
"Maaf ya Ra, ini semua aku yang salah," ucap Rio dan mengeluarkan air matanya.
"Udah lah Yo, gak usah drama" ucap Leo nyinyir.
Rio yang mendengar perkataan Leo tersebut sangat kesal, ia tidak bisa membantah perkataan Leo di depan banyak orang. Akan tetapi Rio mempunyai rencana lain untuk membalas kekesalannya pada Leo.
Rio mendekati Ara, lalu ia memegang tangan Ara dan di letakkan pada pipinya.
"Ara kamu cepat sadar ya, aku nungguin kamu disini," ucap Rio lagi.
"Rio kamu yang sabar ya," ucap papa Rio menepuk pelan pundak Rio agar ia lebih tenang.
Leo yang melihat akan hal itu merasa sangat kesal.
"Rio stop, berani banget ya loe pegang-pegang tangan Ara seperti itu. Stop Rio, stop....!" Teriak Leo.
Rio sama sekali tidak menggubris Leo dan malah semakin memanasi Leo dengan terus memegang tangan Ara. Akhirnya Leo yang tidak kuat melihat akan hal itu berencana untuk pergi, akan tetapi ia mengurungkan niatnya karena ingin berada di sisi Ara saat Ara terbangun.
"Rio, kata dokter kamu harus istirahat karena kamu juga baru siuman Rio, ayo kita kembali ke ruang rawat kamu," ajak mama Rio.
"Tapi Ma, Ara...." Ucap Rio.
"Rio kamu tenang aja ya, setelah Ara sadar pasti kami akan langsung memberitahu kamu," ucap papi Ara.
"iya Rio, yang penting kamu kembali dulu istirahat" sambung mami Ara.
"Makasih ya Om, Tante," ucap Rio.
"Sama-sama," jawab kedua orang tua Ara dan mengangguk tersenyum.
Rio dan keluarganya kembali ke ruang rawat inap, sehingga membuat Leo bernafas lega.
...
"Kamu mau kemana...?" Tanya Sarah saat melihat Bryan sedang bersiap-siap akan pergi.
"Bukan urusan kamu," jawab Bryan.
"Kenapa sih kamu tega banget sama aku, kamu hanya seorang pengangguran, numpang hidup sama aku, aku yang setiap hari banting tulang urus resto, resto juga peninggalan almarhum orang tua aku, kamu cuma taunya minta duit untuk foya-foya dan tinggal makan aja di resto sesuka kamu. Gak ada tanggung jawabnya kamu sebagai seorang suami," ucap Sarah yang sudah mencapai puncak emosinya.
"Terus kamu mau apa...?" Tanya Bryan pula.
__ADS_1
"Bisa gak kamu hargai aku sedikit aja sebagai istri kamu. Bantu aku di resto, kehamilan aku sudah semakin membesar Bryan, ini anak kamu," pinta Sarah.
"Kamu pikir aku peduli, kamu kan yang mau tetap bertahan sama aku," ucap Bryan tanpa memikirkan perasaan Sarah.
"Aku gak nyangka kamu berubah drastis hanya karena satu kesalahan yang aku perbuat, sementara kamu balas dengan berkali-kali yang menyakitkan hati aku seperti ini. Kesabaran aku juga ada batasnya Bryan," ucap Sarah dan meneteskan air mata.
"Gak usah drama deh, tenang aja dua bulan lagi sehabis kamu melahirkan aku akan langsung talak kamu," ucap Bryan.
"Oke, aku juga udah gak sabar nunggu hari itu tiba," kata Sarah dengan wajah seriusnya.
Bryan heran karena melihat Sarah yang biasanya membantah akan perceraian tetapi kali ini menurutinya.
Lalu Bryan pergi meninggalkan Sarah dan tidak di halangi sama sekali oleh Sarah. Akan tetapi Sarah terduduk dan menangis meratapi nasibnya.
"Kenapa nasib aku jadi seperti ini, kenapa dulunya keluarga aku harus dekat sama keluarga Bryan sehingga kita harus di jodohin. Semenjak mami sama papi pergi, hidup aku hanya sebatang kara, aku kira setelah menikah dengan Bryan hidup aku akan merasakan bahagia, ternyata gak sama sekali," gumam Sarah dan terus menangis .
...
"Bryan kamu ini keterlaluan ya, pantas saja kamu dari tadi disini gak pulang-pulang, ternyata kamu berantem lagi sama istri kamu," bentak Sinta ibunya Bryan.
"Kenapa lagi sih Bu...? perempuan itu ngadu sama Ibu ?" Tanya Bryan.
"Aku gak peduli, dua bulan lagi setelah anak itu lahir, aku akan segera ceraikan Sarah Bu," ucap Bryan.
"Bryan, hentikan omong kosong kamu itu. Pernikahan bukan permainan," bentak ibu Bryan lagi.
"Ibu kan yang dulu minta aku nikah sama Sarah, padahal Ibu tau aku cinta sama Ara Bu. Ini semua salah Ibu," kata Bryan menatap mata ibunya.
Plak... Sebuah tamparan mendarat di pipi Bryan.
"Owh, Ibu sekarang udah main kasar sama aku demi membela menantu kesayangan ibu itu. Tampar aku lagi Bu, tampar...." Teriak Bryan.
"Pergi kamu sekarang dari rumah Ibu, pergi!" Teriak ibu Bryan mengusir anaknya itu.
"Bryan mengambil jaket dan kunci mobil lalu pergi dari rumah orang tuanya.
Bryan pergi ke suatu Bar, di sana ia minum dan mabuk-mabukkan bersama wanita malam hingga dini hari.
Tok.. Tok.. Tok.. Seseorang mengetuk pintu rumah Sarah, Sarah yang belum tidur karena menunggu kepulangan Bryan, bergegas membukakan pintu.
"Bryan.." ucap Sarah saat membuka pintu.
__ADS_1
"Maaf mbak, saya hanya mengantar Pak Bryan saja untuk pulang karena dia mabuk parah," ucap seorang wanita **** yang mengantar Bryan pulang.
"Terimakasih," ucap Sarah.
Wanita tersebut menyerahkan Bryan yang setengah sadar itu kepada Sarah, sedangkan wanita itu langsung pamit untuk pulang. Sarah memapah Bryan dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Keterlaluan kamu Bryan, selain gak bertanggung jawab, sekarang kamu malah asyik-asyikan sama wanita liar di luar sana," gumam Sarah dengan penuh amarah lalu membanting tubuh Bryan di sofa dalam kamar.
...
Keesokan harinya Ara belum juga sadar, Rio yang sangat khawatir sudah bolak balik masuk ke dalam ruang rawat inap Ara untuk melihat kondisinya.
"Om, Tante, kenapa Ara belum sadar juga...?" Tanya Rio kepada kedua orang tua Ara.
"Entahlah Rio, padahal tadi malam Dokter mengatakan bahwa Ara sudah melewati masa krisisnya," jawab papi Ara.
Tiba-tiba Ara kejang-kejang dan kesulitan untuk bernafas, semua orang yang ada di ruangan tersebut yaitu kedua orang tua Ara, kedua orang tua Rio, Rio dan Leo merasa sangat khawatir.
"Ara kamu kenapa Nak...?" Teriak Mami Ara histeris.
"Ara..." Panggil Rio.
"Ara kamu kenapa sayang?" Tanya Leo.
Papi Ara segera berlari mencari dokter.
"Harap semua keluar dulu," perintah dokter yang baru saja datang bersama suster.
"Tapi saya mau lihat anak saya Dok, kenapa dengan anak saya?" kata mami Ara menangis.
"Bu, Tolong keluar dulu. Percaya sama kamu, kami akan lakukan yang terbaik untuk anak ibu," ucap suster.
"Cepat Sus," panggil Dokter.
"Ayo mi," ajak papi Ara yang merangkul dan menuntun istrinya keluar.
Semua keluar dari ruangan Ara. Hanya Leo yang tersisa karena ia tidak bisa di lihat oleh Dokter mau pun Suster.
Dokter segera memberikan pertolongan untuk Ara. Berulang kali Dokter mencoba menormalkan detak jantung Ara tetapi detak jantungnya semakin melemah dan sempat terhenti.
***
__ADS_1