
"Aku bangun duluan ya mau siapin sarapan buat kamu. Nanti kalau aku udah turun, kamu juga mandi terus kamu turun ke bawah, kita sarapan bareng sama Mami sama Papi," Kata Ara.
"Iya istriku sayang, ya udah kamu duluan aja gih!" kata Leo.
Akan tetapi saat Ara baru saja hendak turun dari tempat tidur, ia tersadar jika saat ini dirinya polos tidak menggunakan sehelai benangpun dan hanya ditutupi oleh selimut. Ara yang merasa malu itu pun segera menarik selimut untuk menutupi penuh tubuhnya yang membuat Leo tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Leo.
"Aku malu," jawab Ara lirih.
"Kenapa harus malu Sayang? Kita udah jadi suami istri, bahkan kita udah melakukannya. Bukan hanya kamu yang nggak pakai baju, tapi aku juga. Atau kamu mau lagi nggak sekalian kita olahraga pagi," kata Leo menggoda Ara.
"Ih … Sayang kamu apaan sih. Boleh nggak aku minta tolong ambilin baju aku tuh di bawah kamu," kata Ara sembari memuncungkan mulutnya ke arah bajunya itu.
Leo tersenyum gemas, lalu ia pun mengambilkan pakaian Ara dan menyerahkannya. Dengan cepat Ara memakai pakaiannya dan langsung saja turun dari tempat tidur.
Saat Ara hendak melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, ia merasakan sesuatu yang perih di bawah sana, "Akh," rintihnya.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Leo yang terlihat sangat khawatir.
"Sakit," jawab Ara.
"Duh … maaf ya Sayang, gara-gara aku kamu jadi sakit kayak gitu," ucap Leo.
"Nggak papa mungkin karena ini baru pertama kali," kata Ara.
"Itu dia Sayang, biar nggak terlalu sakit kayaknya harus berkali-kali deh. Tiap malam ya," kata Leo.
"Sayang, jangan mulai lagi deh," protes Ara.
"He … he … he …," cengir Leo.
"Aku bantu ya Sayang," kata Leo.
"Ga usah Sayang, aku bisa pelan-pelan kok," tolak Ara, ia berjalan perlahan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
Selesai mandi, Ara pun langsung turun dan membuatkan sarapan untuk Leo dan keluarganya.
"Anak Mami, pengantin baru rajin banget pagi-pagi udah di dapur," kata Bu Maria yang menghampiri Ara.
"Ya dong Mi, kan sekarang aku udah jadi seorang Istri, jadi aku harus bangun pagi siapin sarapan buat suami aku. Aku juga siapin sarapan buat Mami dan Papi loh," kata Ara.
"Oh ya? Wah … jarang-jarang banget nih anak Papi siapin sarapan buat Kita," kata pak Jackson yang saat itu kebetulan mendengar perbincangan istri dan anaknya itu.
"Ya dong Pi, ini kan spesial hari pertama Ara menjadi seorang istri," kata Ara.
"Ya, ya, Papi ikut senang. Jadi nggak sabar nih mau makan menu sarapan buatan kamu," kata pak Jackson.
"Sabar dong, Papi sama Mami tunggu aja di meja makan," kata Ara.
"Oke, oh ya suami kamu mana?" Tanya Bu Maria.
"Ada, lagi mandi Mi. Paling bentar lagi juga turun," kata Ara.
Saat itu bertepatan dengan Leo yang baru saja keluar dari lift dan menuju ke ruang makan.
"Oh iya," kata Ara.
"Leo sini duduk! Kita sarapan bareng. Spesial banget Ara yang nyiapin sarapan buat kita," kata Pak Jason.
"Pagi Pi, Pagi Mami," sapa Leo.
"Pagi juga Leo," balas bu Maria dan pak Jackson hampir bersamaan.
"Oh ya, berarti Leo beruntung banget ya bisa merasakan sarapan yang di buat oleh istri Leo untuk pertama kalinya," kata Leo.
"Iya dong," jawab Bu Maria. Sedangkan Ara hanya menanggapinya dengan senyuman.
Setelah membuatkan sarapan untuk keluarganya, Ara langsung saja menyajikannya di atas meja. Pagi ini Ara membuatkan menu sarapan sarapan sehat yaitu sandwich dan omelette telur untuk keluarganya tercintanya itu.
"Kamu cuma buat sarapan ini aja Sayang?" Tanya bu Maria.
__ADS_1
"Iya, memang kenapa Mi?" Tanya Ara balik.
"Ya ampun Sayang, harusnya itu kamu buat sarapan yang bergizi dong buat suami kamu," kata bu Maria.
"Iya, ini sih menu sarapan dietnya kamu," sambung Pak Jackson.
"Mami, Papi, nggak papa kok. Sandwich dan omelette ini kan juga bergizi, ditambah lagi dengan segelas susu," kata Leo yang tak ingin istrinya kecewa.
"Aduh-aduh, mentang-mentang istrinya yang buat, dibela terus ya," kata bu Maria.
"Ah Mami, kayak nggak pernah muda aja," kata Pak Jackson.
Suasana sarapan pagi di kediaman Pak Jackson pagi ini terasa begitu hangat karena canda tawa yang mereka lontarkan.
...
"Mas, tolong izinin aku buat balik lagi ke rumahnya Cinta dan Beni," pinta bu Tania yang tampak memohon.
"Tidak, pokoknya aku nggak izinin kamu pergi ke rumah mereka lagi," kata pak Hernandes.
"Mas tolong dong, aku cuma pengen dekat sama cucu aku aja," kata bu Tania.
"Cucu? Cucu apaan sih. Anak itu kan anaknya Cinta sama suaminya, kenapa kamu harus merasa kalau itu cucu kamu?" Kata pak Hernandes.
"Mas, aku kan udah bilang sama kamu kalau Cinta itu hamil anaknya Rolan, tapi Rolan nggak mau tanggung jawab sehingga Beni yang tulus mencintai Cinta itu mau menerimanya apa adanya. Ini semua salah aku yang kurang memperhatikan Rolan, aku nggak tau soal pergaulan Rolan. Kalau aku tau apalagi sampai dia menghamili Cinta, pasti aku akan paksa mereka nikah dan sekarang mereka udah bersama, aku juga nggak akan jauh dari cucu aku," kata bu Tania.
"Kamu yakin kalau itu anaknya Rolan? Kalau aku sih nggak yakin," kata Pak Hernandes menekankan kalimat ucapannya itu.
"Mas, maksud kamu apa sih? Ya nggak mungkin juga lah kalau Cinta itu mengada-ngada. Buktinya anak kamu sendiri mengakui kalau dia memang udah tidur sama Cinta meskipun itu nggak sengaja," kata bu Tania.
"Kenapa dia bisa terjebak bersama Rolan di klub itu Mi? Kamu bisa simpulkan berarti Cinta itu memang perempuan liar, makanya dia bisa berada di klub sampai tidur lagi sama Rolan," kata pak Hernandes yang terus saja memojokkan Cinta.
"Mas, aku benar-benar nggak nyangka ya. Kok kamu bisa berpikiran seperti itu, terus kalau kamu menganggap Cinta itu wanita liar, gimana dengan anak kamu? Kenapa waktu itu dia bisa berada di klub? Kenapa dia sampai mabuk parah dan enggak sadar udah nidurin Cinta?" Tanya bu Tania dengan suara meninggi dan sorotan matanya yang tajam.
"Lihat kelakuan kamu sekarang, kamu udah berani bentak-bentak aku hanya gara-gara belain wanita itu. Bisa saja kalau itu memang anaknya bersama Beni, Arka bilang sendiri kan kalau dulu Arka putus sama perempuan itu gara-gara dia selingkuh sama sahabatnya sendiri, Beni. Mungkin waktu itu kebetulan aja dia sedang ke klub dan nggak sengaja ketemu sama Rolan. Karena dia tau kalau Rolan itu anak orang kaya, jadi dia ngaku-ngaku kalau anak yang dikandungnya itu anak Rolan, ya pasti perempuan itu memang sengaja menjebak Rolan. Padahal itu memang anak Beni, kalau nggak, nggak mungkin lah Beni bisa seikhlas itu menerima anaknya Rolan menjadi anaknya sendiri," kata pak Hernandes yang membuat emosi Bu Tania semakin memuncak dan berapi-api.
__ADS_1
...****************...