
"Jangan bilang kakak mau comblangin aku sama Amira itu," tebak Seno.
"Ya kamu benar, tapi bukan saya yang mau comblangin kalian, gak ada waktu saya buat ngurusin percintaan orang lain, Ara tuh yang sibuk," kata Leo.
"Tapi kenapa?" Tanya Seno.
"pakai nanya lagi, udah jelas Karena Ara itu risih kamu gangguin dia terus, makanya dia mau kamu punya pacar biar kamu sibuk sama pacar kamu sendiri," kata Leo.
"Masak sih Kak Ara kayak gitu, aku gak percaya kalau gak dengar langsung dari mulut Kak Ara," kata Seno.
"Terserah kamu aja lah, ngomong sama kamu cuma buang-buang waktu saya aja," kata Leo.
"Selalu aja emosi kalau ngomong sama aku," kata Seno. "Oh ya Kak, ngomong-ngomong gimana penyelidikan Kakak soal Karina?" Tanyanya.
"Soal itu kayaknya Karina agak curiga, jadinya sekarang dia lebih berhati-hati kalau saya pancing bahas soal penculikan kalian," jawab Leo.
"Hm ... wanita itu benar-benar licik, kayaknya aku memang harus minta tolong sama Om aku," kata Seno.
"Om kamu, siapa?" Tanya Leo.
"Om aku Surya Wijaya Kak," jawab Seno.
"Surya Wijaya detektif terkenal hebat itu? Dia Om kamu?" Tanya Leo yang tidak percaya.
"Iya kak, Surya mana lagi. Yakin lah, kalau Kak Leo gak percaya juga gak apa-apa kok Kak," jawab Seno.
"Saya memang gak percaya sama kamu, tapi kalau kamu memang bisa mengandalkan Pak Surya Wijaya, kenapa gak dari kemarin aja," kata Leo.
"Karena tadinya aku pikir kasus ini masih terlalu mudah Kak, buktinya anak buah Boy semua udah ketangkap, mana aku tahu kalau ternyata untuk mencari dalangnya lama banget, udah satu bulan. Kakak pasti udah dengar kan kalau Om Surya tidak mau menangani kasus kecil, menurutnya hanya membuang waktu aja," kata Seno.
"Apa kamu bilang? Terlalu mudah? Kasus kecil? Bagaimana kamu bisa bilang seperti itu dalam kasus penculikan Ara," kata Leo dengan gusar.
__ADS_1
"Ini juga kasus penculikan aku Kak," kata Seno.
"Saya gak peduli kalau itu cuma kamu," celetuk Leo.
"Iya-iya aku tau, tapi maksud aku tadi mudah dan kasus kecil itu hanya anggapan aku aja Kak, karena anak buah Boy dengan mudah semuanya tertangkap, aku dan Kak Ara juga baik-baik aja. Gak nyangka ternyata sulit juga menemukan Boy meskipun Polisi di sini sudah bekerja sama dengan Polisi berbagai Negara. Berarti ini adalah kasus besar yang harus ditangani oleh Om Surya, apalagi aku keponakannya, dia gak akan nolak," kata Seno.
"Terserah kamu aja lah, saya harap kamu bisa membuktikan ucapan kamu itu," kata Leo lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Kak Leo, Kakak mau kemana?" Tanya Seno.
"Jemput Ara," jawab Leo yang sebenarnya sudah malas mendengarkan ocehan Seno yang menurutnya belum tentu benar.
"Ya udah Kak hati-hati ya, salam buat Kak Ara," pesan Seno. Akan tetapi Leo tidak menanggapinya dan langsung pergi begitu saja.
...
"Sarah kamu lagi apa ...?" Tanya bu Sinta yang melihat Sarah sibuk dengan laptopnya di halaman belakang rumah.
"Ini Bu, Sarah lagi cari barang grosir tapi berkualitas yang nantinya itu barang-barang yang aku beli akan aku jual lagi Bu. Jadi rencananya aku mau jualan online kecil-kecilan gitu Bu, mau aku posting di media sosial," jawab Sarah.
"Ibu tenang aja ya, ini kan cuma kerja di rumah. Gak harus target dan aku bisa nyantai kok Bu. Dulu waktu hamil Kayla aku juga kerja Bu urus restauran, insyaallah kandungan aku gak papa. Aku cuma bosan aja setelah masak, nyuci, gak ada kegiatan lain, bahkan ibu bantuin Sarah kan jaga Kayla," kata Sarah.
"Terus apa Bryan udah tau dan izinin kamu ...?" Tanya bu Sinta.
"Aku udah bilang kok Bu, kata Mas Bryan terserah aku aja, yang penting jangan kecapean dan jangan maksain diri," jawab Sarah.
"Ya udah terserah kamu aja, memang udah dasarnya kamu itu rajin kerja dari dulunya jadi gak bisa diam, sama kayak Ibu dulu," kata bu Sinta.
"Nah itu dia Bu, bahkan baru dua bulan Ibu pensiun dari katering, bukan karena kekurangan uang tapi emang dasarnya Ibu rajin gak mau diam di rumah," kata Sarah.
"Kamu bisa aja, ya udah kamu lanjutin dulu aja. Ingat jangan kecapean ya, Ibu mau liat Kayla dulu," ucap bu Sinta.
__ADS_1
"Iya Bu makasih ya," ucap Sarah.
"Iya Sayang sama-sama," jawab bu Sinta.
...
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Ara dan Amira baru saja keluar dari Perusahaan dan hendak pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Mbak, aku duluan ya," ucap Amira yang sudah menaiki sepeda motornya.
"Iya Mir hati-hati ya, kamu beneran gak mau aku antar aja?" Tanya Ara.
"Enggak Mbak makasih banyak ya. Lagian emangnya Mbak mau aku muntah lagi di mobil Mbak kayak waktu itu?" tolak Amira.
"Oh iya ya, lagian kamu sih Mir ada-ada aja, udah tau mabuk kalau naik mobil malah diem aja, kan kita bisa beli antimo dulu. Gimana coba nanti kalau kita ada meeting di luar, gak mungkin dong kamu naik motor. Harus naik mobil lah bareng aku," kata Ara.
"He ... he ... he ... iya Mbak," jawab Amira nyengir.
"Ya udah kamu pulang gih! Entar kemalaman," kata Ara.
"Iya Mbak," jawab Amira lalu segera menjalankan motornya dan meninggalkan perusahaan.
Setibanya di rumah, Amira melihat rumahnya begitu sangat berantakan, ia yakin ini pasti ulah Ayahnya yang hobi minum dan berjudi itu, bahkan ia juga menjadi kasar dan main tangan saat tidak mendapatkan uang dari istri dan anaknya.
"Ampun Mas," Teriak bu Laras, ibunya Amira dengan isak tangisan.
"Ibu," gumam Amira dan segera mencari ibunya itu.
"Stop!" Teriak Amira, ia berlari menghampiri bu Laras yang sedang meringkuk di sudut kamar, wajah dan tubuhnya penuh dengan luka memar karena ulah pak Yanto, suaminya.
"Ibu," ucap Amira lalu memeluk ibunya itu dengan meneteskan air mata.
__ADS_1
Sungguh hatinya sangat sakit kerap kali melihat ibunya yang disiksa oleh ayahnya itu, padahal dulunya pak Yanto adalah tipe suami dan Ayah yang sangat penyayang, tapi semenjak pabrik kerupuk yang sudah ia bangun dengan susah payah bangkrut karena ulah orang kepercayaannya sendiri, membuat sifat pak Yanto berubah 180 derajat.
...****************...