" Tanya Ara.


"Udah, tadi aku barusan aja makan sama klien selesai meeting," jawab Leo.


"Makan bareng sama Dinda itu juga ya?" Tanya Ara.


"Enggak Sayang, kliennya kan meeting di sini, jadi aku ajakin makan siang di kantin aja kok. Lagian kliennya itu teman lama aku, jadi kita sekalian ngobrol-ngobrol gitulah," jawab Leo.


"Laki-laki kan?" Tanya Ara yang begitu sensitif, ia takut jika suaminya itu berhadapan atau berkomunikasi dengan perempuan lain.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2