
"Lepasin! Kamu siapa sih?" Teriak Ara sembari memberontak dengan memukul dada orang tersebut.
"Tiba-tiba saja lampu menyala, Ara segera mendorong orang tersebut hingga terbentur ke dinding.
"Akh," rintih orang tersebut karena merasa kesakitan, kepalanya terbentur dinding.
Ara terkejut melihat orang tersebut, perasaan yang tadinya takut kini beralih menjadi rasa panik.
"Sayang, kamu ngapain di sini?" Tanya Ara sembari mendekati Leo.
Leo memegangi kepalanya yang terasa sakit, lalu melihat ke arah Ara seraya berkata, "Sayang, ini aku Leo. Aku cuma mau kasih kamu ketenangan aja, aku tahu kamu takut gelap kan? Pas banget aku sampai sini tadi lampunya mati," terang Leo.
"Terus kenapa kamu diam aja? Kenapa kamu nggak ngomong? Ya mana aku tahu kalau itu kamu. Maafin aku ya Sayang," ucap Ara, ia merasa sangat bersalah karena telah mendorong Leo hingga kepalanya terluka.
"Iya nggak papa kok Sayang," jawab Leo.
"Beneran nggak apa-apa? Sini aku liat," tanya Ara lalu meraba kepala tunangannya itu.
"Akh," rintih Leo lagi saat Ara tidak sengaja menyentuh kepalanya yang memar.
"Duh … pasti sakit banget ya Sayang, ini merah loh. Ya udah kita duduk aja dulu ya biar aku obatin kepala kamu," ajak Ara, lalu mereka pun kembali masuk ke dalam ruang kerja Ara.
Leo duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut, sementara Ara segera mengambil kain dan juga air hangat untuk mengompres kepala Leo yang memar akibat terbentur dinding tadi.
Dengan telaten, Ara mengobati kepala calon suaminya itu hingga perih yang dirasakannya berangsur hilang.
"Gimana, udah mendingan belum?" Tanya Ara.
"Udah, makasih ya Sayang," jawab Leo.
Kini wajah mereka begitu dekat, keduanya saling bertatapan, Leo beralih melihat bibir merah merona Ara yang selalu membuatnya rindu dan candu. Ia semakin mendekati wajah Ara, hembusan nafasnya pun kini mulai terasa di wajah sang pujaan hati. Ara yang mengerti akan maksud tunangannya itu pun langsung saja meminjamkan matanya. Karena mendapatkan lampu hijau dari Ara, Leo pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Leo segera menempelkan bibirnya di bibir ranum milik Ara, ia menggigit kecil bibir Ara agar memberikan celah untuk Leo memasuki rongga mulutnya, setelah itu lidahnya dan Ara pun saling bergantian bermain-main di dalam mulut pasangannya secara bergantian, sambil sesekali mereka bertukar saliva.
__ADS_1
...
Saat ini, Bu Tania sedang berada di rumah sakit untuk melihat kondisi Cinta dan juga bayinya.
"Cinta, selamat ya atas kelahiran anak kamu, cantik banget persis seperti Mamanya," ucap bu Tania.
"Makasih ya Tante, pasti cantiknya juga keturunan dari Tante deh, Neneknya," ucap Cinta tersenyum.
"Apa …?! Kamu bilang apa Cinta? Maksud kamu Saya Neneknya?" Tanya bu Tania, ia ingin memastikan jika yang ia dengar tadi tidak salah.
"Iya Neneknya, Tante kan Neneknya? Emang siapa lagi yang Cinta maksud Neneknya di sini," jawab cinta menatap bu Tania.
Bu Tania menggenggam erat tangan Cinta, matanya berkaca-kaca karena sangat terharu mendengar Cinta menyebutnya adalah Nenek dari anak yang ia lahirkan.
"Tante, kenapa Tante jadi sedih?" Tanya Cinta. "Maaf ya kalau kata-kata Cinta ada yang salah," ucapnya.
"Enggak Cinta, ucapan kamu sama sekali nggak salah. Tante cuma nggak menyangka aja kalau kamu mau mengakui Tante sebagai Nenek dari anak yang kamu lahirkan ini," jawab bu Tania.
"Pasti Tante juga tau kan gimana kondisi keluarga Cinta, orang tua Cinta dan Beni sama-sama nggak ada yang setuju dengan pernikahan kami, apalagi menerima anak ini Tan. Cinta juga nggak mau egois dengan membiarkan anak ini tanpa kasih sayang dari seorang Nenek, terlebih lagi Tante memang Nenek kandung dari anak Cinta," ucap cinta yang kini pun ikut terharu dan meneteskan air matanya.
"Oh ya Cinta, kalau Tante boleh tau nama anak kamu siapa?" Tanya bu Tania.
"Tante, itu dia yang Cinta bahas sama Beni tadi. Rencananya kami mau kasih nama anak kami dengan meminta persetujuan Tante juga sebagai Neneknya," kata Cinta.
"Oh ya, emang kamu mau kasih namanya siapa?" Tanya bu Tania.
"Clarissa Angelia Hermawan, Angelia dari nama belakang Cinta, dan nama Hermawan dari nama belakang Mas Beni," jawab Cinta. "Tante nggak masalah kan?" Tanyanya.
"Nama yang indah. Tante setuju, nggak mungkin lah kalau Tante mempermasalahkan nama itu, itu anak kamu Cinta. Tante nggak berhak ikut campur. Sudah diakui sebagai Nenek dari Clarissa aja, Tante udah seneng banget," jawab bu Tania.
"Iya tante, makasih ya ucap Cinta.
__ADS_1
"Kamu nggak perlu makasih Cinta, justru Tante yang terimakasih banget sama kamu dan Beni, karena Tante udah dikasih kesempatan ini," ucap bu Tania pula.
"Iya Tante sama-sama," jawab Cinta dengan senyuman yang mengambang.
"Tante boleh nggak gendong Clarissa?" Tanya Bu Tania.
"Tentu aja boleh Tante, silakan!" Jawab Cinta.
Lalu Bu Tania pun mengambil Clarissa dari ranjang dan menggendongnya, Clarissa begitu tenang berada di pelukan hangatnya bu Tania, seakan mengerti yang menggendongnya tersebut adalah Neneknya. Cinta yang melihat akan hal itu pun tersenyum dan ikut merasakan bahagia.
...
"Jelaskan ke Papi ada apa ini Tama? Kenapa tiba-tiba Pak Ardi dan Pak Jackson memutuskan kerjasamanya dengan perusahaan kita? Kamu tau kan perusahaan mereka sangat berpengaruh terhadap perusahaan kita? Apa yang sudah kamu lakukan?" Bentak Pak Tedy dengan penuh amarah.
"Maksud Papi apa? Aku sama sekali nggak ngerti. Aku udah mengurus perusahaan Papi dengan baik, buktinya perusahaan kita maju kan semenjak aku yang mengelola perusahaan ini? Papi bisa tenang mengurus perusahaan kita yang ada di luar Negeri," kata Tama.
"Apa kamu bilang? Bisa mengurus perusahaan dengan baik? Apa ini yang kamu bilang bisa mengurus dengan baik?" Tanya pak Tedy yang begitu emosi sembari mencampakkan sebuah berkas di atas meja tepat di depan wajah Tama.
"Ini apa Pi?" Tanya Tama.
"Kamu lihat sendiri dan kamu pahami apa itu isinya," jawab pak Tedy yang emosinya semakin berapi-api.
Tama pun segera membuka berkas tersebut yang isinya adalah laporan perusahaan mereka yang hampir bangkrut, pasalnya karena dua perusahaan besar telah membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan Jaya Group.
"Ini apa-apaan Pi? Aku nggak tahu salah aku apa sampai-sampai mereka membatalkan kerjasamanya dengan kita," kata Tama.
"Jelas saja kamu tidak tau, karena yang kamu lakukan hanya bersenang-senang dan bermain dengan wanita," kata pak Tedy.
"Apa maksud Papi? Udah jelas-jelas aku setiap hari ada di perusahaan, ngurusin perusahaan kita Pi," kata Tama.
"Masih mau mengelak kamu? Ini apa?" Bentak pak Tedy lagi sembari mencampakkan beberapa lembar foto.
__ADS_1
Tama melihat foto tersebut, ia sangat terkejut karena yang ada di dalam foto tersebut adalah foto mesra dirinya bersama seorang wanita di sebuah klub malam.
...****************...