
Leo menatap wajah kekasihnya itu dan mencoba memberi pengertian agar Ara tahu mengapa ia melarangnya pergi.
"Sayang kamu ngomong mau ke New York udah kayak mau ke Bogor aja, ini jauh loh Sayang. Aku khawatir takut kamu kenapa-napa," kata Leo.
"Kamu gak perlu khawatir, aku udah sering kok bolak balik keluar Negeri sendirian," kata Ara.
"Iya aku tau, tapi ini kondisinya beda," kata Leo.
"Apanya yang beda?" Tanya Ara.
"Kamu lagi emosi dan panik," jawab Leo.
"Ya terus emangnya kenapa? Pokoknya dengan atau tanpa izin dari kamu, aku akan tetap pergi," ucap Ara dengan tegas dan perasaan yang menggebu-gebu.
"Gimana kalau Mami kamu gak izinin?" Tanya Leo.
"Aku gak peduli," jawab Ara.
"Huft … ya udah, kamu pergi bareng aku," ucap Leo.
Ara membelalakkan matanya karena sangat terkejut mendengar apa yang baru saja Leo ucapkan. Ada rasa percaya dan tidak percaya juga, bisa saja Leo sedang merencanakan sesuatu untuk menggagalkan rencananya, terlintas pikiran negatif dalam otak Ara.
"Kenapa? Kamu gak mau pergi bareng aku?" Tanya Leo.
"Bu-bukannya aku gak mau, tapi aku gak percaya. Apa kamu yakin? Terus gimana sama kerjaan kamu?" Tanya Ara.
"Hah? Kamu gak percaya sama aku? Aku serius Sayang. Soal kerjaan aku bisa minta Karina buat menghandle beberapa hari, lagian Papi juga ada di sini, ditambah lagi besok dan lusa itu weekend" jawab Leo.
"Makasih ya Sayang," ucap Ara tersenyum lalu memeluk Leo dengan erat, hatinya pun kini terasa lebih tenang.
"Sama-sama Sayang," jawab Leo dan membalas pelukan hangat sang pujaan hati.
*****
Keesokan harinya, Ara dan Leo pun berangkat ke New York Amerika serikat. Tentunya mereka sudah memberitahu dan mendapatkan izin dari orang dan juga sudah memberitahu teman-temannya.
__ADS_1
Setelah memakan waktu sekitar kurang lebih 25 jam, akhirnya Ara dan Leo tiba di New York dan langsung saja mereka bergegas ke rumah sakit tempat Nadia di rawat.
Rumah Sakit XX New York Amerika Serikat.
Setibanya di rumah sakit, Ara dengan tergesa-gesa turun dari transportasi umum, ia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Nadia, tepatnya untuk melihat kondisi Nadia saat ini.
"Sayang, tungguin dong," panggil Leo.
"Buruan dong, aku udah gak sabar mau liat Nadia," kata Ara.
"Iya Sayang bentar," kata Leo.
Leo tampak kesusahan karena membawa dua koper dan tas samping, sedangkan Ara hanya membawa tas selempang miliknya sendiri dan bingkisan untuk Nadia yang ia bawa dari Indonesia.
Setelah menitipkan koper mereka di loby rumah sakit, mereka berdua bergegas melangkahkan kaki ke ruang ICU tempat Nadia berada. Setibanya di tempat tujuan, terlihat Rio dan bu Jasmine yang sedang duduk di depan ruang ICU, wajah keduanya sembab, dan sorotan matanya tampak sendu diselimuti keputusasaan. Langsung saja Ara dan Leo menghampiri mereka yang sepertinya belum menyadari kedatangan tamu dari Indonesia itu.
"Tante, Rio," panggil Ara.
Bu Jasmine dan Rio menatap ke arah sumber suara, dan sontak saja mereka sangat terkejut dan tidak percaya melihat Ara dan Leo ada di depan mata mereka berdua.
"Ara," gumam bu Jasmine. Lalu Ara dan bu Jasmine langung berpelukan erat dengan air mata yang lolos begitu saja.
Sementara itu, Rio hanya bisa menunduk dan meneteskan air mata, Leo yang melihat Rio seperti itu segera menghampirinya dan menepuk pelan pundak Rio.
"Yang Sabar ya Yo," ucap Leo.
"Makasih ya Yo, makasih juga kalian udah mau datang ke sini," ucap Rio.
"Iya sama-sama Yo, ini semua juga demi Ara ya yang khawatir banget sama Nadia," ucap Leo.
"Ara, Leo, makasih banget ya kalian uda datang ke sini, tadinya Tante gak percaya waktu Rio bilang ke Tante," ucap bu Jasmine.
"Iya Tante sama-sama," jawab Leo.
"Sama Tante, Ara mau liat Nadia Tante," ucap Ara.
__ADS_1
Bu Jasmine menunjuk ke arah ruangan yang dimana di dalamnya ada Nadia dalam kondisi tidak sadarkan diri, Nadia yang hidup tapi seperti mati. Segera saja Ara dan Leo mendekati ruangan tersebut dan melihat kondisi Nadia dari balik kaca.
Suara tangisan histeris keluar begitu saja dari mulut Ara saat ia melihat kondisi Nadia yang dipasangi oleh beberapa peralatan medis. hatinya begitu hancur, rasanya Ara ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Nadia saat ini.
"Nadia, kenapa bisa jadi seperti ini, bangun Nad, aku kangen banget sama kamu. Kamu lupa ya sama janji kamu kalau nanti kamu udah jadi Dokter, maka pengobatan keluarga aku dan Sarah gratis. Kamu harus buktikan janji kamu itu, kamu harus kuat bertahan Nadia," gumam Ara yang tidak henti-hentinya menangis.
"Sayang jangan kayak gini dong, Nadia pasti kuat kok. Kamu jangan nangis terus, pasti Nadia gak mau liat kamu sedih," ucap Leo.
"Jadi kamu mau aku tertawa gitu liat kondisi Nadia saat ini? Itu gak akan mungkin," teriak Ara.
Seorang Suster datang menghampiri mereka dan memberitahu untuk tidak berteriak di rumah sakit karena akan mengganggu ketenangan pasien. Akhirnya dengan terus berada didalam dekapan Leo membuat Ara bisa mengontrol emosinya dan menjadi lebih tenang. Kini mereka duduk bersama bu Jasmine dan juga Rio.
"Tante, apa aku boleh masuk samperin Nadia?" Tanya Ara.
"Untuk saat ini belum, tunggu Dokter datang dulu periksa kondisi Nadia, baru nanti kita bergantian melihatnya," jawab bu Jasmine.
"Aneh banget sih peraturan di rumah sakit ini," gerutu Ara.
"Ya seperti itu lah Ra, bahkan Tante Jasmine yang ibunya aja gak boleh nemenin di dalam, sampai kami harus 24 jam di sini hanya untuk menunggu jadwal menemani Nadia. Itupun hanya satu jam setiap harinya," kata Rio.
"Satu orang satu jam?" Tanya Leo.
"Gak Yo, satu jam di bagi untuk berapa orang yang mau melihat dan harus bergantian serta lengkap dengan alat pelindung diri kita," jawab Leo.
"Oh ... segitunya banget ya," kata Leo.
"Ya namanya udah peraturan rumah sakit mau gak mau kita harus ikut," kata Rio.
"Tante sama Rio udah makan?" Tanya Ara.
"Gak selera makan dalam kondisi kayak gini Ra," jawab Rio.
"Tante juga?" Tanya Ara yang hanya dijawab anggukan pelan oleh bu Jasmine.
"Tante, Rio, kalian gak boleh gitu ya, jangan sampai kalian juga jadi ikutan sakit, siapa coba yang mau jaga Nadia nantinya. Kamu juga Rio, harusnya di saat Tante Jasmine gak mau makan itu kamu pujuk dong, kan kamu lebih muda. Ini malah ikut-ikutan gak makan," kata Ara.
__ADS_1
...****************...