Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_225


__ADS_3

"Ya ampun Nak, kamu buat salah apa lagi sih sama Ara, segitu dalamnya cinta kamu buat Ara sampai kamu sama sekali tidak bisa melupakan dia. Aku tidak bisa tinggal diam, mungkin lebih baik jika aku menuruti kata Mas Hernan untuk menjodohkan Rolan dengan anak rekan bisnisnya. Ya aku yakin jika Rolan menikah, dia pasti akan segera melupakan Ara," gumam bu Tania sembari menatap wajah anaknya dengan kesedihan yang mendalam.


Setelah membuka sepatu dan menyelimuti Rolan yang sudah tertidur, bu Tania pun keluar dari kamar Rolan. Saat di kamarnya, bu Tania meraih ponselnya di atas meja lalu menghubungi suaminya yang masih berada di luar Negeri.


"Halo Mi, ada apa...?" Tanya pak Hernandes dari sebrang telepon.


"Halo Mas, aku tidak mengganggu kan?" Tanya bu Tania pula.


"Ya tidak lah Sayang, ada apa?" Tanya pak Hernandes lagi.


"Mas kapan kamu akan pulang...? Setelah aku pikir-pikir apa yang kamu katakan untuk menjodohkan Rolan dengan anak rekan bisnis kamu itu ide yang bagus, aku setuju Mas," kata bu Tania.


"Kamu serius...? Buat masalah apa lagi anak itu? Kenapa kamu tiba-tiba setuju, bukannya kamu yang bersikukuh menolaknya, kamu bilang tidak mau menjadikan anak sebagai alat untuk bisnis. Padahal bukan itu juga tujuan Mas," kata pak Hernandes.


"Iya Mas, maafkan aku ya. Aku tahu kok maksud Mas juga buat kebaikan Rolan," ucap bu Tania.


"Ya sudah, nanti kalau Mas pulang kita atur pertemuan sama keluarga rekan bisnis Mas itu ya. Sekarang sudah malam, sebaiknya kita tidur," kata pak Hernandes.


"Ya Mas, selamat malam Pi," ucap bu Tania.


"Selamat malam juga Mi," balas pak Hernandes, lalu panggilan telepon terputus.


"Maafkan Mami Rolan, tapi ini yang terbaik buat kamu," gumam bu Tania lalu memejamkan matanya hingga terlelap


...


Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu ruang kerja Ara.


"Masuk!" ucap Ara.


Seno membuka pintu lalu masuk ke dalam, ia membawa berkas yang harus ditandatangani oleh Ara.


"Permisi Kak Ara," ucap Seno.


"Ya Seno, ada apa...?" Tanya Ara.

__ADS_1


"Ini ada beberapa berkas yang harus ditandatangani Kak," jawab Seno sembari menyerahkan berkas tersebut kepada Ara.


Ara melihat sekilas berkas tersebut, "Nanti saya periksa dulu ya, setengah jam lagi kamu boleh ambil," katanya.


"Baiklah Kak, kalau gitu saya permisi dulu ya," pamit Seno. Akan tetapi saat itu langkahnya terhenti dan kembali menghampiri Ara.


"Ada apa lagi Sen...?" Tanya Ara.


"Kak, aku dengar dari Om Haris katanya Kakak mau resign ya...? Kenapa Kak...? Bukan karena muak dengan Seno kan Kak...?" Tanya Seno.


"Apaan sih kamu, kamu pikir saya nih bocil apa hanya gara-gara kamu nyebelin terus saya mengorbankan pekerjaan saya dengan resign begitu aja," bantah Ara.


"Jadi gara-gara apa Kak...?" Tanya Seno yang penasaran.


"Kayaknya Om Haris gak kasih tau ke kamu tentang alasannya ya? Kenapa kamu gak nanya..?" Tanya Ara.


"He.. He.. He.. Udah sih Kak, tapi kata Om Haris suruh tanya langsung ke Kak Ara," jawab Seno.


"Oh... Belum saatnya sekarang kamu tau, kamu boleh keluar sekarang," kata Ara.


"Tapi Kak...." Ucapan Seno terputus.


"Ada Kak," jawab Seno.


"Kalau gitu kamu kerja sekarang, Saya juga gak bisa kerja kalau kamu di sini dan ngajak saya ngobrol terus," kata Ara.


"Baik Kak, saya permisi ya," pamit Seno.


"Hm," jawab Ara.


Lalu Seno keluar dari ruang kerja Ara dan kembali ke tempat seharusnya ia berada.


"Mau tau aja," gumam Ara tersenyum, lalu kembali dengan kesibukannya.


...

__ADS_1


"Syukurlah rapat berjalan lancar, kita berhasil meyakinkan para pemegang saham tentang kesalahpahaman itu, terimakasih karena kamu telah berusaha keras Karina," ucap Leo.


"Sama-sama Pak. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya, saya minta maaf ya Pak atas kesalahan yang udah saya lakukan hampir membuat perusahaan Bapak bangkrut," ucap Karina.


"Hm.... Udahlah, yang penting jangan kamu ulangi lagi. Kamu harus tetap fokus sama pekerjaan kamu, kalau kamu sakit atau lagi ada masalah, lebih baik kamu izin untuk beristirahat di rumah," kata Leo.


"Iya Pak terimakasih, saya janji tidak akan terjadi lagi," kata Karina.


Leo dan Karina tersenyum, Leo sadar bahwa sikapnya terhadap Karina terakhir kali sangat keterlaluan, ia hanya takut jika berbuat baik maka Karina akan salah mengartikannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Karina yang sangat berpotensi itu sangat berpengaruh pada kemajuan pesat perusahaannya saat ini.


"Kalau gitu saya permisi ya Pak," pamit Karina.


"Karin, ada yang mau aku sampein ke kamu," kata Leo.


Deg, jantung Karin berdetak tidak karuan saat ini. Leo yang biasanya berbicara dingin, sekarang mendadak menjadi lembut.


"Ada apa Yo..?" Tanya Karina yang berusaha bersikap tenang dan akrab.


"Aku minta maaf ya kalau selama ini aku selalu bersikap dan berbicara kasar sama kamu. Jujur aku sangat tidak menyukai sikap kamu yang selalu berusaha untuk mengganggu hubungan aku dan Ara, aku terlalu takut buat Ara sakit hati dan ninggalin aku. Tapi untuk masalah pekerjaan, kamu sangat berpotensi dan banyak berpengaruh terhadap majunya perusahaan ini, makasih ya Karin," ucap Leo.


"Aku paham kok Yo, aku yang salah. Aku sendiri yang menyebabkan kamu menjauh dari aku, aku janji Yo gak akan pernah lagi ganggu hubungan kamu sama Ara. Hubungan kita hanya sebatas Bos dan pegawai, aku janji akan bekerja dengan baik sampai masa kontrak kerja aku berakhir," ucap Karina pula.


"Hm, aku akan mencoba percaya sama kamu. Tolong jangan hancurkan kepercayaan aku lagi Karin," kata Leo.


"Iya Leo, makasih sekali lagi. Aku duluan ya, hasil rapat tadi akan aku kirim ke alamat surel kamu," kata Karin.


"Iya, silahkan!" kata Leo.


Karina meninggalkan ruang rapat dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Heh, apa-apaan sih. Selalu aja bawa-bawa kebucinannya dengan perempuan itu," umpatnya. "Tapi baguslah, akhirnya aku bisa mendapatkan kepercayaan Leo lagi, ini awal yang baik, aku yakin sebentar lagi aku juga akan mendapatkan hati Leo.


Karina tersenyum puas dan tampak bersemangat mengerjakan tugasnya, tanpa ia sadari ternyata dari tadi ada ada seorang pria yang memperhatikannya.


"Bos, Karina baru aja keluar dari ruang rapat. Kayaknya suasana hatinya lagi baik. Saya liat dia senyum-senyum sendiri dan lebih bersemangat mengerjakan tugasnya," lapor pria itu kepada seseorang melalui telepon.

__ADS_1


"Kurang ajar, bisa-bisanya dia bahagia di atas penderitaan gue, terus awasi dia dan laporkan apapun itu sama gue," ucap seseorang dari sebrang telepon.


...****************...


__ADS_2