
"Laki-laki Sayang, namanya aja Doni," jawab Leo.
"Doni atau Dona?" Tanya Ara.
"Doni Sayang," jawab Leo dengan lembut.
Memang untuk mengahadapi Ara saat ini ia harus benar-benar sabar, salah sedikit saja Ara bisa uring-uringan tujuh hari tujuh malam.
"Awas aja kalau ketahuan bohong," ucap Ara.
"Enggak Sayang, aku nggak mungkin berani bohong sama kamu. Percaya deh sama aku," kata Leo.
"Iya, aku percaya sama kamu," kata Ara.
"Ya udah Sayang, kalau gitu aku mau lanjutin kerja dulu ya," kata Leo.
"Ya udah, tapi jangan lama-lama ya pulangnya dan jangan lupa juga titipan aku," kata Ara.
"Iya sayang, bye … ," ucap Leo.
"Bye … ," balas Ara.
Lalu panggilan telepon pun berakhir.
"Sayang, kamu yang sabar ya. Sebentar lagi Papa kamu bakalan pulang kok dan kamu akan dapatin apa yang kamu mau," ucap Ara yang berbicara sendiri sembari mengelus perut buncitnya dan tersenyum manis.
...
Aria celingak-celinguk mengintip dari jendela ke arah ruangan CEO. Hatinya mendadak khawatir karena sampai sesiang ini ia tidak melihat Rio ada di ruangannya. Aria sama sekali tidak tahu Rio ada dimana, karena ia memang tidak mendengar jika Rio cuti atau sedang ditugaskan di tempat lain. Ingin rasanya ia menghubungi Rio tetapi teringat jika nomornya telah diblokir olehnya. Kenapa perasaannya menjadi tidak enak saat ini?
"Duh … Aria, ngapain juga sih mikirin Kak Rio. Lagian bisa-bisanya berpikiran yang macam-macam. Kak Rio pasti baik-baik aja kok, nggak perlu khawatir," gumam Aria dalam hati.
Tiba-tiba saja Pak Wijaya yang merupakan pemilik dari perusahaan datang menghampiri Aria.
"Aria, tolong kamu batalkan meeting pada siang hari ini," kata pak Wijaya.
__ADS_1
"Ada apa Pak?" Tanya Aria.
"Seperti yang kamu lihat kalau saat ini Rio tidak ada di ruangannya. Tadi ada salah satu teman Rio yang mengabarkan kepada saya, jika Rio kecelakaan tadi malam dan saat ini sedang berada di rumah sakit," jawab pak Wijaya.
Aria sontak terkejut mendengarnya, ternyata firasatnya itu benar bahwa terjadi sesuatu dengan Rio.
"Aria … Aria … !" Panggil pak Wijaya yang melihat Aria tampak termenung.
"Iya Pak maaf," ucap Aria.
"Kamu bisa kan batalkan meeting-nya? Karena saya sendiri tidak bisa menemukan klien itu, saya ada meeting dengan klien lain dan klien ini sangat penting serta tidak bisa menunda meeting hari ini," kata pak Wijaya.
"Baik Pak, saya akan atur ulang jadwalnya untuk besok," jawab Aria.
"Bagus kalau begitu, terima kasih Aria," ucap pak Wijaya.
"Sama-sama Pak," jawab Aria.
Lalu pak Handoko segera saja pergi meninggalkan Aria. Setelah pak Wijaya tak terlihat lagi dari pandangan matanya, Aria terduduk lemah di atas kursi kerjanya.
Ia teringat tadi malam telah terjadi pertengkaran hebat antara dirinya dan Rio. Rio yang datang ke rumah Aria ingin meminta jawaban, malah mendapatkan makian dari Aria serta mengusirnya. Akan tetapi Rio tetap menunggu Aria hingga kehujanan, lalu ia pun mengalah untuk pulang setelah Arka yang keluar dan berbicara kepadanya. Akan tetapi saat itu dalam kondisi hujan lebat dan keadaan petir yang saling bersahutan. Sudah pasti Rio kecelakaan karena tidak fokus ditambah lagi jalanan yang licin dan pandangan menjadi buram. Aria menjadi merasa sangat bersalah kepada Rio, ia ingin segera melihat keadaan Rio yang saat ini sedang berada di rumah sakit, tetapi ia lupa menanyakan kepada Pak Handoko dimana Rio saat ini dirawat.
...
"Rio … Rio lo kenapa bisa kayak gini sih? Nggak bosen apa nginap di rumah sakit? Gue aja bosen tau nggak bolak-balik ke rumah sakit mulu," hardik Arka.
"Kalau lo bosen ya lo nggak usah datang ke sini lah. Gue juga nggak nyuruh kali lo datang ke sini," kata Rio.
Arka memutar bola matanya malas, "Kalau orang yang ada di lokasi itu nggak menghubungi gue, gue juga nggak bakalan ada di sini."
"Ya udah kalau nggak ikhlas udah bantuin gue dan ada di sini, mendingan lo sekarang pulang aja," kata Rio.
"Lah songong banget sih lo. Untung aja lo belum jadi adik ipar gue, kalau udah jadi adik ipar, gue bejek-bejek lo," kata Arka.
"Kalau gue bisa memilih, mendingan Aria itu bukan adik lo, mendingan Aria nggak usah punya Kakak daripada punya Kakak kayak lo," kata Rio.
__ADS_1
"Brengsek lo," kata Arka sembari memukul kaki Rio yang terluka.
"Akh sakit," rintih Rio.
"Makanya lagi sakit aja belagu lo," kata Arka.
"Gue nggak belagu Arka, lo aja yang dari tadi gangguin gue mulu," kata Rio.
"Iya deh sorry. Oh ya lo kenapa nggak ngizinin gue kasih tau ke Aria?" Tanya Arka.
"Nggak usah Ka, lagian gue yakin kok Aria juga nggak bakalan peduli sama gue," kata Rio.
Arka pun tampak terdiam, sebenarnya ia tahu jika adiknya itu begitu peduli terhadap Rio dan sudah pasti ia akan merasa sangat khawatir jika mengetahui keadaan Rio saat ini. Tapi Arka memilih diam, biarlah Rio dan Aria yang menyelesaikan masalah mereka sendiri. Sebagai seorang Kakak dan sahabat, Arka hanya dapat mendukung apapun yang terbaik untuk mereka berdua.
...
Setelah menempuh macetnya jalanan kota Jakarta, akhirnya Leo tiba di lokasi tempat penjualan Cimol yang berada di jalan XX yang dimaksud oleh Ara. Setibanya di sana, ia melihat antrian yang sangat panjang. Hatinya menjadi bimbang, akankah ia mendapatkan cimol untuk istrinya yang saat ini sedang mengidam dan harus berapa lama ia harus mengantri?
Leo turun dari mobil dan langsung saja menghampiri penjual cimol itu.
"Heh Mas, kalau mau cimol antri dong. Nggak lihat apa kita antri sepanjang ini," kata salah satu pembeli wanita.
"Iya Mas, enak aja datang-datang langsung ke depan kayak gitu," kata pembeli pria.
"Tau nih," sahut yang lainnya.
"Maaf-maaf, tapi istri saya saat ini sedang hamil dan dia benar-benar pengen banget cimol ini. Saya harus segera membelinya," ucap Leo.
"Alah, alasannya basi banget sih. Sudah banyak Mas yang pakai cara kayak gini," cibir pembeli wanita.
"Iya Mas, emangnya mas pikir kita percaya begitu saja apa," hardik pembeli pria.
"Tolong Mas, Mbak. Saya tidak bohong, istri saya memang lagi hamil dan ngidam cimol ini. Begini saja, gimana kalau cimol kalian saya yang bayar semua. Saya borong semua cimol-nya Pakde dan kalian semua yang mau di sini gratis, tinggal minta sama Pakde," kata Leo.
Lalu tampak di antara pembeli itu saling berbisik dan akhirnya menyetujui permintaan Leo. Sudah pasti Leo benar-benar sangat serius, kalau tidak mana mungkin ia sampai membeli satu gerobak cimol dan mentraktir para pembeli itu. Leo sangat senang karena mendapatkan keinginan istrinya, begitu juga dengan para pembeli yang mendapatkan cimol gratis dan tak lupa pula mengucapkan terima kasih kepada Leo.
__ADS_1
...****************...