
Di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta, tampak bu Maria, bu Amara, Ara, Leo, Seno dan juga sahabat yang lainnya sedang berkumpul. Mereka sedang menjenguk bu Laras ibunya Amira yang saat ini dalam keadaan memprihatinkan karena penyakitnya yang semakin parah. Bu Laras saat ini sudah tidak dapat lagi berbicara dan merespon ucapan orang lain, tatapannya begitu kosong dan pikirannya seperti sudah tida berada pada tempatnya.
Dokter mengatakan jika umur bu Laras sudah tinggal menghitung hari, dokter menyarankan kepada Amira dan kepada para sahabatnya untuk selalu bersama dengan bu Laras. Sedangkan Dokter saat ini sudah tidak dapat melakukan apapun lagi, segala upaya sudah dilakukannya untuk menyembuhkan bu Laras tetapi tetap saja Dokter bukanlah Tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang.
Tak henti-hentinya Amira menangis di samping ibunya. Bu Maria beserta sahabatnya hanya dapat menenangkan hati Amira agar ia merasa lebih tenang.
"Yang sabar ya Sayang, kamu jangan nangis terus-menerus seperti ini. Ibu kamu akan ikut merasa sedih jika melihat kamu dalam kondisi seperti ini Sayang," ucap bu Maria lalu meraih tubuh Amira kedalam pelukannya.
Ara juga ikut mendekati Amira yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri, ia mengusap-usap pelan pundak Amira sembari terus memberikannya semangat. Ara dan bu Maria dapat merasakan kesedihan yang saat ini Amira rasakan, terlebih lagi bu Laras adalah sahabat bu Maria yang sudah lama tidak ditemuinya, tetapi setelah menemukannya malah dalam kondisi seperti ini.
Tiba-tiba saja bu Laras kejang-kejang yang membuat semuanya panik. Salah satu dari mereka segera saja memanggil dokter dan dengan cepat dokter tersebut pun masuk ke ruang ICU. Kini mereka semua disuruh menunggu di luar agar dokter dapat leluasa menangani pasien. Berbagai upaya telah dokter dan suster lakukan, tetapi hasilnya nihil. Segera saja dokter melepaskan alat bantu yang melekat pada tubuh bu Laras pada saat itu juga.
Tanpa diberitahu oleh dokter, Amira sudah tahu apa yang dilakukan dokter saat ini sudah jelas karena ibunya sudah tidak ada lagi di dunia, ia pun segera saja berlari masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat ibunya itu. Dokter dan suster pun tidak melarangnya lagi siapapun yang hendak melihat bu Laras. Lalu dokter keluar dari ruang ICU dan menghampiri Bu Maria.
"Bu Laras sudah meninggal dunia Bu, kami minta maaf, kami sudah melakukan semua yang terbaik tapi hanya sampai di sinilah umur Bu Laras. Kami bukan Tuhan yang dapat memperpanjang umur Bu Laras Bu," ucap dokter.
"Iya Dok terimakasih banyak karena dokter sudah berjuang untuk sahabat saya selama ini," ucap bu Maria.
"Iya Bu, saya turut berduka cita atas kepergiannya Bu Laras. Bu Laras sudah tidak sakit lagi. Beliau sudah tenang di alam sana," ucap dokter .
__ADS_1
"Terima kasih banyak Dok," ucap bu Maria lagi.
Amira saat ini sedang menangis histeris di samping Ibunya, "Bu … bangun Bu, nggak, Ibu nggak boleh tinggalin Mira Bu, jangan tinggalkan Mira sendirian Bu. Mira gak tau apa yang harus Mira lakukan tanpa Ibu, hanya Ibu satu-satunya yang Mira punya di dunia ini. Kalau Ibu udah gak ada lagi di dunia ini, Mira udah gak semangat lagi mau Hidup Bu," tangisan Amira memecah di seluruh ruangan ICU.
Para sahabat yang ada di situ juga tidak dapat menyembunyikan rasa pilu dan kesedihan mereka, mereka ikut menangis seakan merasakan kepedihan yang saat ini dialami oleh Amira. Mereka pun berpelukan untuk menguatkan satu sama lainnya. Sedangkan Seno, Ara, Leo dan Bu Maria saat ini berada di dekat Amira untuk menenangkan hatinya. Bu Maria memeluk erat tubuh Amira sembari terus mengucapkan kalimat-kalimat untuk menyemangati wanita yang baru saja kehilangan ibunya itu.
"Amira, sudah Sayang, Ibu kamu sudah tenang. Kamu nggak boleh kayak gini terus. Ibu kamu pasti akan sangat sedih," ucap bu Maria.
"Iya Mir, Bu Laras sekarang udah nggak sakit lagi. Memang kamu mau liat Bu Laras terus-terusan menahan sakitnya di dunia? Tuhan lebih sayang sama Bu Laras, sekarang Bu Laras udah nggak sakit dan udah bahagia di alam sana," ucap Ara pula.
"Ibu … bangun Ibu, jangan tinggalin Amira sendiri," ucap Amira.
Entah sudah berapa lama ia menangis, namun air matanya tak terasa mengering meskipun matanya telah sembab. Kini tubuhnya pun terasa lemah tak berdaya menatap jasad ibunya itu, dadanya begitu perih menahan duka lara yang saat ini sedang diterpanya. Bagaimana Amira bisa hidup tanpa ibunya? Ia masih punya Ayah, tetapi sudah menghilang, seakan lenyap di telam bumi. Bahkan rumah lama mereka sudah dijual oleh ayahnya semenjak bu Laras memutuskan untuk bercerai.
...
Akan tetapi tangisan itu tiba-tiba saja berhenti, Amira teringat bahwa ibunya pernah berpesan seandainya ibunya pergi maka Amira harus melihat buku catatan yang telah ibunya simpan dengan sangat rapi di dalam laci. Awalnya ia sama sekali tidak menggubrisnya karena ia tidak ingin ibunya pergi meninggalkannya. Tetapi saat ini waktunya telah tiba, Amira pun segera saja beranjak dari tempat duduknya pergi menuju kamar bu Laras untuk mencari buku tersebut. Ara pun mengikuti Amira ke dalam kamar ibunya itu.
"Kamu cari apa Mir?" Tanya Ara yang melihat Amira mengobrak-abrik isi laci meja di kamar bu Laras.
__ADS_1
"Aku cari sesuatu Mbak," jawab Amira.
Lalu Amira pun menemukannya dan menunjukkan kepada Ara.
"Ini buku yang Ibu aku maksud Mbak. Kata Ibu setelah nanti Ibu pergi, aku harus mencari buku ini dan membacanya di depan Mbak Ara dan Tante Maria," jawab Amira.
"Ya udah sekarang kita bawa aja ke depan," kata Ara.
Ara dan Amira kembali ke depan dengan membawa sebuah buku yang baru saja Amira temukan tadi.
"Ada apa apa Mir, Ara?" Tanya bu Maria.
"Sayang, Amira kenapa?" Tanya Leo pula.
"Kita dengerin aja ya Amira mau ngomong apa," jawab Ara.
"Tante, Kak Leo, jadi sebelum Ibu pergi, Ibu bilang kalau seandainya suatu saat nanti dia udah nggak ada, aku harus cari buku ini dan membacanya di depan Mbak Ara dan Tante," ucap Amira.
"Oh ya? Memang apa isi buku itu?" Tanya bu Maria.
__ADS_1
"Itu dia yang Amira belum tau Tante. Sekarang Amira akan membacanya," jawab Amira lalu ia pun membuka lembaran terakhir seperti yang dikatakan oleh ibunya.
...****************...