
Malam ini jalanan terlihat sepi, cuaca yang tadinya cerah karena adanya sinar rembulan dan bintang kini tiba-tiba berubah menjadi gelap karena hujan lebat yang membuat jalanan semakin sunyi, sesekali juga terdengar suara petir yang saling menyambar. Akan tetapi itu sama sekali tak menghalangi niat Arka untuk segera menghampiri Rio, ia ingin segera menanyakan tentang kejelasan hubungannya dengan adiknya, Aria.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam di perjalanan, karena lokasi rumah Sherin dan rumah Rio yang tidak searah, akhirnya Arka pun telah tiba di rumah Rio. Ia langsung saja mengetuk keras pintu rumah Rio itu seperti orang yang sedang kesetanan
Tok … tok … Tok …
"Yo buka pintunya!"
Ting … tung …
"Rio … !"
Arka berulang kali mengetuk dan menekan bel rumah Rio sembari berteriak memanggilnya. Akan tetapi tidak ada tanda-tanda kemunculan Rio sama sekali. Entah Rio sudah tidur atau karena suara hujan lebat yang membuatnya tidak mendengar akan suara bel dan ketukan pintu tersebut.
Karena tak mendapat respon apapun dari Rio, akhirnya Arka pun memutuskan untuk pulang. Tubuhnya telah basah kuyup karena menerobos hujan lebat, bolak-balik ke mobil tidak menggunakan payung.
...
Keesokan hari, Rio dan Aria bekerja seperti biasanya. Akan tetapi Rio kali ini merasa aneh karena sifat Aria yang tak seperti biasanya. Aria yang biasanya selalu ramah dan akrab terhadap Rio, kali ini hanya terlihat diam saja. Bahkan saat bekerja pun Aria hanya membahas hal-hal yang penting saja, tidak menanyakan hal-hal yang lain yang terkadang membuat Rio risih dan enggan menjawabnya. Rio pun merasa heran dengan sikap Aria itu, akan tetapi ia berusaha menganggapnya itu biasa saja, mungkin saja hari ini Aria memang sedang tidak mood atau sedang ada masalah yang menimpa dirinya.
"Aria, yuk ke kantin," ajak Rio yang menghampiri sekretarisnya di meja kerjanya itu.
"Kakak duluan aja, aku bawa bekal kok. Jadi gak perlu antri di kantin," kata Aria.
"Tumben, kamu nggak bawain aku?" Tanya Rio.
Aria memutar bola matanya malas lalu menggelengkan kepalanya.
"Boleh nggak aku minta bekal kamu?" Tanya Rio.
"Kakak gak usah bercanda lah. Kalau Kakak makan bekal aku, terus aku mau makan apa?" Tanya Aria Ketus.
__ADS_1
Rio terkejut dan semakin heran melihat sikap Aria yang tiba-tiba berubah 90 derajat. Rio yang niatnya hanya bercanda tetapi ternyata malah membuat Aria menjadi ketus padanya. Padahal biasanya Aria selalu merespon candaannya itu.
"Ar, aku minta maaf kalau kata-kata aku salah. Aku cuma bercanda aja kok tadi. Kamu juga mau makan di kantin kan, kita barengan aja yuk kayak biasa," ucap Rio dan mengajaknya sekali lagi.
"Nggak mau Kak. Kakak duluan aja, ntar aku nyusul. Sekarang aku masih ada kerjaan," kata Aria.
"Aria kerjaannya kan bisa disambung nanti. Ini udah waktunya istirahat, kita harus makan," kata Rio.
"Stop! Bisa nggak sih kamu nggak usah sok peduli dan perhatian sama aku, nggak usah maksa, aku belum lapar. Sebentar lagi aku juga bakalan makan kok, aku bisa makan sendiri tanpa harus disuruh-suruh. Memang Kakak siapa maksa-maksa aku kayak gitu," bentak Aria sembari memelototinya.
Ucapan Aria kali ini benar-benar membuat Rio mati kutu, dia tidak menyangka jika Aria bisa membentaknya seperti itu. Aria yang biasanya berbicara lemah lembut dan tidak pernah menolak ajakannya, kali ini benar-benar terlihat sangat menghindarinya. Akhirnya Rio pun segera beranjak pergi meninggalkan Aria sendirian dan menuju ke kantin. Akan tetapi hatinya begitu tidak tenang, ia memikirkan perubahan sikap Aria kepadanya. Entah kesalahan apa yang telah diperbuatnya sehingga membuat Aria seperti itu.
"Aria kenapa ya? Aneh banget. Apa aku ada buat salah sama dia? Tapi kayaknya nggak deh. Ya udahlah, nanti juga pasti bakalan baik lagi," gumam Rio lalu ia pun melahap makanan yang sudah ada di depan matanya.
...
"Mami, Ara gimana keadaannya?" Tanya Leo yang baru saja pulang dari kantor.
"Iya Mi, masih muntah-muntah gitu ya Mi?" Tanya Leo lagi.
"Ya begitulah, kemungkinan dalam usia kandungan trimester awal ini Ara akan selalu mengalami morning sickness, seperti itu juga yang Dokter bilang ke Mami," jawab bu Amara.
"Memang berapa lama Mi?" Tanya Leo.
"Biasanya sih tiga bulan ya kalau trimester awal aja. Tapi bisa jadi berkelanjutan, bahkan ada yang sampai lahiran," jawab bu Amara.
"Hah? Lama banget. Leo kasian Mi sama Ara, Leo nggak bisa ngebayangin kalau istri Leo kondisinya kayak gitu terus sampai 9 bulan, kasian Mi," kata Leo yang begitu terlihat sangat mengkhawatirkan sang istri.
"Ya mudah-mudahan aja Ara nggak selama itu. Ya udah sana kamu masuk liat istri kamu, jangan lupa mandi dulu bersih-bersih, ntar Ara makin mual lagi dekat-dekat kamu," kata bu Amara.
"Iya Mi, Leo langsung mandi kok. Leo tau Mi sekarang itu istri Leo benar-benar lagi sensitif banget hidungnya, nggak bisa nyium bau apapun. Bahkan Leo wangi-wangi aja bikin dia muntah," kata Leo.
__ADS_1
"Hm … tu tau. Ya begitulah ibu hamil," kata bu Amara.
Lalu Leo segera saja melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya yang terletak di lantai 2. Sedangkan bu Amara pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.
Saat tiba di kamar, Leo melihat sang istri yang saat itu sedang muntah. Ia segera berlari menghampiri istrinya itu.
"Sayang kamu muntah lagi?" Tanya Leo sembari mengusap pundak Ara.
"Iya, maaf ya Sayang karena kamu baru pulang udah liat aku muntah," ucap Ara.
"Nggak papa lah Sayang, tapi bukannya tadi kata Mami kamu baru muntah terus istirahat?" Tanya Leo.
"Iya, kira-kira setengah jam yang lalu," jawab Ara.
"Sayang, kamu jadi keliatan kurus banget loh. Padahal usia kandungan kamu baru aja satu bulan tapi udah tersiksa kayak gitu," kata Leo.
"Sayang, aku sama sekali nggak merasa tersiksa kok. Kamu nih kenapa ngomong kayak gitu sih. Ada anak kita loh di dalam sini, kalau dia dengar gimana," kata Ara menunjuk perutnya.
"He … he … he … maafin Papa ya Sayang, Papa nggak bermaksud kayak gitu kok. Habisnya Papa kasihan sama Mama kamu, kamu pasti mengerti kan maksud Papa," ucap Leo sembari mengelus lembut perut istrinya.
Lalu Leo pun membantu Ara untuk berbaring kembali di tempat tidurnya.
"Kamu mandi dulu gih! Bau keringat," kata Ara.
"Iya, iya, ini aku mandi. Kamu baring aja ya dulu di sini. Janji jangan kemana-mana, ntar aku temenin kamu selesai mandi," kata Leo.
"Iya, emangnya aku mau ke mana juga. Bahkan buat bangun aja kepalaku pusing banget," kata Ara.
Leo pun bergegas ke kamar mandi dan membersihkan dirinya secepat kilat agar bisa menemani istri tercintanya itu.
...****************...
__ADS_1