
Rio yang sangat panik melihat kondisi calon istrinya itu tergeletak di lantai dengan tiang infus yang menimpa yang menimpanya, bahkan kini darah Nadia yang sedang menjalar di dalam selang infus tersebut, langsung saja menggendong Nadia lalu bergegas memanggil Dokter dan Nadia pun segera ditangani.
...
"Kenapa ya tiba-tiba jadi kepikiran Nadia gini, udahlah Nadia susah banget dihubungi akhir-akhir ini, eh malah Rio juga ikut-ikutan ngilang lagi. Mudah-mudahan aja deh gak terjadi apa-apa sama Nadia maupun Rio," ucap Ara yang bermonolog dengan hatinya.
"Mbak, Mbak Ara ...," panggil Amira. Sejak makan bersama di restauran saat itu, Ara meminta Amira jangan memanggilnya dengan sebutan ibu lagi kecuali di depan pegawai lain, tujuannya untuk menghindari kecemburuan atau menimbulkan hal-hal yang negatif.
"Mbak Ara!" Panggil Amira lagi karena tadi belum ada jawabannya, tapi kali ini Amira sembari memegang lembut pundak Ara Sehingga Ara pun tersadar dari lamunannya.
"Eh Amira, kamu udah lama ya ada di sini?" Tanya Ara.
"Belum kok Mbak, baru aja. Maaf ya Mbak aku udah lancang pegang pundak Mbak, karena aku liat Mbak lagi melamun," ucap Amira.
"Gak papa Mir, kenapa juga harus minta maaf. Kamu benar kok kalau aku memang lagi melamun, ucap Ara.
"Kalau Mbak mau dan gak keberatan saya tau, Mbak boleh kok cerita sama aku biar beban di hati Mbak sedikit berkurang," kata Amira.
"Aku sama sekali gak keberatan kok Mir kalau kamu tau, kamu duduk dulu dong," kata Ara, lalu Amira pun duduk di samping Ara.
"Ya udah Mbak, cerita aja sama aku. Aku orangnya bisa di percaya kok. Aku gak bakalan cerita sama siapa-siapa Mbak," kata Amira.
"Hm ... aku lagi kepikiran aja sama sahabat aku yang ada di New York. Gak tau kenapa aku ngerasa terjadi sesuatu sama dia, soalnya akhir-akhir ini juga susah banget dihubungi, bahkan tunangannya juga gak bisa dihubungi," kata Ara.
"Maksud Mbak tunangannya sahabat Mbak itu ya?" Tanya Amira.
"Iya Mir, kalau ada apa-apa harusnya dia tau dan aku bisa nanya ke dia gitu loh," kata Ara.
"Iya Mbak aku ngerti kok perasaan Mbak, Mbak tenang ya, kita doain aja semoga sahabat Mbak itu gak kenapa-napa," ucap Amira.
"Aamiin, makasih banyak ya Mir," ucap Ara pula. Entah kenapa ia merasa tenang setelah menceritakannya kepada Amira. Meskipun mereka baru saja kenal selama tiga minggu, tetapi Ara merasa sudah lama mengenalnya.
"Iya sama-sama Mbak," jawab Amira.
__ADS_1
"Oh ya, kamu tadi nyamperin aku ada apa?" Tanya Ara.
"Oh iya jadi lupa, ini Mbak aku mau kasih berkas tentang perencanaan peresmian perusahaan Mbak Minggu depan," jawab Amira sembari memberikan berkas tersebut kepada Ara.
"Oke! Nanti aku cek, makasih ya Mir. Jangan lupa ya kamu cek file yang aku kirim ke email kamu tadi," kata Ara.
"Udah kok Mbak, nanti aku kirim ringkasannya ya," kata Amira.
"Oke Mir," jawab Ara.
Lalu Amira pun kembali ke meja kerjanya, saat ini Ara dan Amira memang masih bekerja dalam satu ruangan yaitu di ruang kerja Ara, setelah peresmian baru Amira akan pindah ke meja kerjanya sendiri yang terletak tidak jauh dari ruang kerja Ara.
"Cekatan banget, persis kayak Seno," gumam Ara sambil menatap Amira dan senyum-senyum sendirian.
...
Seno sedang berada di sebuah cafe menunggu seseorang yang memintanya datang ke cafe tersebut. Hingga tiga puluh menit berlalu, barulah muncul seseorang yang menemuinya.
"Kak Leo, Kak Ara mana?" Tanya Seno.
"Nunggunya sampai setengah jam, eh taunya cuma Kak Leo yang datang ke sini," gerutu Seno.
"Cih, maksud kamu apa ngomong kayak gitu? Kalau bukan Ara yang minta, saya juga gak mau ketemu sama kamu," ungkap Leo.
"Kalau bukan Kak Ara yang suruh ke sini, aku juga gak mau ke sini," ungkap Seno yang tidak mau kalah. Baginya Leo tetaplah saingannya meskipun sudah jelas ia tidak mungkin bisa bersama-sama dengan Ara.
"Ya udah kalau gitu, saya tidak perlu repot-repot menyampaikan pesan dari Ara," kata Leo dan beranjak dari tempat duduknya.
"Kak jangan ngambek dong, kayak cewek aja, duduk dulu dong Kak," kata Leo.
Leo pun kembali duduk, sebenarnya ia juga tidak mungkin pulang sebelum menyampaikan pesan dari Ara, karena Leo sudah berjanji akan menolong tunangannya itu, lagipula ini lebih baik karena dengan bersatunya Seno dan Amira maka tidak ada yang akan mengganggu Ara-nya lagi.
"Jadi ada pesan apa Kak?" Tanya Seno.
__ADS_1
"Langsung aja ya karena saya gak suka basa-basi. Apa kamu udah udah punya pacar?" Bisik Leo, karena jika orang di sekitar mereka dengar pasti akan menimbulkan salah paham.
"Ha ... ha ... ha ... Kakak gak salah nanya soal ini sama aku," ucap Seno dan tertawa. Memang Seno tidak bisa diajak kerja sama, Leo sudah mengecilkan suaranya saat bicara, malah dia yang tertawa terbahak-bahak yang mengundang perhatian orang di sekitar mereka.
"Heh bisa gak kecilkan sedikit suara kamu, kamu gak usah salah paham ya, kamu mikir apa? Saya suka sama kamu gitu, ya gak lah," bantah Leo.
"Kirain Kak, terus Kak Ara ya yang suka sama aku, oh ya Kak Ara kan yang suruh Kakak tanya soal ini ke aku," tebak Seno asal, ia juga tau jika tidak mungkin seperti itu kenyataannya.
"Gak usah ngasal," kata Leo.
"Bercanda Kak, jadi sebenarnya ada apa Kak?" Tanya Seno.
"Kamu gak bisa ya jawab dulu pertanyaan saya baru kamu nanya,." hardik Leo.
"Iya Kak iya, santai aja lah ngomongnya," ucap Seno.
Leo hanya melirik Seno dengan tatapan arogannya yang membuat Seno bergidik.
"Aku gak punya pacar Kak, kalau ada ngapain juga aku deketin Kak Ara, tapi sayangnya Kak Ara itu calon istri orang," ungkap Seno.
"Calon istri saya," ucap Leo.
"Iya Kak, gak perlu juga kali dijelasin, jadi saya terpaksa harus melanjutkan penjombloan ini yang entah sampai kapan," kata Seno.
"Kalau Amira, menurut kamu bagaimana?" tanya Leo.
"Amira?" Tanya Seno terkejut.
"Iya Amira, kamu suka gak sama dia?" Tanya Leo.
"Hm … (Seno tampak berpikir dengan meletakkan jari di dagunya) Amira cantik, ramah, baik, tapi tetap aja Kak Ara lebih dari segalanya," jawab Seno.
"Saya juga tau, tapi Ara itu calon istri saya," hardik Leo.
__ADS_1
"Tau Kak, tapi kalau masalah suka atau gak sama Amira kayaknya belum deh Kak," ucap Seno.
...****************...