
Terlihat Ara sedang menangis dan menolak saat Suster memintanya untuk keluar dari ruang ICU Agar mereka dapat segera menangani Nadia. Leo pun segera menghampiri Ara dan mengajaknya keluar.
"Sayang, ayo kita keluar," ajak Leo.
"Aku gak mau, aku mau liat Nadia," tolak Ara dengan air mata yang bercucuran.
"Sayang, gak boleh kayak gitu, kasian Nadia. Dia harus segera ditangani," kata Leo sembari menuntun Ara agar segera keluar.
"Sorry, please leave right now!"
"Maaf, mohon keluar sekarang juga!" ucap Suster.
"Yes Sister, i'm sorry,"
"Iya Suster, saya minta maaf," ucap Leo.
Dengan langkah kaki yang sangat berat, Ara pun segera pergi meninggalkan ruang ICU. Kini mereka semua dapat melihat Nadia yang sedang ditangani melalui kaca. Bu Jasmine dan Rio saling menangis dan berpelukan juga memberikan kekuatan. Sedangkan Ara tidak henti-hentinya menangis dalam pelukan Leo.
Dokter berusaha sekuat mungkin, segala upaya dilakukan untuk menyelamatkan Nadia. Akan tetapi sekuat apapun Dokter berusaha, jika Tuhan sudah berkehendak tidak akan ada yang bisa menentangnya.
"Nadia ...," teriak Ara yang begitu histeris saat melihat Dokter melepas seluruh alat bantu yang ada pada tubuh Nadia.
Leo juga tidak bisa menahan kesedihannya, ia ikut menangis meskipun tidak sehisteris Ara dan Rio. Tubuh bu Jasmine lemah terasa hendak pingsan, air matanya juga bercucuran meskipun ia sudah berusaha ikhlas untuk menerimanya.
Dokter keluar dari ruang ICU dan memberitahu jika Nadia sudah menutup mata untuk selamanya. Langsung saja mereka semua masuk untuk melihat Nadia.
"Sayang, bangun Sayang, kamu jangan kayak gini dong. Bukannya kamu udah janji ya mau bertahan, kita juga akan segera menikah sayang, kita akan honeymoon dan jalan-jalan ke Taman Vondel Amsterdam seperti yang kamu mau. Bangun dong Sayang, masih banyak impian kita yang belum tercapai. Aku belum siap kehilangan kamu Nadia," ucap Rio yang begitu histeris dan terus mengguncang tubuh Nadia.
"Rio, loe gak boleh kayak gitu, sama aja loe nyakitin Nadia Rio. Belajar buat ikhlas, kita di sini juga merasa sedih kehilangan Nadia, terutama Tante Jasmine yang ibunya Nadia. Tapi loe liat Tante Jasmine tetap berusaha untuk tegar," kata Leo dengan sedikit membentak agar Rio sadar.
"Loe bisa ngomong kayak gitu karena bukan Ara yang meninggal sekarang ini, gimana kalau loe ada di posisi gue, loe gak akan tau rasanya Leo," hardik Rio.
Bug, sebuah pukulan kecil mendarat di pipi Leo hingga meninggalkan bekas memar. Rio pun dengan cepat membalas dan membuat sudut bibir Leo terluka.
__ADS_1
"Leo, Rio, stop!" kalian apa-apaan sih, malah ribut di saat keadaan lagi kayak gini, ada otak gak sih kalian itu," teriak Ara. Marah bercampur kesedihan membuat emosinya kini sangat tidak stabil.
Rio bersimpuh lalu beralih memukul lantai dengan kepalan kedua telapak tangannya hingga mengeluarkan dar** segar yang bercucuran.
"Rio udah Rio, kamu gak perlu seperti ini," ucap bu Jasmine yang menunduk lalu memeluk Rio.
"tante, Nadia Tante," ucap Rio dengan isak tangis yang tersedu-sedu.
"Nadia, jujur aku sangat kehilangan kamu. Aku sedih Nadia, hati aku hancur, tapi aku sadar kalau aku juga gak boleh berlarut dalam kesedihan. Kamu udah gak sakit lagi, kamu yang tenang ya di sana, aku gak akan pernah lupa sama kamu Nad," ucap Ara.
"Ara, sebelum Nadia kritis, dia menitip rekaman ini buat kamu, Leo, Rio, Sarah, Bryan, Cinta, Beni, Sherin dan Arka. Dia yakin kalau akan ada hari ini. Nadia juga minta kalian bacanya sama-sama di saat pemakaman Nadia sudah selesai. Tante akan bawa jenazah Nadia pulang hari ini juga menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Dokter Herman," kata bu Jasmine seraya memberikan rekaman berbentuk kaset DVD.
Ara menerima rekaman itu dari tangan bu Jasmine. Bahkan Nadia pun sudah menyiapkan ini semua karena dia tahu akan pergi untuk selamanya dalam waktu dekat ini, pikirnya.
"Kita sama-sama pulang ke Indonesia hari ini ya Tante," ucap Ara.
"Iya Ra, Tante akan urus kepulangan jenazah Nadia hari ini," ucap bu Jasmine.
...
"Wa'alaikumsalam Sa, Nadia Sa," rasanya ia tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.
"Nadia kenapa Mbak ...?" Tanya bu Risa.
"Sa, Nadia udah gak sakit lagi, Nadia udah pergi untuk selamanya Sa," jawab Bu Jasmine.
"Apa? maksud Mbak Nadia udah gak ada gitu?" Tanya bu Risa.
"Iya Sa, Nadia udah gak ada, Nadia udah meninggal," ucap bu Jasmine.
"Nadia …ya Allah Nadia, kenapa kamu begitu cepat meninggalkan Tante, bahkan tante belum sempat ketemu kamu untuk yang terakhir kali saat kamu masih bernafas, maafkan Tante Nadia," ucap bu Risa, tangisannya pecah begitu saja.
"Tolong maafkan semua kesalahan Nadia ya Sa," ucap bu Jasmine.
__ADS_1
"Nadia gak ada salah apa-apa Mbak, gak ada yang perlu di maafin, justru aku yang minta maaf karena belum sempat melihat Nadia," ucap bu Risa pula.
"Udahlah Sa, semuanya juga serba mendadak, terjadi begitu saja, yang penting sekarang Nadia udah gak sakit lagi, doakan Nadia tenang di alam sana," ucap bu Jasmine.
"Aamiin, aku pasti doakan yang terbaik untuk keponakan aku Mbak," ucap bu Risa.
"Tolong kamu siapkan semuanya di rumah Mbak ya Sa, hari ini juga Mbak akan bawa jenazah Nadia pulang menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Dokter Herman," kata bu Jasmine.
"Baik Mbak, akan aku siapkan semuanya," kata bu Risa.
"Terima kasih ya Sa," ucap bu Jasmine.
"Sama-sama Mbak," jawab bu Risa.
"Wassalamu'alaikum," ucap bu Jasmine.
"Wa'alaikumsalam," jawab bu Risa.
Panggilan telepon berakhir.
Bu Risa tidak kuasa menahan kesedihannya, ia menangis histeris hingga didengar oleh suaminya yang sedang menonton televisi. Karena takut terjadi sesuatu dengan bu Risa di kamar, pak Haris pun segera menghampiri istrinya itu.
"Bun, ada apa ...?" Tanya pak Haris. Ia melihat istrinya terduduk di sudut tempat tidur sambil menangis tersedu-sedu.
"Ayah … Nadia Yah," ucap bu Risa.
Pak Haris segera mendekati bu Risa, lalu memeluknya.
"Ada apa dengan Nadia Bun …?" Tanya pak Haris.
"Nadia meninggal Yah, Mbak Jasmine baru aja kabarin Bunda," jawab bu Risa.
"Yang sabar Bunda, Nadia udah gak sakit lagi sekarang. Kita doakan aja ya semoga Nadia tenang dan damai di Surga, aamiin," ucap pak Haris.
__ADS_1
" Aamiin Yah, kata Mbak Jasmine hari ini juga jasad Nadia akan dibawa pulang, berarti besok malam sampai. Kita ke rumah Mbak Jasmine besok pagi ya yah untuk mempersiapkan semuanya," kata bu Risa.
...****************...