Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-251


__ADS_3

Sherin dan Arka melepaskan pelukan mereka dan kini beralih berpelukan.


"Arka, kamu kenapa Sayang?" Tanya Sherin.


"Kenapa kamu bisa ada di sini? Maaf kamu harus liat aku dalam kondisi seperti ini," ucap Arka.


"Gak papa, justru aku di sini untuk menemani kamu. Aku harap kamu bisa lebih tenang karena kehadiran aku," ucap Sherin. "Kamu dengar ya, aku akan ada di sini untuk menemani kamu," kata Sherin sembari menatap mata Arka.


Arka tersenyum, ia menatap kedua bola mata Sherin yang begitu Indah dan teduh, ia merasa lebih tenang saat ini lalu kembali memeluk erat kekasihnya itu.


"Makasih ya Sayang karena datang membawa ketenangan dalam hati aku," ucap Arka. Sherin hanya tersenyum dan membalas pelukan Arka dengan hangat.


"Mana mungkin aku tega mengorbankan gadis yang aku cintai dan sangat mencintaiku hanya karena kepentingan pribadi," gumam Arka dalam hati.


*****


"Mir, mumpung hari ini kita pulang cepat, kamu mau gak temenin saya makan dulu?" Tanya Ara.


"Maksudnya Bu? Ibu minta temenin saya makan dimana?" Tanya Amira pula.


"Saya mau ajak kamu makan di luar, pengen aja sekalian kita ngobrol-ngobrol gitu," kata Ara.


"Oh ... gitu, iya Bu saya mau," jawab Amira walaupun di dalam hati sebenarnya ia merasa segan, akan tetapi dia juga tidak enak jika harus menolak permintaan Bos-nya itu.


"Ya udah, kalau gitu kita pergi sekarang ya. Motor kamu titipin sama satpam kantor aja, kita pergi naik mobil saya," kata Ara.


"Tapi Bu-" ucapan Amira terhenti.


"Gak ada tapi-tapian, saya mau traktir kamu makan, gak boleh nolak rezeki," kata Ara menyela pembicaraan Amira begitu saja.


"Bukan menolak Bu, tapi saya-" ucapan Amira terhenti kembali karena lagi-lagi Ara memotong ucapannya.

__ADS_1


"Udah ah, yuk," ajak Ara beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi, Amira pun dengan ragu mengikuti Ara dan masuk ke dalam mobilnya.


Sepanjang perjalanan menuju ke restauran, Amira hanya terdiam, Ara menganggap jika Amira mungkin hanya segan makanya dia tidak banyak bicara. Ara tidak tahu jika sebenarnya Amira sedang menahan rasa mualnya dan ingin muntah.


Ara memberhentikan mobilnya pada sebuah restauran mewah, restauran tersebut terkenal dengan makanannya yang enak dan juga mahal, wajar saja jika restauran ini menjadi tempat favorit orang kaya. Tapi tidak bagi Amira, ia merasa sedikit syok karena Ara Mengajaknya makan di restauran ini. Kondisi keluarga Amira yang kurang mampu bahkan kuliah pun mengandalkan beasiswa membuatnya tidak pernah merasakan makan di tempat elit seperti ini.


"Bu, kita mau makan di sini?" Tanya Amira.


"Ehm Mir, bisa gak kalau di luar kamu jangan panggil aku Ibu, kesannya kayak udah tua banget deh aku. Panggil nama aja gak papa kok," kata Ara.


"Gak bisa dong Bu, masak iya saya panggil Bu Ara pakai nama," tolak Amira.


"Ya udah kalau gitu terserah kamu aja mau panggil apa, yang penting jangan Ibu," kata Ara.


"Kalau Mbak aja boleh?" Tanya Amira.


"Boleh, ya udah yuk kita masuk," ajak Ara.


Kini Ara dan Amira sedang berada di dalam restauran, Ara memesan makanan yang enak-enak untuk mereka berdua karena Amira tidak mengerti tentang menu makanan yang ada di restauran bintang lima, jika biasanya ia hanya memesan nasi rames atau nasi padang, kini ia bingung harus memesan makanan apa.


"Mir, kenapa diam aja? Ayo makan, atau kamu gak suka ya sama makanannya?" Tanya Ara.


"Belum pernah coba sih Mbak, tapi udah pasti aku bakalan suka, pasti ini enak banget," jawab Amira.


"Ya udah kalau gitu dimakan dong buruan, kalau udah dingin gak enak loh," ujar Ara.


Lalu Amira pun segera menyendok makanan yang ingin di makannya kedalam piring dan segera melahapnya. Amira sangat menikmati makanan tersebut sampai ia pun merasa kekenyangan.


"Mbak Ara aku minta maaf ya, karena terlalu menikmati makanan lezat ini, aku sampai lupa udah nambah berapa kali," ucap Amira.


"Gak papa kok Mir, aku malah senang liat kamu makan dengan lahap kayak tadi. Berarti aku gak salah ajak kamu makan di sini, karena kamu suka sama makanannya," kata Ara.

__ADS_1


"Siapa juga yang gak suka makanan seenak ini Mbak, jujur ini pertama kalinya aku makan di restauran Mbak," ungkap Amira.


"Oh ya, seriusan ...?" Tanya Ara.


"Serius Mbak, malu-maluin banget ya, tapi memang ini kenyataannya, sayang uangnya Mbak. Jangankan buat makan di restauran mahal, bisa makan hari-hari aja aku udah bersyukur Mbak," jawab Amira.


"Kasian banget Amira, ternyata dia dari keluarga yang gak mampu," gumam Ara dalam hati.


"Siapa bilang malu-maluin, gak lah. Kalau gitu aku bakalan sering-sering ajak kamu makan kayak gini," kata Ara.


"Eh jangan dong Mbak, aku yang jadinya gak enak," tolak Amira.


"Gak usah ngerasa gak enak Mir, anggap aja ini bonus buat kamu karena kamu udah kerja sama aku dari awal," kata Ara.


"Tapi yang kerja sama Mbak Ara dari awal kan bukan hanya aku," kata Amira.


"Iya, aku gak lupa kok sama mereka semua. Tapi kamu yang selalu setia dampingi aku, lembur bareng aku, pokoknya kamu gak boleh nolak ya dengan alasan segan sama aku," kata Ara.


"Makasih ya Mbak, aku gak nyangka dan bersyukur banget bisa kenal dengan orang sebaik Mbak Ara," ucap Amira menundukkan kepalanya. Lagi-lagi ia merasa sangat terharu atas perlakuan baik dari Bos-nya itu.


"Udah dong jangan sedih gitu, makasih juga ya kamu udah mau temenin aku makan sebelum pulang," ucap Ara.


"Aku yang harusnya makasih Mbak udah ditraktir sama Mbak," ucap Amira pula.


"Iya sama-sama, oh ya aku boleh nanya gak?" ucap Ara.


"Boleh dong Mbak, tanya aja Mbak," kata Amira.


"Kamu udah punya pacar? Maaf ya kalau aku nanyanya soal pribadi, kalau kamu gak mau jawab gak papa kok," Ucap Ara.


"Gak papa kok Mbak. Aku gak punya pacar Mbak, dulu aku pernah pacaran, tapi dia putusin aku karena aku miskin dan berpaling sama wanita yang kaya," ungkap Amira.

__ADS_1


"Maaf ya Mir aku udah ingatin kamu sama luka lama, jangan sedih ya, aku yakin kamu bisa dapetin yang lebih baik dari pria itu," ucap Ara, ia merasa bersalah karena telah membuat Amira merasa sedih.


...****************...


__ADS_2