
"Leo," gumam Ara.
"Kenapa dia balik lagi...?" Gumam Seno lalu melepaskan tangan Ara, akan tetapi ia berusaha tetap tenang.
"Sayang, ini gak seperti yang kamu lihat kok," kata Ara saat Leo telah mendekat.
Leo menarik tubuh Ara agar dekat dengannya, "Sayang, aku percaya sama kamu."
"Syukurlah," ucap Ara.
Leo yang tadinya tersenyum buat Ara, kini berubah menjadi dingin seperti semula dan menatap Seno dengan penuh amarah.
"Apa yang kamu lakukan terhadap wanitaku?" Jangan kamu pikir, kamu bisa merebutnya dari saya," bentak Leo.
"Terserah saya lah, selagi janur kuning belum melengkung, saya pikir tidak ada salahnya kalau saya berusaha mendekati Kak Ara," kata Seno yang terang-terangan menantang.
"Kamu," ucap Leo dengan kesalnya dan hendak memukul Seno. Tetapi dengan cepat Ara menarik tangan Leo dan menenangkannya.
"Sayang, udah. Kamu gak perlu ladenin bocil kayak gini, dia sengaja mancing amarah kamu," kata Ara.
"Iya nih Kak Leo, emosian banget sih. Santai aja lah Kak, kalau memang kamu yakin Kak Ara cinta sama kamu, harusnya kamu gak perlu takut, tapi aku gak jamin sih kalau Kak Ara bakalan gak tertarik sama aku," kata Seno cengengesan, ia sengaja memancing amarah Leo.
"Apa maksud kamu...?" Bentak Leo.
"Sayang, udah ya. Gak enak ribut-ribut di Kantor. Kamu mau ngapain tadi balik lagi...?" Tanya Ara.
"Hp aku ketinggalan kayaknya," jawab Leo.
"Ya udah, yuk aku temenin ambil hp kamu," kata Ara.
Ara dan Leo kembali ke ruang rapat untuk mengambil ponsel Leo yang ternyata memang tertinggal di atas kursi. Setelah itu, Ara mengantar Leo sampai depan perusahaan.
"Kamu gak barengan sama sekretaris kamu...?" Tanya Ara.
"Gak akan pernah, aku kan udah janji sama kamu Sayang. Aku udah suruh dia balik ke kantor duluan tadi," jawab Leo. "Oh ya kamu jangan dekat-dekat ya sama bocah tengil tadi," pintanya.
"Sayang, Seno itu memang seperti itu orangnya. Aku yakin kok dia gak serius, dia cuma mau mancing emosi kamu aja. Awal-awalnya aku memang selalu emosi kalau ngadepin dia, tapi lama kelamaan aku anggap biasa aja dan gak aku layan, karena kalau di layan terus cuma ngabisin tenaga aku aja," kata Ara.
"Sayang, dia itu gak main-main. Dia serius suka sama kamu dan mau merebut kamu dari aku," kata Leo.
"Masak..? Terus kamu takut gitu aku bakalan tertarik sama dia? Gak mungkinlah Sayang, di hati aku cuma ada kamu. Gini aja, selagi aku bisa percaya kalau kamu bisa jaga hati kamu dari godaan Karina, kamu juga harus percaya kalau aku bisa jaga hati aku buat kamu dari godaan Seno atau siapapun," kata Ara.
__ADS_1
Leo menatap mata calon istrinya itu, hatinya kini begitu tenang mendengar perkataan Ara. Tanpa melihat di sekitarnya, langsung saja ia meraih tubuh Ara ke dalam pelukannya, Ara pun membalas pelukan hangat dari Leo.
Dari kejauhan, Seno yang melihat pemandangan itu segera pergi dengan senyum sinisnya.
...
"Terima kasih ya Bu udah sering-sering datang ke sini," ucap Sarah.
"Kamu ngomong apa sih Sar, ya wajarlah Ibu sering ke sini untuk melihat anak, menantu dan cucu kesayangan Ibu ini," kata bu Sinta.
"Iya bu, Sarah sama Kayla juga seneng banget kalau Ibu ada di sini, apa lagi kalau Ibu mau tinggal sama kita di sini," kata Sarah.
"Syukurlah jika kalian senang, tapi Ibu minta maaf ya, kalau soal untuk tinggal di sini Ibu belum bisa Sar, Ibu belum bisa meninggalkan bisnis katering Ibu," ucap bu Sinta.
"Iya Bu, Sarah paham kok. Yang penting Ibu jaga kesehatan ya, karena kesehatan Ibu lebih penting," kata Sarah.
"Iya Sayang, oh iya tadi katanya kamu mau masak kan? Kamu masak aja, biar Ibu yang jaga Kayla, mumpung Kayla juga lagi tidur," kata bu Sinta.
"Iya Bu, Sarah masak dulu ya, Bryan juga mau pulang makan siang bareng kita di rumah," kata Sarah dan di jawab anggukan oleh bu Sinta.
Sarah bergegas menuju ke dapur untuk memasak.
"Assalammualaikum," ucap Bryan lalu masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam," jawab bu Sinta yang menyambut kepulangan Bryan bersama dengan Kayla.
"Bu," sapa Bryan lalu menyalami serta mencium punggung telapak tangan bu Sinta.
"Papa....." Panggil Kayla dan mendekati Bryan.
"Eh anak Papa sayang, sini," kata Bryan dan menggendongnya.
Lalu mereka pun melangkahkan kami menuju ke ruang makan.
"Pa, udah pulang..?" Tanya Sarah.
"Iya Sayang, baru aja," jawab Bryan.
"Ya udah yuk makan, aku baru aja siap masak, ayo Bu kita makan," ajak Sarah.
"Kamu masak apa Sayang..?" Tanya Bryan.
__ADS_1
"Nih kamu liat aja sendiri," kata Sarah menunjukkan makanan di atas meja yang telah tersaji sotong bakar, ikan gurami saos pedas manis kesukaan bu Sinta, ayam goreng tepung kesukaan Kayla dan capcay kesukaan Bryan.
"Wah... enak banget nih, baunya bikin ngiler," kata Bryan.
"Sarah, kamu masak sebanyak ini, dan ini makanan-makanan kesukaan kita, kamu tidak perlu repot-repot begini Sayang," kata bu Sinta.
"Gak repot kok Bu, Sarah senang bisa masakin makanan kesukaan orang-orang yang Sarah sayang," ungkap Sarah tersenyum.
"Makasih ya Sayang, i love you," ucap Bryan tersenyum.
"Love you too," balas Sarah dan juga tersenyum.
Bu Sinta juga ikut tersenyum menyaksikan kemesraan dan kebahagiaan rumah tangga anaknya itu.
...
Di sebuah gang yang sempit dan sepi juga di temani gelapnya malam, tampak dua orang preman sedang mengganggu seorang wanita.
"Neng buru-buru amat sih, sini dulu dong temenin abang," goda preman botak.
"Iya Neng, entar biar abang yang anterin pulang," goda preman gendut pula.
Wanita yang di goda itu tidak menjawab apa pun, tubuhnya gemetar saat kedua preman semakin mendekatinya. Yang ia rasakan saat ini hanyalah takut dan ingin segera pergi.
"Neng kenapa diam aja? jangan-jangan Neng bisu ya?" Tanya preman gendut.
"Yah sayang banget ya cantik-cantik bisu, tapi gak masalah, yang penting bawah masih bisa di pakai kan Neng," kata preman botak sembari menatap genit dan berpikiran mesum.
Wanita tersebut semakin ketakutan, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, tidak sadar air matanya itu pun menetes dan membasahi pipinya.
"Neng, ayo," ajak Preman gendut dan dengan berani menarik tangan wanita itu.
"Lepasin," teriak wanita itu sambil melepaskan tangannya dengan kasar. Ia hendak kabur dari kedua preman itu, akan tetapi percuma saja, karena tidak mungkin ia sanggup melawan kedua preman tersebut.
"Tolong..... Tolong...." Teriak wanita itu sambil terus menangis.
"Percuma loe teriak-teriak, gak akan ada yang nolongin loe, Hahaha," tawa preman gendut.
"Lepasin wanita itu!" Teriak seorang pria dari kejauhan.
...****************...
__ADS_1