
"Bu Ara," panggil Seno saat ia melihat Ara di parkiran mobil.
"Ara, kalau di luar kantor, kamu cukup panggil aku Ara," kata Ara.
"Kak Ara aja ya, boleh kan?" Tanya Seno.
Ara mengerutkan keningnya karena tidak mengerti akan maksud Seno, "Apa? Kak...?" Tanyanya.
"Iya, Kak Ara," jawab Seno.
"Emangnya muka aku keliatan tua banget ya sampai harus kamu panggil kakak?" Tanya Ara lagi.
"Gak sih Kak, justru aku gak percaya kalau umur Kakak udah 26 tahun," jawab Seno.
"Kenapa emangnya, dari mana kamu tau umur aku 26 tahun?" Tanya Ara.
"Dari om Haris lah Kak, Karena muka Kakak imut kayak anak umur 17 tahun," jawab Seno, entah jujur atau sedang menggombal.
"Nih orang malah gombal lagi," gerutu Ara lalu ia masuk ke dalam mobil.
"Kak Ara umur aku 23 tahun, tapi aku gak masalah kok pacaran sama cewek yang lebih tua," Teriak Seno.
"Gila kali ya, siapa juga yang mau pacaran sama bocil," gumam Ara lalu melajukan mobilnya berlalu dari pandangan Seno.
"Kak Ra, Kak Ara, lucu banget sih," gumam Seno tersenyum.
...
Sore harinya, Ara menceritakan soal Seno yang menggombalinya kepada Leo saat mereka mengunjungi apartemen Ara.
"Ha.. Ha.. Ha.. Bagus dong di bilang kayak anak umur 17 tahun," kata Leo tertawa.
"Kamu nih malah ketawa, gak cemburu emangnya...?" Tanya Ara.
"Ngapain juga cemburu sama bocil, gak kevel," jawab Leo.
"Yakin....? Ya Bagus deh kalau gitu," kata Ara.
"Aku percaya kok kalau kamu gak mungkin tertarik sama cowok lain, karena hati kamu udah terkunci buat aku," kata Leo.
"Hu.... Sok tau kamu, terlalu percaya diri," kata Ara tersenyum.
"Harus PD lah, lagian apa yang aku bilang juga bener kan? Pasti bener dong," kata Leo.
"Terserah kamu aja deh, oh ya Karina gimana...? Masih suka godain kamu gak?" Tanya Ara.
__ADS_1
"Hm.... Kadang masih sih, tapi aku cuekin aja, karena hati aku udah terkunci buat kamu," jawab Leo.
"Idih, malah menggombal," kata Ara.
"Serius bukan gombal," ucap Leo.
"Masak....?" Ledek Ara.
"Iya," jawab Leo.
"Masak sih...?" Ledek Ara lagi.
"Sayang, kamu resek banget sih," kata Leo lalu menggelitik ketiak Ara.
"Ha.. Ha.. Ha.. Ampun Sayang," ucap Ara yang memang tidak tahan geli.
Ara sekuat tenaga menghindar, hingga Leo terbaring di sofa dan Ara jatuh tepat di atas tubuh Leo dengan posisi saling berhadapan. Wajah mereka berdekatan dan saling bertatapan, nafas memburu terdengar satu sama lain, tanpa ragu Leo langsung menyambar lembut bibir Ara lalu mengulumnya dan mendapat balasan hangat dari Ara, sesekali mereka juga bertukar saliva dengan nafas yang saling menggebu.
Untungnya saat itu mereka berdua sedang berada di apartemen, jadi tidak ada yang melihat apapun yang mereka lakukan.
Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan panas, tanpa sadar tangan Leo telah berusaha masuk ke dalam kemeja Ara, menyentuh daerah sensitif yang masih selimuti oleh br*. Sesekali di rem*snya kedua gundukan itu, sehingga membuat kekasihnya itu mendesah.
Akan tetapi, di saat Leo hendak membuka kancing kemeja Ara, tiba-tiba saja Ara menghentikan tangan Leo dan menggeleng, saat itu ciuman panas mereka pun berakhir.
"Gak papa, yuk kita pulang," ajak Ara.
"Yuk," jawab Leo.
Lalu mereka meninggalkan apartemen Ara dan pulang ke rumah.
...
Sepanjang perjalanan pulang, Ara dan Leo hanya diam, tidak tahu apa yang akan mereka bahas, rasanya canggung setelah apa yang mereka lakukan tadi.
Leo merasa sangat bersalah, apa yang dia lakukan terhadap Ara tadi sudah melewati batas, padahal sebelumnya ia juga pernah melakukan hal yang sama dan berjanji tidak akan mengulanginya.
"Sayang...." Ucap Ara dan Leo bersamaan.
"Kamu duluan aja," kata Ara.
"Kamu aja yang duluan Sayang, ladies first," kata Leo.
"Gak papa kamu duluan aja," kata Ara.
"Aku mau minta maaf ya sama kamu soal tadi," ucap Leo.
__ADS_1
"Kenapa minta maaf...?" Tanya Ara.
"Iya gak seharusnya aku kelewat batas tadi, terbawa sama suasana sampai lupa sama janji aku gak akan ngelakuin itu lagi sampai kita udah nikah, kamu jangan marah ya Sayang sama aku," kata Leo memohon.
Ara melebarkan senyumannya mendengar perkataan calon suaminya itu.
"Kamu kenapa malah senyum-senyum gitu...?" Tanya Leo.
"Kamu gak harus minta maaf sama aku, aku ngerti kok. Jangankan kamu, aku sendiri juga terbawa suasana, kita udah sama-sama dewasa jadi wajar aja. Tapi kalau kita sampai kebablasan tadi, pasti kita sendiri yang akan menyesal nantinya, jadi untuk saat ini kita harus benar-benar bisa buat tahan dan menjaganya sampai kita nikah," kata Ara.
"Iya Sayang, aku akan berusaha untuk terus menjaga kamu," kata Leo. "Terus kamu tadi mau ngomong apa?" Tanyanya pula, karena tadi memang mereka sama-sama akan menyampaikan sesuatu.
"Hm.... Sebenarnya itu juga sih intinya yang mau aku omongin ke kamu," jawab Ara.
"Oh... Iya sayang, abisnya aku suka khilaf kalau lagi berduaan sama kamu," kata Leo tersenyum.
"Kamu nih," kata Ara yang juga tersenyum.
...
Saat Leo tiba di rumah, ia tampak tidak senang karena melihat sebuah mobil jazz merah yang terparkir di depan rumahnya. Jelas Leo sangat mengenali pemilik mobil tersebut dan sama sekali bukan tamu yang Leo harapkan.
"Nah itu Leo-nya sudah pulang," kata bu Amara yang melihat anaknya itu.
"Malam Mi," ucap Leo.
"Malam Sayang, ini ada sekretaris kamu," ucap bu Amara. "Karina, Tante tinggal dulu ya ke dalam," pamitnya.
"Iya Tante," jawab Karina.
"Malam Leo," ucap Karina.
"Mau ngapain ke sini..?" Tanya Leo.
"Cuma kebetulan lewat aja, jadi sekalian mampir," jawab Karina.
"Maaf aku capek," ucap Leo, mood-nya yang tadi sedang berbahagia karena Ara, kini tiba-tiba berubah menjadi badmood karena kedatangan Karina.
"Leo, kenapa sih kamu sama sekali gak mau kenal lagi sama aku? Aku gak percaya kalau kamu benci banget sama aku, atau jangan-jangan Ara tunangan kamu itu ya yang ngelarang kamu buat temenan sama aku?" ucap Karina yang mengada-ngada.
"Stop! Jangan pernah kamu bawa-bawa calon istri aku. Dia sama sekali gak pernah ngelarang aku buat berteman sama siapapun, asalkan aku tau batasannya dan tanpa dia minta pun aku pasti akan menjauhi wanita-wanita yang coba dekatin aku dengan maksud tertentu. Karena apa...? Karena aku terlalu mencintai Ara. Aku gak butuh kok di kelilingi banyak wanita, udah cukup mami aku, Ara, orang tua Ara, bahkan dengan sahabat Ara sekalipun, aku gak mau terlalu dekat karena menjaga perasaan Ara," ungkap Leo.
Karina hanya terdiam mendengar ungkapan Leo, ia sangat iri karena Ara bisa membuat pria yang ada di depan matanya ini begitu mencintai Ara.
...****************...
__ADS_1