Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-218


__ADS_3

"Lepasin aku Ka, jangan buat aku semakin bingung sama sikap kamu dong," pinta Sherin.


"Sher, aku gak mau kamu jauh-jauh dari aku," kata Arka.


"Maksud kamu apa Ka...?" Tanya sherin yang tidak mengerti.


Arka menatap dalam mata Sherin lalu berkata, "Sher, aku sayang sama kamu,"


Deg, jantung Sherin berdegup kencang, antara senang dan tidak percaya, ia terdiam menatap mata Arka untuk melihat apakah ada kebohongan di sana.


"Sher aku serius, aku sadar kalau kekhawatiran dan kepedulian aku selama ini, itu karena aku sayang dan cinta sama kamu. Maaf kalau aku udah buat kamu bingung atau merasa telah mempermainkan hati kamu, sama sekali itu bukan tujuan aku Sher, aku hanya mau meyakinkan hati aku, aku takut akan mengecewakan kamu nantinya." kata Arka.


"Sekarang apa kamu udah yakin?" Tanya Sherin.


"Ya aku yakin, hati aku sakit ngeliat kamu diam cuekin aku kayak tadi Sher," jawab Arka. "Aku....." Ucapan Arka terputus karena tiba-tiba saja Sherin menempelkan bibir mungilnya pada bibir Arka yang membuat Arka terkejut tetapi juga merasa senang.


Arka menarik tengkuk Sherin karena tidak ingin ciuman itu berakhir begitu saja, segera ia ******* bibir Sherin sambil sesekali menggigit manja, saling menjelajahi rongga mulut lawan jenisnya dan bertukar saliva. Dinginnya suasana malam menjadi saksi cinta mereka berdua yang kini tengah memadu asmara.


Beberapa saat kemudian, mereka menyudahi ciuman itu dan kembali berpelukan.


"Kamu kenapa gak respon sama ungkapan cinta aku?" tanya Arka.


"Memangnya apa yang kita lakukan tadi gak cukup merespon ya?" Tanya Sherin balik.


"Tapi, aku mau dengar langsung dari mulut kamu," pinta Arka.


"Arka, aku juga sayang dan cinta sama kamu," ungkap Sherin tersenyum.


Arka tersenyum bahagia dan bertanya, "Berarti kita udah jadian dong?"


"Heum...." Jawab Sherin mengangguk.


"Makasih ya Sher," ucap Arka.


"Sama-sama," jawab Sherin. "Kamu pulang gih! Udah malam," perintah Sherin.


"Sebenarnya aku masih mau berdua sama kamu, tapi baiklah aku pulang dulu, besok kita ketemu lagi ya Sayang," kata Arka.


"Sekarang panggilnya udah pakai sayang-sayangan nih," ledek Sherin.


"Loh emang kenapa, kita kan udah jadian, jadi gak salah dong. Emang kamu gak mau apa panggil aku sayang? Berarti kamu gak sayang sama aku," kata Arka.

__ADS_1


"Iya Sayang, udah sana pulang," kata Sherin.


Arka tersenyum lalu mencium kening Sherin, setelah itupun ia meninggalkan Sherin dan pulang ke rumahnya dengan perasaan yang sangat lega dan bahagia.


...


"Next kita atur ya buat ketemuan lagi," ucap bu Tania.


"Iya, kabarin saja ya nanti," kata bu Maria.


"Ya sudah, Mar, Ra, aku duluan ya," Pamit bu Tania. "Ara, Leo, Tante duluan ya, mampir ke rumah ya kalau ada waktu."


"Iya Tan, hati-hati ya," jawab bu Amara.


"Hati-hati Tan," jawab bu Maria pula.


"Iya Tante," jawab Ara singkat, sedangkan Leo hanya mengangguk saja.


"Ra, aku pulang duluan ya," pamit Rolan kepada Ara lalu kepada bu Maria dan juga bu Amara.


Ara hanya mengangguk singkat, ia tahu jika Leo sangat tidak suka melihatnya jika terlalu akrab dengan Rolan.


Saat perjalanan pulang ke rumah, bu Tania menatap Rolan yang tampak kesal.


"Sayang, kenapa kamu kelihatan kesal...? Bukannya kamu senang ya bisa ketemu sama teman-teman kamu?" Tanya bu Tania.


"Mi, Mami beneran gak tau atau gimana sih...?" Tanya Rolan.


"Maksud kamu?" Tanya bu Tania balik.


"Mi, Leo itu bukan teman aku tapi saingan aku," jawab Rolan.


"Hah, maksudnya kamu suka sama Ara gitu?" Tanya bu Tania.


"Iya Mi, Ara itu mantan aku waktu SMA. Rolan masih sangat mencintai Ara Mam," jawab Rolan.


Bu Tania terdiam, ia tidak menyangka jika anaknya mempunyai kisah cinta yang belum selesai terhadap anak sahabatnya itu, akan tetapi bu Tania juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong anak semata wayangnya, karena Ara sudah bertunangan dan akan menikah.


"Rolan, maafkan Mami ya. Mami sama sekali tidak tahu jika situasinya seperti ini," ucap bu Tania yang merasa bersalah.


"Gak papa Mi, Mami gak salah kok, jadi gak perlu minta maaf sama Rolan," kata Rolan.

__ADS_1


"Tapi kamu juga harus bisa belajar buat melupakan Ara Sayang, Ara itu sudah punya calon suami," kata bu Tania.


"Baru calon kan Mi...? Selagi janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan untuk merebut Ara, aku akan terus berjuang untuk mendapatan hati Ara Mi. Kita gak akan ada yang tau kan gimana ke depannya nanti," kata Rolan.


Bu Tania menghela nafas panjang lalu menghembuskan kembali, ia tidak tahu harus berbuat apa, ia sama sekali tidak menyangka jika anaknya bisa sedalam itu mencintai wanita, karena setahu bu Tania selama ini Rolan selalu bergonta ganti pasangan dan tidak pernah ada yang di ajak untuk serius.


...


Keesokan harinya...


Ara dan Seno secara bersamaan melangkahkan kaki menuju ke ruangan Direktur utama karena memang mereka di panggil oleh pak Haris.


Tok.. Tok... Ara mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan pak Haris dan di ikuti oleh Seno.


"Permisi Om," ucap Ara.


"Permisi Om," ucap Seno pula.


"Oh Ara, Seno silahkan duduk!" Perintah pak Haris.


Lalu Ara dan Seno pun duduk.


"Jadi begini Ara, Seno, saya mau besok kalian berdua pergi ke Bandung untuk meninjau langsung lokasi pembangunan hotel di sana," kata pak Haris menyampaikan maksudnya memanggil Ara dan Seno saat itu.


"Hah kita berdua Om...? Besok...?" Tanya Ara sedikit terkejut.


Sedangkan Seno merasa sangat senang karena bisa pergi berdua dengan Ara meskipun hanya perjalanan bisnis, "Saya mau Om," katanya dengan semangat.


"Kamu kenapa Ra..? Apa ada masalah...?" Tanya pak Haris.


"Ehm...." baru saja Ara hendak menjawab, tiba-tiba pak Haris menyela begitu saja.


"Kamu tenang aja, ada Leo juga kok," kata pak Haris.


Ara yang tadinya merasa keberatan dan sangat ingin menolak, kini matanya berbinar dan tersenyum bahagia, tentu saja ia tidak akan menolak karena ada kekasihnya juga di sana.


Berbeda halnya dengan Seno, ia yang tadinya sangat semangat dan langsung setuju, kini merasa harapannya untuk berdua dengan Ara akan pupus. Pastinya Ara akan selalu berada di sisi tunangannya, mau itu urusan pekerjaan ataupun tidak.


"Kenapa harus ada dia sih, tapi bukan Seno dong namanya kalau menyerah gitu aja. Liat aja nanti," gumam Seno dalam hati, di sudut bibirnya muncul senyuman tipis.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2