Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-310


__ADS_3

"Senyum-senyum mulu, yuk ntar kemalaman lagi," kata Ara.


"Emangnya nggak boleh apa senyum? Kan aku bahagia karena ketemu sama istri aku," kata Leo.


"Iya, iya, boleh. Aku juga senang bisa dekat sama suami aku," kata Ara pula.


Lalu mereka berdua pun beranjak dari tempat duduk dan melangkahkan kaki keluar ruangan. Mereka langsung saja menaiki mobil dan melaju menuju ke rumah sakit.


Sementara saat di rumah sakit tampak bu Maria yang saat ini sedang menemani sahabatnya di dalam ruang ICU. Sedangkan Amira sedang berada di luar ruangan bersama dengan Seno. Saat bu Maria sedang menatap wajah sahabatnya itu, tiba-tiba saja ia melihat tangan bu Laras yang bergerak. Bu Maria melihat sekali lagi untuk memastikan dan kembali lagi tangan bu Laras itu bergerak. Ia pun segera saja keluar untuk memberitahu kepada Amira dan Seno, Seno pun bergegas memanggil Dokter.


Tidak berapa lama kemudian, Dokter tiba dan langsung memeriksa keadaan pasien. Dan saat itu juga dengan disaksikan oleh Amira, Bu Maria dan Seno, tampak bu Laras yang perlahan membuka matanya. Dia sangat senang karena dapat melihat Amira saat bangun, ditambah lagi ia juga melihat sahabat lama yang sudah lama tidak dijumpainya yaitu bu Maria.


Bu Maria tak kuasa menahan tangisnya, ia begitu terharu bahagia karena akhirnya dapat melihat sahabatnya itu membuka mata. Langsung saja Amira dan bu Maria secara bersamaan memeluk Bu Laras.


"Ibu … ," ucap Amira dengan isak tangisannya.


"Laras, akhirnya kamu bangun juga," ucap bu Maria pula.


Sedangkan Seno hanya dapat berdiri mematung melihat ketiga wanita yang saat ini sedang berpelukan. Bukannya ia tak merasa sedih, tentu saja ia juga ikut merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh mereka. Tetapi biarlah untuk saat ini dia hanya melihat kehangatan yang ada di depan matanya itu.


"Ibu … akhirnya Ibu bangun juga, aku senang banget Bu," kata Amira dan melerai pelukan mereka. Begitu juga dengan pelukan bu Maria yang telah dilepas.


"Amira, maafin Ibu ya udah buat kamu khawatir. Tapi Ibu nggak papa kok," ucap Bu Laras secara perlahan.


Kini giliran bu Maria yang akan berbicara dengan bu Laras, ia menatap wajah sahabatnya itu, begitupun sebaliknya.


"Laras, kamu masih ingat sama aku?" Tanya bu Maria.

__ADS_1


"Maria … gimana mungkin aku bisa lupa sama kamu," kata bu Laras.


Amira mundur selangkah dan sejajar dengan Seno, ia memberikan kesempatan untuk kedua sahabat lama itu berbicara dari hati ke hati. Lalu Seno pun mengajak Amira duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruang ICU.


"Iya Laras, aku Maria. Aku udah lama banget nyariin kamu. Aku nggak nyangka kalau kita akan ketemu di sini," ucap Bu Maria.


"Maria … ," ucap bu Laras dengan isak tangisnya. Ia pun memberi gestur agar bu Maria memeluknya kembali, bu Maria dengan sangat senang memeluk sahabatnya itu. Lalu mereka pun melerai pelukan tersebut saat di rasa bu Laras yang kesulitan bernafas karena pelukan erat yang bu Maria berikan.


"Ma-maaf aku udah buat kamu susah nafas," ucap bu Maria.


"Gak apa-apa Mar. Mar gimana bisa kamu ada di sini?" Tanya bu Laras.


"Aku yang harusnya tanya sama kamu, kenapa kamu bisa ada di rumah sakit ini? Apa yang terjadi sama kamu Laras?" Tanya bu Maria.


"Aku nggak papa Mar, aku cuma kecapean aja. Kamu kan tau sendiri kalau jantung aku dari dulu itu lemah," jawab bu Laras.


"Sekarang kamu jawab pertanyaan aku, kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya bu Laras sekali lagi.


"Ras, aku ini ibunya Ara. Aku juga udah dekat sama anak kamu, Amira," jawab bu Maria.


"Jadi ibunya nak Ara yang selalu diceritakan sama Amira itu kamu? Berarti kamu orang yang udah baik sama keluarga aku?" Tanya bu Laras.


"Memangnya Amira cerita apa aja sama kamu?" Tanya bu Maria.


"Amira bilang kalau Ara itu adalah bos yang baik ya seperti yang aku tau juga. Bahkan Ara dan Amira itu sangat dekat seperti adik beradik. Amira juga bilang kalau bos-nya itu punya ibu yang sangat baik sama sepertinya, sekarang aku percaya setelah aku melihat kamu. Karena kamu memang sahabat aku yang yang paling terbaik Mar. Maaf karena dulu aku tiba-tiba menghilang, aku pergi karena keinginan orang tua aku yang akhirnya menjodohkan aku dengan ayahnya Amira, tapi-" ucapan bu Laras terhenti karena bu Maria menyela ucapannya begitu saja.


"Laras, udah ya. Aku udah tau masalah yang kamu hadapi, Amira sudah cerita semuanya bahkan Ara juga melihatnya sendiri. Udahlah, itu semua udah berlalu, yang penting sekarang kamu jalani hidup kamu dengan baik bersama Amira. Sekarang juga ada aku dan Ara. Kalau kamu mau, kalian boleh pindah ke rumah aku. Aku akan menjaga kamu dan Amira," kata bu Maria.

__ADS_1


Bu Laras pun menggelengkan kepalanya, bukan ia tidak mau untuk tinggal bersama dengan sahabatnya, tetapi ia enggan jika harus menyusahkan sahabat lamanya seperti yang selalu ia lakukan dulu.


"Enggak Mar, aku nggak mau menyusahkan kamu," tolak bu Laras.


"Kamu nggak pernah nyusahin aku, justru dulu kamu udah banyak berbuat baik sama keluarga aku. Kamu tau gak, Mama aku sebelum pergi nanyain kamu," kata bu Maria.


"Tante Inggit udah meninggal?" Tanya bu Laras.


"Udah lama, bahkan saat aku belum menikah dengan papanya Ara. Sedangkan Papa aku meninggal saat Ara berumur 5 tahun," jawab bu Maria.


"Aku turut berduka cita ya Mar. Ayah dan ibu aku juga udah nggak ada, mereka kecelakaan dan secara bersamaan meninggalkan aku saat hamil Amira," ucap bu Laras yang terlihat sangat sedih.


Mereka berdua kembali berpelukan menguatkan satu sama lain.


...


Saat itu Ara dan Leo telah tiba di rumah sakit, mereka pun melihat pemandangan di depan mata dengan mata yang berkaca-kaca. Ara sangat terharu melihat maminya yang begitu sangat bahagia bertemu dengan sahabat lamanya, terlihat dari pelukan hangat yang terjadi antara dua sahabat itu.


Ara tadinya ingin menghampiri mereka, akan tetapi Leo menghalanginya, karena menurut Leo biarlah dulu kita memberi kesempatan untuk dua sahabat itu melepaskan rasa rindu karena telah lama tidak bertemu.


"Amira, aku ikut senang karena Ibu kamu udah sadar. Mudah-mudahan Ibu kamu cepat pulih ya seperti sedia kala," ucap Ara.


"Makasih ya Mbak Ara, aku berhutang budi dan uang juga sama Mbak Ara dan Tante Maria," ucap Amira. "Juga sama kalian berdua yang udah banyak membantu dan mendoakan Ibu aku," katanya lagi kepada Leo dan Seno.


"Mir, kamu nggak usah ngomong kayak gitu lagi ya. Kamu nggak usah sungkan sama aku, aku kan udah bilang beberapa kali, kalau aku udah anggap kamu kayak adik aku sendiri," kata Ara.


Amira begitu sangat terharu mendengar ucapan Ara, ia pun lalu langsung saja memeluk Ara saat itu juga dengan tetesan air matanya yang terus mengalir tiada henti.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2