Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-311


__ADS_3

Waktu pun terus berlalu, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tidak terasa pernikahan Ara dan Leo sudah memasuki tiga bulan lamanya.


Keadaan sudah kembali normal seperti sedia kala. Ibu dari Amira juga telah kembali ke rumahnya, tetapi untuk sementara dia tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Bu Laras harus istirahat dan tetap rutin kontrol dua kali dalam sebulan untuk memeriksa jantungnya itu. Karena saat ini kondisinya Bu Laras tidaklah seperti dulu, harus benar-benar menjaga kesehatannya agar benar-benar pulih.


Pagi ini, Ara merasakan tubuhnya begitu sangat lemas. Ia juga merasakan mual dan kepalanya juga sedikit pusing. Ara yang biasanya bangun terlebih dahulu, kini hanya dapat meringkuk di tempat tidur. Leo yang saat itu telah terbangun sedikit terheran melihat sang istri, ia merasa jika istrinya saat ini pasti tidak enak badan, karena tidak biasanya jam segini Ara masih bergumul di bawah selimut. Leo pun meletakkan punggung telapak tangannya ke kening sang istri dan benar saja jika saat ini Ara sedang demam.


"Sayang, badan kamu hangat loh. Kamu sakit ya?" Tanya Leo.


"Iya sayang, aku ngerasa sedikit nggak enak badan aja," jawab Ara.


"Kalau gitu kita ke rumah sakit ya sekarang," ajak Leo yang merasa sangat khawatir terhadap Ara, ia tidak mau terjadi sesuatu dengan istrinya.


"Nggak usah Sayang, aku gak papa kok Sayang, aku baik-baik aja," tolak Ara.


Akan tetapi saat itu tiba-tiba Ara merasakan perutnya begitu mual dan ingin muntah.


Huek …


Suara itu terdengar dari mulut Ara, dengan dibantu oleh sang suami, Ara langsung berjalan ke kamar mandi dengan sempoyongan karena kepalanya juga terasa sangat berat.


Setibanya di kamar mandi, Ara langsung saja mengeluarkan seluruh isi perutnya ke dalam wastafel. Leo yang saat itu sangat khawatir hanya dapat mengusap lembut pundak sang istri serta memberinya minyak angin.


"Gimana Sayang udah enakan belum abis muntah? Pasti kamu masuk angin," kata Leo.


"Entahlah, aku nggak tau Sayang, mungkin juga iya," kata Ara.


"Untuk memastikannya kita ke rumah sakit aja ya, aku nggak mau kamu kenapa-napa," pujuk Leo.

__ADS_1


"Nggak usah, aku nggak papa Sayang. Mendingan kamu ke kantor aja ya, bukannya kamu bilang hari ini Pak Joko yang dari Kanada itu datang ya? Kamu harus ke kantor," kata Ara.


"Terus kamu gimana?" Tanya Leo.


"Aku nggak papa. Hari ini aku nggak ke kantor dulu, aku mau istirahat aja. Mungkin setelah istirahat keadaan aku akan membaik," jawab Ara.


"Beneran nggak papa aku tinggal ke kantor?" Tanya Leo, rasanya ia sangat tidak rela meninggalkan sang istri sendirian di rumah. Akan tetapi dia juga tidak mungkin melewatkan investor dari luar Negeri yang akan berkunjung ke perusahaannya hari ini.


"Beneran Sayang, kerjaan kamu juga lebih penting kan?" jawab Ara.


"Ya udah, tapi aku telepon Mami ya buat temenin kamu, gimana?" Tanya Leo.


"Nggak usah, Mami juga kan punya kesibukan sendiri. Aku nggak mau menyusahkan Mami Sayang. Udah ya jangan terlalu khawatir kayak gitu," kata Ara yang melihat tatapan mata suaminya itu penuh dengan rasa kekhawatiran. "Kamu pergi kerja aja ya, oh iya aku minta maaf ya kayaknya enggak bisa nyiapin kamu sarapan. Kepala aku benar-benar pusing banget," ucapnya.


"Kamu nggak perlu mikirin itu, yang penting itu kesehatan kamu dulu. Biar aku yang siapin sarapan buat kamu ya, sebelum kamu istirahat kamu harus sarapan dulu," kata Leo.


Lalu Leo pun menggendong sang istri dan membawanya ke tempat tidur. Setelah itu, segera saja ia membuatkan bubur untuk sang istri.


Beberapa saat kemudian, Leo kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa semangkuk bubur untuk Ara.


"Sayang kamu makan dulu ya," kata Leo dan hendak menyuapi Ara.


"Sayang, aku makan sendiri aja. Kamu buruan mandi dan siap-siap gih! Nanti kamu telat loh," kata Ara.


"Enggak Sayang, ini kan baru jam berapa? Aku enggak bakalan telat kok. Pak Joko juga sampainya jam 09.00 gitu. Aku mau pastiin dulu kalau kamu udah sarapan, setelah itu baru aku akan pergi ke kantor," kata Leo.


Ara tidak dapat menolak lagi apa yang menjadi keinginannya suaminya itu. Leo dengan sangat telaten menyuapi sang istri hingga suapan terakhir bubur dalam mangkoknya itu habis. Saat itu Ara merasa ingin muntah tetapi ia tahan, karena saat ini perutnya yang kosong baru saja terisi. Setelah sarapan, Ara kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya. Sedangkan Leo berangkat ke kantor untuk melakukan aktivitas seperti biasa.

__ADS_1


...


Semakin lama Ara merasakan tubuhnya semakin lemah, mual yang ia rasakan pun semakin bertambah. Karena tidak kuat untuk bangun, ia pun memuntahkan seluruh isi perutnya itu di samping tempat tidur hingga berserakan di lantai. Dadanya tiba-tiba terasa sangat sesak, saat ini Ara sungguh merasa dirinya lemah tak berdaya. Ia bingung apa yang sedang terjadi padanya saat ini, ia ingin menelpon Leo akan tetapi takut mengganggu suaminya yang saat ini sedang meeting, sedangkan maminya saat ini sedang berada di luar Negeri menemani papinya yang sedang melakukan perjalanan bisnis. Akhirnya Ara pun memutuskan untuk menghubungi ibu mertuanya, Bu Amara.


"Halo Ma-mi," ucap Ara dengan suara terbata-bata.


"Halo Sayang, ada apa?" Tanya bu Amara yang mengerti jika saat ini Ara sedang mengalami masalah.


"Mami bisa ke sini nggak? Ke rumah kami Mi," pinta Ara.


Tanpa banyak bertanya bu Amara pun langsung saja menyetujuinya. Setelah panggilan telepon terputus, bu Amara bergegas meraih tas dan juga kunci mobilnya lalu segera melajukan mobil menuju ke kediaman anak dan menantunya itu.


Setibanya di kediaman Ara dan Leo, bu Amara langsung menekan bel dan mengetuk pintu berulang kali tetapi tidak ada tanda-tanda kemunculan Ara. Karena tidak mempunyai pembantu dan kondisi ruang depan yang berada di lantai bawah, membuat Ara begitu kesusahan. Ia berjalan tertatih-tatih dan sangat lamban membuat bu Amara saat itu merasa sangat khawatir.


"Ara, Sayang, kamu ada di dalam?" Teriak bu Amara.


Sedangkan Ara saat ini masih berjuang untuk bisa sampai di bawah. Ara secara perlahan menuruni anak tangga, hampir saja ia terpeleset, untungnya ia berpegangan erat sehingga tubuhnya itu masih dapat tertahan. Setelah setengah jam berjalan, akhirnya Ara pun tiba di depan pintu dan membuka pintu tersebut.


Saat pintu telah terbuka, tubuh Ara tumbang seketika tepat di pelukan bu Amara. Bu Amara begitu panik melihat kondisi menantunya saat ini yang terlihat sangat pucat dan pingsan.


"Ara, Sayang, kamu kenapa Ara? Bangun Sayang," ucap bu Amara.


Bu Amara yang sudah tidak kuat lagi menahan tubuh menantunya itu segera berteriak meminta tolong kepada satpam yang berjaga di rumah Ara dan Leo. Ia juga meminta satpam membantunya membawa Ara ke rumah sakit.


Saat di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, bu Amara beberapa kali mencoba menghubungi Leo tetapi tidak ada jawabannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2