
"kamu mau ngapain sih nelpon aku, ganggu tau gak"ucap Sarah saat Bryan menelpon nya.
"Sarah jangan galak-galak dong, kamu lagi dimana...? udah tidur ya...? "tanya Bryan.
"bukan urusan kamu"jawab Sarah.
"iya deh maaf, tapi ada hal penting yang mau aku sampaikan, maka nya aku nelpon kamu"ucap Bryan.
"langsung aja kasih tau karena aku lagi sibuk banget sekarang"perintah Sarah.
"cieh ada yang gak sabaran yang mau tau"ledek Bryan.
"aku matiin ni telpon nya"ucap Sarah kesal.
"iya.. iya, Ibu aku mau ketemu kamu besok, kamu ada waktu...?"tanya Bryan.
"ketemu untuk apa..?"tanya Sarah balik.
"Sarah aku tahu aku udah kecewain kamu, kamu boleh kok marah dan hukum aku, tapi tolong jangan hukum Ibu aku juga, Ibu aku gak salah, Ibu aku baik kan sama kamu"pinta Bryan.
Sarah berpikir bahwa yang di katakan Bryan ada benar nya.
"oke, besok aku kabarin ya jam berapa aku ada waktu kosong"ucap Sarah.
"nah gitu dong, aku tunggu ya besok"ucap Bryan. kegirangan.
"iya, udah ya aku lagi sibuk"ucap Sarah dan langsung memutuskan panggilan nya.
"Iya Sar" ucapan Bryan terputus.
"hm.... gak papa deh yang penting ketemu Sarah besok"gumam Bryan kegirangan.
"Buk aku ke kamar dulu ya"ucap Bryan yang melihat Mama nya di ruang keluarga sedang menonton TV.
"gimana besok...? "tanya Ibu Bryan.
"aman Buk"jawab bryan tersenyum.
"hm... kamu ini, ya sudah sana ke kamar"ucap Ibu Bryan.
"Selamat malam Buk"ucap Bryan.
"malam sayang"balas Ibu Bryan.
...
"siapa Sar yang nelpon...? "tanya Nadia.
__ADS_1
"biasa orang gila"jawab Sarah.
"owhh..... "gumam Nadia.
Lalu Ara pun datang beserta Dokter dan Suster yang akan melakukan tranfusi darah langsung untuk Rio.
"Ara bukan nya kamu paling takut jarum suntik...? "tanya Sarah.
"iya Ra, apa Mami Papi kamu dan Leo udah tau..? kamu pikirin lagi ya "ucap Nadia.
"Sarah ,Nadia udah gak ada waktu lagi. Rio itu dulu sahabat aku. Sekarang aku lakuin ini untuk kamu Nad, dan sebagai rasa simpatik menolong manusia wajar kan... "jelas Ara kepada kedua sahabat nya.
"ya udah, semoga baik-baik aja ya Ra"ucap Sarah.
"semangat Ara"ucap Nadia.
Ara tersenyum mendengar ucapan dari kedua sahabat nya.
"Mbak Ara ayo segera masuk"perintah Suster.
Ara segera masuk dan melakukan transfusi darah, sementara itu Nadia dan Sarah menunggu dengan rasa khawatir hingga tranfusi darah selesai.
Setelah itu Ara pun pulang di antar Sarah karena keadaan nya yang sedikit lemah, sementara Nadia tetap di rumah sakit menemani Rio yang ke esokan pagi nya akan menjalani operasi.
...
"aku dari rumah sakit sayang, maaf ya udah buat kamu khawatir dan gak bilang sama kamu"ucap Ara.
"iya tapi lain kali jangan gini lagi dong,aku khawatir dan bingung mau cari kamu kemana. Kamu ngapain ke rumah sakit...?"tanya Leo lagi.
Ara menceritakan semua kepada Leo hingga membuat Leo marah.
"bisa-bisa nya ya kamu donorin darah kamu buat Rio dan kamu gak bilang apa-apa ke aku"ucap Leo.
"gimana cara nya aku mau bilang ke kamu, apa aku harus pulang dulu, udah gak sempat Leo. Lagian aku udah jelasin ke kamu juga kan "ucap Ara pula .
"Tapi kan Ra"ucapan Leo terputus karena Ara segera memotong nya.
"udah ya Leo, aku lagi gak mau berdebat. Toh semua udah terjadi kan, sekarang aku mau istirahat. Besok mumpung weekend aku mau ke Rs lagi nemenin Nadia"jelas Ara.
"mau nemenin Nadia atau khawatir sama Rio"gumam Leo.
Akan tetapi Leo yang melihat Ara sangat kelelahan dan wajah nya pucat itu merasa kasihan dan membiarkan Ara untuk beristirahat.
"Ara... Ara kamu masih aja peduli sama Rio dan buat aku cemburu"gumam Leo dalam hati.
Leo pun berbaring dan tidur di samping Ara tanpa bisa menyentuh nya.
__ADS_1
Hingga keesokan hari nya saat bangun tidur Ara merasa sakit kepala dan tubuh nya tidak fit.
"Pagi sayang.... "sapa Leo.
"Pagi... "balas Ara sambil memegangi kepala nya.
"sayang kamu kenapa, muka kamu pucat lho, pasti gara-gara donorin darah tadi malam,kamu sih ada-ada aja"ucap Leo.
"sayang udah ya jangan marah-marah, aku minta bibik anterin sarapan dan Obat aja ke kamar, terus aku sarapan dan minum obat pasti langsung sembuh kok. Kepala aku agak pusing aja sayang"jelas Ara.
"ya udah cepetan telpon"perintah Leo.
Ara segera menelpon ke bawah dan yang mengangkat telpon adalah Mami nya sehingga Mami lah yang mengantar sarapan sekaligus untuk melihat kondisi Ara.
"ohh jadi kamu donorin darah buat Rio, pantes aja kamu pusing. Padahal kondisi kamu itu gak terlalu fit sayang, kamu kecapean kerja"ucap Mami Ara setelah mendengar cerita dari Ara.
"gak papa Mam, selesai sarapan Ara minum obat terus istirahat lagi bentar pasti ilang kok pusing nya"ucap Ara.
"ya udah kamu istirahat lagi ya sayang,semoga cepat sembuh sayang"ucap Mami mencium kening Ara lalu keluar dari kamar Ara.
...
"Nadia maaf ya aku baru datang, Ara tadi ngabarin kalau dia gak bisa datang soal nya lagi gak fit"ucap Sarah saat tiba di rumah sakit.
"iya aku juga udah di kabarin, kasian Ara pasti gara-gara donorin darah tadi malam buat Rio"ucap Nadia.
"iya udah gak papa, yang penting kita doain Ara gak kenapa-napa dan cepat sembuh"ucap Sarah lagi.
"iya Sar"jawab Nadia mengangguk.
"terus Rio gimana...? apa orang tua nya udah sampai..? "tanya Sarah.
"orang tua Rio gak bisa kesini Sar, malahan mereka minta tolong aku urus semua nya"jelas Nadia.
"kenapa seperti itu...? "tanya Sarah lagi.
"entah lah Sar, yang jelas aku udah tanda tangan persetujuan operasi dan Rio akan segera di operasi"jawab Nadia.
Berapa menit kemudian Rio yang yang baru sadarkan diri keluar dari IGD bersama dokter dan juga suster ,Nadia segera menghampiri Rio.
"Rio kamu pasti bisa lewatin ini semua, kamu harus semangat"ucap Nadia menangis dan memegang tangan Rio.
"kamu gak boleh nangis, tunggu aku ya"pinta Rio.
Lalu Suster pun kembali membawa Rio masuk ke ruang operasi dan operasi pun di mulai. Sementara Nadia dan Sarah menunggu di luar ruang operasi. Tak henti-henti nya Nadia menangis dan berdoa agar operasi Rio berhasil, sedangkan Sarah selalu di samping Nadia dan menenangkan Nadia.
***
__ADS_1