Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_242


__ADS_3

Bryan tampak berpikir, yang dibilang Rio ada benarnya.


"Loe bener Yo, lebih baik sekarang kasih tau ke Leo dan Arka. Untuk sementara kita tunggu di sini aja dulu sambil nunggu mereka datang," kata Bryan.


"Oke!" jawab Rio lalu segera menghubungi Leo.


Setelah mendengar kabar ada petunjuk dari Rio, Leo pun segera menyusul mereka ke lokasi yang telah dikirim Rio melalui whatsap.


Tidak lama kemudian, mereka berempat telah bersatu kembali dan menyusuri jalan setapak yang di kelilingi hutan.


"Gue gak yakin ada rumah di dalam hutan belantara seperti ini," celetuk Bryan tiba-tiba yang memecah kesepian.


"Iya, siapa juga yang mau tinggal di hutan. Tapi bisa jadi ada villa di dalam sana," sahut Rio.


"Kalian bisa diam gak, makanya sekarang kita kedalam sana buat mastiin, kalau gak yakin kalian semua boleh pulang," kata Leo dengan sedikit emosi.


"Sabar Yo," ucap Arka. Sementara Rio dan Bryan langsung saja terdiam. Mereka sangat memaklumi kenapa saat ini Leo begitu emosi dan sensitif, tentunya karena saat ini ia sedang khawatir memikirkan Ara.


Mereka terus berjalan hingga dari kejauhan mereka melihat sebuah bangunan yang diyakini sudah lama sekali dibangun atau rumah tua. Rumah tersebut juga diterangi oleh banyaknya lampu, terlihat juga di depan rumah ada dua orang yang sedang berjaga.


"Leo, loe mau ke mana?" Tanya Bryan yang melihat Leo melangkah maju.


"Mau ngapain lagi kalau bukan nyelamatin Ara," jawab Leo.


"Yo, yang sabar dulu lah. Kita gak tau kan ada berapa banyak orang di dalam sana, mereka pegang senjata apa, entar yang ada bukan nyelamatin Ara tapi kita juga ikut ketangkap atau mungkin terbunuh," ucap Rio.


"Gue gak peduli!" Ucap Leo dengan tegas.


"Terserah kalau loe emang gak mau dengerin kita. Tapi loe jangan sampai nyesal kalau gak bisa selamatin Ara. Harusnya saat ini loe bisa bersikap tenang Yo, kita atur strategi dulu," kata Arka.


Akhirnya Leo terdiam, yang dikatakan teman-temannya ada benarnya, jika ia gegabah, bukan hanya dirinya yang celaka tetapi juga Ara.


...

__ADS_1


Pukul 5 pagi Ara tersadar, kemungkinan karena efek obat biusnya yang sudah hilang. Ia melihat sekeliling yang tampak asing baginya, ia juga melihat di sampingnya ada seorang pria yang juga terikat dan mulutnya ditutup lakban, sama seperti dirinya saat ini.


Ara menatap sejenak wajah pria tersebut, tidak terlalu jelas karena menunduk tetapi Ara merasa mengenali ciri-ciri pria itu. Ara berusaha untuk menundukkan wajahnya agar bisa melihat jelas siapa pria tersebut, tetapi bersamaan dengan itu, pria itu tersadar dan mengangkat kepalanya sehingga tanpa sengaja kepala mereka berdua terantuk.


"ehm ...," rintih keduanya, suara mereka tidak terlalu jelas karena ditutup lakban. Lalu mata mereka pun saling bertemu dan sangat terkejut karena tenyata mereka saling mengenal.


"Seno, ternyata pria ini Seno," gumam Ara dalam hati.


"Kak Ara, ada apa ini? Kenapa kita berdua di culik?" gumam Seno dalam hati.


Ara dan Seno saling menatap, keduanya tampak sangat bingung, apa yang sedang terjadi? Kenapa mereka berdua diculik? Siapa yang melakukan ini? Apa motifnya? Serangkaian pertanyaan yang saat ini hanya ada di dalam hati, tidak bisa diungkapkan karena mulut mereka yang masih terbungkam.


Air mata Ara lolos begitu saja seakan tidak mampu lagi untuk menahan kesedihan, Seno yang melihat akan hal itu segera mendekati Ara seolah mengerti akan kesedihan yang Ara rasakan, rasanya saat ini ia juga ingin menangis, akan tetapi ia tidak boleh lemah dan harus melindungi Ara.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kasian Kak Ara," batin Seno.


Ara melihat ada kaca yang berserakan di sudut lantai, ia pun memberi kode kepada Seno untuk mengambil kaca tersebut, segera saja mereka berusaha sekuat tenaga menggeser tubuh mereka dan akhirnya berhasil. Setelah berhasil melepas ikatan tangan, mereka berdua mendengar ada langkah kaki menuju ruangan tersebut. Melalui isyarat yang diberikan oleh Ara, mereka Pun sepakat untuk tetap berpura-pura pingsan dan masih terikat.


Krek ... suara pintu terbuka.


...


"Selamat pagi Nona manis," ucap Boy saat menelpon Karina.


"Pagi, gimana berhasil?" Tanya Karina.


"Tenang aja Nona, semua berjalan dengan sangat sempurna. Tadi malam anak buah saya langsung mendapatkan keduanya dengan mudah," jawab Boy tersenyum puas.


"Bagus, cepat banget ya," ucap Karina.


"Oh Iya dong, saya kan sudah bilang tidak akan menyesal bekerja sama dengan saya," ucap Boy dengan sangat bangga.


"Baiklah, siksa mereka, tapi cukup buat mereka trauma aja jangan sampai mati!" Perintah Karina.

__ADS_1


"Baik Nona Bos, semua bisa diatur," jawab Boy.


Leo mengepal erat kedua tangannya, giginya juga mengerat, tatapannya begitu tajam menahan emosi saat mendengar ucapan dari Boy.


Leo tidak bisa lagi diam begitu saja. Sudah sangat jelas bahwa memang Ara lah yang saat ini sedang disekap oleh para penjahat itu. Leo segera keluar dari persembunyiannya, kali ini teman-temannya juga tidak bisa mencegah dan hanya bisa mengikuti Leo.


"Sialan!" Teriak Leo.


Bug, Leo menghajar Boy dengan Satu pukulan, ponsel yang sedang Boy pegang terjatuh begitu saja dalam kondisi masih terhubung dengan Karina.


"Heh, besar juga ya nyali bocah-bocah tengil kayak kalian datang kesini," ucap Boy dengan melemparkan senyum tipisnya.


"Gak usah banyak bacot loe, lepasin Ara!" Teriak Leo dan hendak memukul Boy kembali.


Tapi kali ini Boy tidak tinggal diam, ia segera mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke arah Leo, saat itu teman-teman yang akan membantu Leo pun segera mundur.


Karina yang mendengar pertengkaran itu melalui ponsel menjadi takut, takut Leo akan tahu bahwa dalang dari penculikan Ara adalah dirinya, entah apa yang akan Leo lakukan padanya jika hal itu terjadi. Segera saja Karina memutuskan panggilan telepon tersebut.


Sementara itu Ara dan Seno telah melepaskan diri dari ikatan tali juga melepaskan lakban yang entah sudah berapa lama membungkam mulut mereka.


"Kak Ara, Kakak gak papa kan ...?" Tanya Seno.


"Aku gak papa kok Sen, mendingan sekarang kita pergi dari sini," jawab Ara dan mengajak Seno untuk segera melarikan diri.


Ara dan Seno mengendap-endap mencari pintu keluar.


"Aneh kenapa sepi banget ya? Tapi baguslah itu artinya kesempatan untuk kabur lebih besar," batin Ara.


Memang saat ini seluruh anak buah Boy sedang berada di luar bersama bos mereka.


Dor ... satu tembakan mengenai lengan Leo saat ia hendak menerobos masuk ke dalam, kebetulan saat itu juga Ara dan Seno sudah berada di depan pintu dan melihat semuanya.


"Leo ...,!" Teriak Ara histeris.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2