Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_252


__ADS_3

"Mbak, aku sama sekali gak sedih kok, justru aku bersyukur karena bisa lepas dari cowok brengsek itu, udah lama aku pengen putusin dia tapi dia selalu aja nolak dan janji akan berubah, tapi nyatanya gak ada, dia selalu aja kasar sama aku Mbak, memeras aku dan beberapa kali aku mergokin dia selingkuh, tapi bodohnya aku masih saja percaya sama dia," Amira menceritakan kisah masa lalunya kepada Ara dengan ekspresi penuh dendam dan tatapannya yang tajam. "Maaf ya Mbak aku jadi curhat sama Mbak," ucapnya.


"Gak papa Mir, luapkan aja biar hati kamu lebih tenang," jawab Ara.


"Makasih ya Mbak, aku jadi merasa lebih tenang setelah cerita sama Mbak, jujur udah lama banget aku pendam ini semua sendiri, rasanya selalu menjadi beban dan saat ini aku plong banget," ucap Amira.


"Syukurlah Mir, aku senang kalau kamu mau berbagi sama aku. Mulai sekarang, kalau ada apa-apa kamu boleh cerita sama aku," kata Ara.


"Iya Mbak, makasih banget ya udah baik sama aku," ucap Amira terharu.


"Makasih mulu, ya udah kita pulang aja yuk," ucap Ara.


"Cuma itu yang bisa aku ucapkan Mbak, ya udah yuk Mbak," jawab Amira.


Setelah Ara membayar tagihan makanan mereka, mereka pun pergi meninggalkan restauran menuju ke kantor terlebih dahulu untuk mengambil sepeda motor milik Amira.


...


"Halo Sayang," ucap Ara saat menjawab telepon dari Leo.


"Halo Sayang, kamu udah di rumah?" Tanya Leo.


"Udah, baru aja sampai terus langsung mandi," jawab Ara.


"Oh ... syukurlah Sayang. Jadi gimana tadi? Kamu dapat informasi apa dari Amira ...?" Tanya Leo.


"Hm ... Amira sih jomblo, tapi-" Ara menghentikan ucapannya.


"Tapi ... tapi kenapa Sayang?" Tanya Leo.


"Aku gak bisa mau comblangin mereka sekarang, soalnya Amira punya pengalaman yang buruk soal percintaannya," kata Ara lalu menceritakan apa yang tadi Amira katakan padanya.


"Oh ... gitu, tapi ini bukannya jadi kesempatan yang bagus ya Sayang," kata Leo.


"Bagus gimana maksud kamu? Tanya Ara bingung.


"Iya justru di saat Amira lagi terpuruk akan masalah percintaannya, ini kesempatan buat Seno masuk dan memberikan kenyamanan buat dia. Aku yakin kok kalau nantinya Amira bisa mencintai Seno, maka sakit hatinya akan cintanya yang dulu akan hilang seiring berjalannya waktu," jawab Leo.


"Iya, sekarang yang jadi pertanyaannya emang Seno-nya mau?" Tanya Ara.

__ADS_1


"Kamu gimana sih Sayang, bukannya kamu yang bilang melihat dari tatapan Seno ke Amira, kamu yakin kan kalau Seno itu suka sama Amira," kata Leo.


"Iya sih, tapi kan bisa aja salah, atau kita tanyakan langsung aja sama Seno," kata Ara.


"Ya berarti kamu harus tanya dong ke Seno," kata Leo.


"Tapi aku kan udah gak satu kantor lagi Sayang sama Seno, aku bisa aja sih suruh dia kantor atau ajak dia ketemuan pulang kerja," kata Ara.


"Eng-gak, aku gak izinin kamu ketemuan sama bocil cunguk itu berduaan," kata Leo.


"Terus gimana dong, lewat telpon atau WA aja boleh kan?" Tanya Ara.


"Gak boleh, entar jadi kesempatan Seno buat nanyain hal-hal yang lain tentang kamu," jawab Leo.


"Semuanya salah dan semua gak boleh, kalau gitu tolong kamu aja yang tanya sama dia. Tapi sebaiknya ditanyakan langsung ya, kalau lewat telpon gak bakalan jelas," kata Ara.


"Hm ... gini aja deh, kamu yang hubungi Seno ajak ketemuan, tapi nanti kita berdua yang temuin," ucap Leo.


"Iya deh, kamu maunya ketemu kapan?" Tanya Ara.


"Terserah, besok juga boleh," jawab Leo.


"Ok Sayang. Ya udah kamu istirahat gih sana, udah malam," kata Leo.


"Iya, kamu juga ya istirahat, aku memang udah ngantuk banget rasanya," kata Ara.


"Iya Sayang, i love you," ucap Leo.


"i love you too," ucap Ara pula.


"Ya Sayang, Bye ...," ucap Leo.


"Bye ...," balas Ara.


Lalu panggilan telepon pun terputus.


...


New York Amerika Serikat...

__ADS_1


"Sayang, makasih ya karena kamu udah jauh-jauh datang ke sini hanya buat nemenin aku. Harusnya kamu itu gak perlu kayak gini sampai ngorbanin kerjaan kamu, kalau nanti kamu dipecat gimana? Gak mudah cari pekerjaan di zaman seperti sekarang Sayang. Padahal aku gak apa-apa, aku baik-baik aja. Lagian ada Mama di sini, ada Suster, ada Dokter yang selalu temenin aku," ucap Nadia.


"Aku gak peduli, mau aku dipecat kek atau apa, aku sama sekali gak peduli Sayang, yang penting aku bisa selalu ada di samping kamu saat kondisi kamu kayak gini," ungkap Rio.


Nadia tersenyum, kalau bukan demi orang tuanya, sahabat dan juga tunangannya yang menjadi semangatnya untuk hidup, sudah pasti Nadia akan menyerah.


"Sayang, temen-temen gak kamu kasih tau kan soal kondisi aku, aku gak mau mereka nantinya jadi pada khawatir. Kamu bisa kan janji sama aku untuk terus jaga rahasia ini," pinta Nadia.


"Iya Sayang, asalkan kamu janji sama aku akan selalu kuat dan berjuang untuk sembuh," jawab Rio.


"Iya, aku janji. Terus kamu ke Amrik juga gak ada yang tau?" Tanya Nadia.


"Gak ada Sayang, kalau mereka tau aku pergi mendadak pasti mereka bakalan curiga," jawab Rio.


Nadia mengangguk, lalu ia beranjak dari ranjangnya.


"Sayang, kamu kamu mau kemana?" Tanya Rio.


"Aku cuma mau ke toilet aja kok," jawab Nadia.


Sudah tiga hari Rio berada di rumah sakit dan menemani Nadia. Nadia terkena penyakit gagal ginjal lagi meskipun ia sudah mendapatkan donor ginjal waktu itu, bahkan kali ini penyakitnya itu lebih parah dan harus rutin melakukan cuci darah.


"Ya udah, aku temenin kamu ya, aku takut kamu malah kenapa-kenapa nantinya. Kamu itu lagi sakit Sayang," kata Rio.


"Aku gak papa Sayang, aku kuat kok," ucap Nadia.


"Ya udah gini aja, aku anterin dan aku tungguin kamu di depan pintu toilet," kata Rio.


"Iya Sayang, terserah kamu aja deh," jawab Nadia.


Saat di dalam toilet, Nadia merasakan mual dan kepalanya sakit yang tidak tertahankan sehingga membuatnya pingsan.


Sepuluh menit berlalu, akan tetapi Nadia belum juga kembali yang membuat Rio begitu khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak.


"Sayang ... kamu belum selesai juga?" Panggil Rio seraya mengetuk pintu, akan tetapi tidak ada jawabannya sehingga membuat Rio semakin panik.


Tok ... tok ... tok ...," Sayang, Sayang, kini suara Rio terdengar lebih kuat. Ia mencoba membuka pintu tersebut yang ternyata tidak dikunci karena Nadia memang belum sempat menguncinya.


Saat pintu terbuka, Rio sangat terkejut melihat kondisi Nadia yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2