
"Aku rasa kamu udah gila ya Mas, bisa-bisanya kamu berpikir kotor seperti itu. Cinta itu wanita, sama kayak aku, kita nggak mungkin ngelakuin hal rendah seperti itu Mas. Kalau memang Cinta pernah melakukan kesalahan dengan selingkuh dengan Beni dan hamil anak Beni, kenapa juga dia harus ngaku-ngaku itu anak Rolan? Dia bisa aja kok minta tanggung jawab langsung sama Beni. Karena Cinta tau kalau Beni itu mencintainya. Kamu itu nggak tau apa-apa Mas, jadi nggak usah ngomong sembarangan," kata bu Tania. Ia pun langsung saja meninggalkan suaminya itu menuju ke kamar.
Sedangkan Pak Hernanda mengepal erat kedua tangannya menahan emosi, jika bu Tania bukan wanita yang dicintainya, sudah pasti dia akan menghajarnya. Sorotan matanya begitu tajam menatap punggung istrinya yang telah menjauh.
"Cucu, cucu, cucu, sudah jelas-jelas bukan cucunya masih juga mengaku cucunya sendiri," gerutu pak Hernandes.
Sementara itu, bu Tania yang berada di dalam kamarnya itu langsung saja meraih ponsel yang ada di atas nakas dan menghubungi Cinta.
"Halo Tante," ucap Cinta dari seberang telepon.
"Halo Cinta, kamu dan Clarissa apa kabar?" Tanya bu Tania.
"Alhamdulillah aku sama Clarissa baik-baik aja kok Tante, Tante sendiri gimana kabarnya?" Jawab Cinta dan bertanya balik.
"Kalau kondisi Tante sih sehat, tapi hati Tante yang tersiksa," jawab bu Tania.
"Maksud Tante? Tante ada apa?" Tanya Cinta.
"Ya seperti itulah Cinta, saat ini suami Tante lagi ada di rumah, dia sama sekali nggak ngizinin Tante buat ke rumah kamu buat ketemu sama Clarissa. Padahal Tante udah kangen banget sama Clarissa, udah tiga hari kita nggak ketemu. Terakhir Tante lihat Clarissa waktu di pernikahan Ara dan Leo, itu pun Tante nggak bisa gendong karena Om Hernandes nggak ngizinin," kata bu Tania.
"Tante, Tante yang sabar ya. Aku rasa Clarissa juga kangen nih sama Tante, karena kadang-kadang dia suka merengek dan gak mau dipujuk sama aku ataupun Beni," kata Cinta.
"Oh ya?" Ucap bu Tania.
Hatinya begitu menghangat saat mendengar ucapan Cinta, memang ikatan batin antara cucu dan neneknya itu tidak dapat dipungkiri, terlebih lagi bu Tania sudah pernah tinggal di rumah Cinta hampir sebulan, selalu menjaga dan menemani Clarissa.
"Cinta, maafin Tante ya karena saat ini Tante belum bisa balik ke rumah kamu," ucap bu Tania.
"Nggak apa-apa Tante, kalau memang Om Hernandes nggak ngizinin, sebaiknya nggak usah dulu ya. Aku nggak mau gara-gara ini, Tante malah jadi berantem sama Om Hernandes. Mendingan Tante di rumah dulu sesuai keinginan Om Hernandes," kata Cinta.
__ADS_1
"Iya Cinta, tapi kalau Om Hernandes nanti pergi ke luar Negeri lagi, Tante pasti akan ke rumah kamu dan akan tinggal di rumah kamu lagi, boleh kan?" Kata bu Tania.
"Ya Tante boleh kok, aku sama Clarissa nungguin kedatangan Tante," kata Cinta.
"Makasih ya Sayang," ucap bu Tania.
"Iya sama-sama Tante," jawab Cinta.
Hingga tidak berapa lama kemudian, panggilan telepon terakhir.
...
Saat ini Ara dan Leo sedang berkunjung ke kediaman orang tua Leo. Leo yang sangat merindukan kamarnya itu pun langsung saja mengajak sang istri masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas kasur.
"Duh … aku kangen banget sama kamar ini, udah tiga malam aku nggak tidur di sini. Pokoknya malam ini kita tidur di kamar ini ya Sayang," kata Leo.
"Iya, kamu gimana sih Sayang, kan nanti malam kita memang mau nginap di sini. Ya gantian dong, kemarin kita udah tiga hari di rumah aku dan sekarang tiga hari di rumah kamu, setelah itu kita pergi ke Cappadocia dan pulang dari sana baru kita pindah deh ke rumah kita," kata Ara.
"Jadi, tapi nggak tahu juga deh, katanya sih kalau mau diantar bakalan hubungi aku," kata Ara.
"Oh gitu, berarti kalau mereka jadi antar barangnya, kita harus ke rumah baru kita lagi dong nanti," kata Leo.
"Ya iyalah Sayang, pokoknya kita harus memastikan semuanya beres, rapi sebelum kita honeymoon. Jadi kalau nanti kita pulang, semuanya udah beres dan kita tinggal masuk aja," kata Ara.
"Iya kamu benar, memang cerdas deh istri aku," puji Leo. "Maaf ya Sayang, aku cuma bisa kasih kamu kado pernikahan rumahnya aja tanpa isi. Habisnya aku bingung sih, takut nggak sesuai sama selera kamu, karena kamu juga pernah bilang kan sama aku kalau kamu pengen punya rumah impian yang dalamnya itu, seluruh furniture-nya kamu yang atur," kata Leo.
"Gak papa Sayang, justru aku tuh mau makasih banget sama kamu karena udah ngasih aku kado rumah impian aku. Walaupun furniture-nya aku yang pilih sendiri, tapi kan kamu juga yang bayar, jadi sama aja dong," kata Ara.
"Tapi kan ada juga tuh yang kamu beli pakai uang kamu sendiri," kata Leo.
__ADS_1
"Ya gak masalah dong Sayang, kita ini sekarang udah menikah, jadinya kita ya harus sama-sama lah. Lagian masalah pilih-pilih furniture itu sebenarnya aku juga suka kalau kamu ikut memberikan pendapat, memberikan ide, karena itu adalah rumah kita berdua," kata Ara.
"Iya sayang, asik ya kalau udah menikah ini apa-apa harus sama-sama, harus saling mendukung," kata Leo.
"Ya begitulah," kata Ara.
Saat mereka sedang asyik mengobrol di kamar, Bu Amara pun datang menghampiri mereka berdua.
"Ara, Leo," panggil bu Amara.
"Iya Mi," jawab Ara dan Leo hampir bersamaan.
"Mami boleh masuk nggak?" Tanya bu Amara.
"Boleh dong Mi, masuk aja," jawab Leo. Lalu bu Amara melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan mendekati anak dan menantunya itu.
"Ada apa Mi? Tumben banget mau masuk kamar pake nanya dulu, biasanya juga langsung masuk," kata Leo.
"Ya beda dong, itu kan waktu kamu masih sendiri, sekarang kamu udah punya istri. Masa iya Mami mau nyelonong masuk gitu aja," kata bu Amara.
"Oh iya ya Mi, Leo lupa kalau udah punya istri," kata Leo sembari menatap Ara dan hanya ditanggapi senyuman oleh istrinya itu.
"Ara, Leo, kalian malam ini nginap di sini kan?" Tanya bu Amara.
"Iya Mi, kami memang niatnya bakalan nginap tiga malam di sini sebelum kami berangkat ke Cappadocia," jawab Leo.
"Oh ya bagus dong, Mami juga pengen dekat sama kalian sebelum kalian nanti pindah," kata bu Amara.
"Iya Mi, tapi walaupun Ara dan Leo nanti udah pindah, kami bakalan sering-sering kok main ke sini, ke rumah Mami dan ke rumahnya Mami Maria juga," kata Leo.
__ADS_1
...****************...