Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-281


__ADS_3

"Tubuh bu Amara seketika terasa lemas tak berdaya dan Hampir saja tumbang, untung saja saat itu pak Ardi yang yang baru saja keluar dari ruang kerjanya melihat istrinya tersebut dan langsung menangkapnya.


"Mami, Mami kenapa Mami?" Tanya pak Ardi yang begitu panik.


"Pi Leo Pi," ucap bu Amara sembari menunjuk ponselnya yang tergeletak di atas lantai dan dengan Isak tangisnya yang tersedu-sedu


Pak Ardi yang mengerti akan hal itu segera saja mengambil ponsel tersebut dan berbicara kepada seseorang yang masih tersambung.


"Halo Leo, kamu kenapa?" Tanya pak Ardi.


"Maaf Pak saya bukan Leo, saya tadi menemukan anak Bapak di jalan dan saat ini sudah saya bawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis," kata pria tersebut yang membuat pak Ardi mengerti kenapa istrinya menjadi seperti ini sekarang.


"Anak saya ada di rumah sakit mana Mas?" Tanya pak Ardi.


"Ada di Rumah Sakit Bunda Kasih Pak," jawab pria itu.


"Ya sudah terimakasih banyak ya Mas, saya akan segera ke sana," kata pak Ardi.


"Sama-sama. Baik Pak saya tunggu!" Kata pria itu lagi.


"Iya Mas," jawab Pak Ardi.


Lalu panggilan telepon terputus.


"Mi Sudah ya Mi, sabar. Sekarang kita ke rumah sakit untuk melihat kondisi anak kita," ajak Pak Ardi.


"Iya Pi, jawab bu Amara lirih. Lalu pak Ardi pun menuntun istrinya itu ke dalam mobil dan bersama-sama pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Leo.


"HP Mami di mana Pi?" Tanya bu Amara saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


"Ini ada sama Papi," jawab Pak Ardi lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan memberikannya kepada istrinya itu.


Bu Amara langsung saja menghubungi Ara. Ara yang mendapatkan telepon dari bu Amara itu pun langsung secepat kilat mengangkatnya, karena memang sedari tadi ia menunggu bu Amara mengabarinya tentang keadaan Leo.


"Halo Tante," ucap Ara dari seberang telepon.


"Halo sayang," ucap Bu Amara dengan isak tangisnya.

__ADS_1


"Tante, Tante kenapa nangis? Ada apa …?" Tanya Ara kebingungan.


"Leo sayang, Leo-" kata bu Amara yang tak sanggup melanjutkan ucapannya itu.


"Kenapa dengan Leo Tante? Apa yang udah terjadi…?" Tanya Ara yang mulai panik.


Pak Ardi yang melihat bu Amara terus menangis tak sanggup bicara itupun segera saja mengambil ponsel istrinya itu dan berbicara dengan Ara.


"Leo kecelakaan Ara, sekarang dia ada di Rumah Sakit Bunda kasih. Om sama Tante lagi di dalam perjalanan mau ke sana buat melihat kondisi Leo," kata pak Ardi.


Ara sangat syok mendengar kabar itu, tangisnya pecah begitu saja, tubuhnya begitu lemas. Ia tidak percaya jika sesuatu yang sangat dikhawatirkannya benar-benar terjadi, Ara pun langsung saja beranjak dari kasurnya dan meraih kunci mobil ingin segera melihat keadaan Leo.


"Halo Ara halo," panggil pak Ardi, akan tetapi sama sekali tidak ada jawabannya lagi dari Ara. Pak Ardi pun langsung saja memutuskan panggilan telepon tersebut.


"Kenapa Pi?" Tanya bu Amara.


Ara udah gak jawab telepon, takutnya Ara langsung buru-buru mau nyusulin kita," kata pak Ardi yang yang membuat bu Amara menjadi bertambah khawatir.


"Jadi gimana Pi?" Tanya bu Amara, ia sama sekali tidak dapat berpikir jernih saat ini.


"Sekarang Mami hubungin bu Maria aja ya, biar bu Maria bisa mencegah atau menemani Ara," kata Pak Ardi.


...


Untungnya belum terlambat, setelah mendapat kabar dari bu Amara, bu Maria pun segera menyusul Ara yang saat ini sedang berjalan menuju ke mobilnya.


"Sayang," panggil bu Maria.


Ara menoleh ke arah sumber suara dengan air matanya yang bercucuran bak air hujan.


"Mami, Ara mau liat Leo, Ara nggak peduli, mau Mami larang Ara keluar sekarang Ara nggak peduli, yang penting Ara harus ke rumah sakit sekarang juga," kata Ara.


"Enggak Sayang, Mami nggak akan ngelarang kamu, Mami akan ikut kamu, Mami akan temenin kamu," kata bu Maria.


Ara pun langsung menghampiri ibunya itu dan memeluknya, "Makasih ya Mami, sekarang juga kita harus ke rumah sakit."


"Iya Sayang, ayo kita pergi. Biar Mami aja yang bawa mobilnya, Mami takut keadaan kamu tidak stabil seperti ini nantinya malah terjadi yang nggak kita inginkan," kata bu Maria.

__ADS_1


Ara pun mengangguk menyetujui, lalu mereka masuk ke dalam mobil dan segera melaju menuju ke rumah sakit.


...


"Bagaimana tugas kalian?" Tanya Tama.


Saat ini Tama sedang bersama dengan Karina dan menelepon orang suruhannya.


"Semuanya berjalan lancar Bos, kami pastikan orang tadi akan cedera dan pulihnya pasti akan sangat lama," jawab orang suruhan Tama yang bernama Bejo itu.


"Bagus, kerja yang sangat bagus, bonus kalian akan segera saya transfer," kata Tama tersenyum smirk.


"Terimakasih banyak Bos," ucap Bejo dengan sangat senang.


Lalu Tama memutuskan panggilan telepon tersebut, ia merasa sangat senang mendapat kabar itu.


"Gimana Sayang?" Tanya Karina.


"Semua berjalan dengan lancar Baby. Sesuai keinginan aku, laki-laki itu babak belur dan sesuai keinginan kamu dia tidak akan jadi menikah dengan perempuan yang kamu benci," jawab Tama.


"Itu bagus. Maafkan aku Leo, kalau aku tidak bisa memiliki kamu maka perempuan itu juga tidak bisa memiliki kamu," kata Karina dengan tatapan sinis.


"Ya udah, karena keinginan kita berdua udah tercapai, bagaimana kalau kita merayakannya?" kata Tama.


"Merayakan, maksud kamu?" Tanya Karina.


"Ayolah baby, kamu tidak perlu berpura-pura. Aku sudah sangat merindukan belaian kasih sayangmu, juniorku sudah tidak tahan meminta untuk kamu puaskan," goda Tama sembari mengendus leher jenjang milik Karina yang membuat Karina itu mendesah nikmat.


Karina pun tersenyum dan mengerti akan maksud Tama, lalu mereka berdua langsung saja masuk ke dalam kamar dan melakukan hubungan terlarang yang biasa mereka lakukan.


"Terimakasih ya Baby, kamu memang selalu bisa membuat aku merasa puas," ucap Tama.


"Sama-sama Sayang, aku juga selalu merasakan seperti itu," ucap Karina pula.


...


Di balik kesenangan Tama dan Karina, ada seseorang yang saat ini sedang menderita karena ulah mereka, yaitu Leo yang saat ini sedang terbaring lemah di ruang ICU. Ara menatap sendu wajah kekasihnya itu, buliran air matanya tidak henti jatuh membasahi pipi. Entah sudah berapa lama ia menangis, akan tetapi air mata itu tidak juga kering. Sedangkan ibunya Leo, bu Amara jatuh pingsan karena tak kuasa melihat kondisi putra tercintanya itu, kini ia pun sedang berada di salah satu ruang rawat inap pasien ditemani oleh suaminya. Sementara bu Maria hanya bisa menenangkan Ara agar lebih kuat, meskipun ia sendiri juga tidak bisa menyembunyikan rasa kesedihannya melihat calon menantunya itu terbaring lemah tak berdaya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2