
"Pi aku bisa jelasin soal ini, semua ini nggak seperti yang Papi pikirkan kok," kata Tama.
"Kamu mau menjelaskan apa Tama? Sudah lama Papi mendapatkan kabar seperti ini tapi Papi tepiskan. Yang penting menurut Papi kamu tetap fokus mengurus perusahaan, tapi buktinya apa? Perusahaan hancur dan kamu malah sibuk asik-asikan dengan wanita liar di luaran sana. Mau jadi apa kamu Tama?" Tanya pak Tedy dengan sorotan matanya yang tajam.
"Pi, aku juga nggak tahu kenapa keadaan perusahaan menjadi seperti ini, lebih baik kita ajak ketemu Pak Jackson dan Pak Ardi," kata Tama.
"Ya, Papi memang sudah mengajak mereka untuk bertemu, tapi kamu tahu kan Gimana sibuknya mereka," kata pak Tedy.
"Jadi bagaimana Pi?" Tanya Tama.
"Kamu yang membuat masalah ini, jadi harus kamu juga yang menyelesaikannya. Papi tidak mau tahu," jawab pak Tedy.
Lalu Pak Tedy pun segera keluar dari ruangan Tama dengan wajahnya yang penuh amarah, membuat siapapun yang melihatnya menjadi takut.
"Sialan! Apa-apaan sih ini, aku yakin ada dalang di balik ini semua," gumam Tama sembari mengeratkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya. Lalu ia merogoh ponsel di dalam saku celananya dan menelpon seseorang.
...
Siang hari, pak Jackson dan bu Maria sedang berada di perjalanan menuju ke Perusahaan Caitlin Desainer milik anaknya. Mereka berdua sengaja memberikan Ara kejutan sembari mengajaknya makan siang.
Setibanya di perusahaan, langsung saja pak Jakson dan bu Maria menuju ke ruangan Ara.
"Selamat siang Pak, Bu," ucap Amira saat melihat kedua orang tua dari Bos-nya itu datang.
"Selamat siang," balas pak Jackson.
"Selamat siang Amira, Ara ada di dalam kan?" Tanya bu Maria.
"Ada kok Bu, silahkan langsung masuk saja Bu," jawab Amira.
"Terimakasih ya Amira," ucap bu Maria.
"Iya Bu sama-sama," jawab Amira mengangguk.
__ADS_1
Tok … tok … tok … bu Maria mengetuk pintu ruang kerja Ara.
"Masuk!" Ucap Ara.
Krek, pintu terbuka, bu Maria membuka pintu lalu masuk ke dalam bersama pak Jackson.
"Mami, Papi, kok nggak ngabarin Ara sih mau datang," kata Ara yang beranjak dari tempat duduknya dan menyambut kedua orang tuanya itu dengan pelukan.
"Memangnya kalau datang ke perusahaan anaknya sendiri harus ngomong-ngomong ya?" Tanya pak Jackson.
"Iya nih, kan nggak harus ya Pi? Namanya juga kejutan," sambung bu Maria.
"Iya deh iya, Mami Papi sini deh duduk dulu," ajak Ara sembari membawa orang tuanya duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Sayang, jadi Papi sama Mami ke sini itu mau ngajakin kamu makan siang. Kebetulan tadi kami habis dari luar, jadi sekalian mampir," terang bu Maria.
"Cieh … yang habis ngedate, ingat juga ya mau nyamperin anaknya," ledek Ara.
"Apaan sih kamu, Mami sama Papi cuma mau menghabiskan waktu sama kamu aja sebelum nantinya kamu menikah, kamu pasti akan lebih sibuk deh nantinya. Nggak akan ada waktu lagi buat Mami sama Papi," kata bu Maria.
Ara terdiam, lalu ia menatap kedua orang tuanya itu secara bergantian dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.
"Mami, Papi kok jadi pada sedih gitu sih. Bukannya kalian harusnya seneng ya karena anaknya mau nikah? Mami sendiri juga kan yang bilang kalau udah saatnya Ara ini menikah, katanya umur Ara udah nggak muda lagi," kata Ara.
"Iya Sayang Mami tau, tapi bagaimanapun juga kamu itu kan anak satu-satunya Mami dan Papi, kita sudah terbiasa sama-sama kamu terus dan nantinya kita harus menerima kalau kamu akan hidup bersama dengan suami kamu," kata bu Maria.
"Mami, Papi, walaupun nanti Ara udah menikah, Ara nggak mungkin ngejauh kok dari Mami dan Papi. Memang Ara dan Leo udah berniat akan tinggal berdua, kita nggak mau nyusahin Mami dan Papi ataupun Tante Amara dan Om Ardi. Namanya udah menikah, kami berdua mau hidup mandiri. Tapi itu bukan berarti Ara nggak bakalan temuin Mami dan Papi lagi dong, Ara janji akan membagi waktu antara kerjaan, suami dan juga untuk Mami dan Papi. Jadi Mami sama Papi nggak usah khawatir ya," ucap Ara seraya memegang tangan kedua orang tuanya.
"Kalau papi sih nggak terlalu khawatir ya, karena Papi yakin sebagai seorang suami Leo nantinya akan menjaga kamu dan membuat kamu bahagia sama seperti Papi menjaga Mami kamu. Kalau soal kekhawatiran Mami kamu tentang keterbatasan waktu kamu itu, hanya ketakutan Mami kamu aja sayang," ucap pak Jackson. Sedangkan Bu Maria hanya terdiam.
"Udah ah, kok jadi sedih-sedihan gini sih. Ya udah kalau Mami sama Papi mau ajak Ara makan, yuk kita keluar sekarang," ajak Ara.
"Ya udah yuk," jawab bu Maria. Lalu mereka bertiga pun melangkahkan kaki keluar dari ruangan Ara.
__ADS_1
"Mir, ikutan makan siang bareng kita yuk," ajak Ara saat melewati meja kerja Amira.
"Iya Mir sekalian yuk," ajak bu Maria pula.
"Enggak usah Mbak, Bu, saya bawa bekal kok. Nanti saya makan bekal aja," jawab Amira. Ia juga segan jika harus ikut makan bersama Bos dan keluarganya.
"Oh gitu, ya udah kalau gitu kami keluar dulu ya Mir," kata bu Maria.
"Mir, aku keluar dulu ya makan bareng Mami dan Papi," kata Ara.
"Amira, kami duluan ya," kata Pak Jackson pula.
"Iya Pak, Bu, Mbak," jawab Amira.
...
"Ada yang mau Papi sampaikan sama kamu Ra," kata pak Jackson di sela-sela makan mereka.
"Mau ngomong apaan Pi?" Tanya Ara.
"Soal permintaan kamu tentang Perusahaan Jaya Group itu," jawab pak Jackson.
Ara menatap Papinya dengan serius, "kasih tau aku sekarang Pi," pintanya yang begitu antusias.
"Papi dan Pak Ardi sudah memutuskan kerjasama dengan Perusahaan Jaya Group. Tapi ini semata-mata bukan hanya karena keinginan kamu Sayang, ini semua juga karena kami merasa semenjak Perusahaan Jaya Group dipimpin oleh anaknya Pak Tedy, banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Seperti keuntungan perusahaan yang dibagi tidak merata salah satunya. Butuh waktu hampir satu bulan kami memeriksa ini semuanya dan pada akhirnya kami menemukan kejanggalan-kejanggalan tersebut dan bisa memutuskan kerjasama kami dengan perusahaan itu," terang pak Jackson.
"Oh ya? Jadi selain Tama itu brengsek ingin menjatuhkan perusahaan lain, ternyata dia juga licik ya Pi," kata Ara dan di jawab anggukan oleh pak Jackson.
"Duh … ini ada apaan sih? Mami nggak ngerti deh. Kenapa kalian jadi ngebahas masalah bisnis?" Tanya bu Maria.
"Papi, memangnya Papi nggak ada cerita ya ke Mami?" Tanya Ara.
"Belum," jawab pak Jackson menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sementara saat ini bu Maria sedang menatap wajah suaminya itu dengan tatapan tajam yang membuat Pak Jackson bergidik.
...****************...