Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-313


__ADS_3

"Sayang, kamu kok ada di sini? Emang meeting-nya udah selesai?" Tanya Ara.


"Udah, baru aja selesai. Ya iyalah begitu dapat kabar dari Mami, aku langsung ke sini. Kamu tuh bikin aku khawatir aja. Aku kan udah bilang tadi kalau aku mau minta tolong Mami buat nemenin kamu, tapi kamu-nya nolak," kata Leo.


Bu Amara dan Ara pun tersenyum mendengar ocehan Leo.


"Kenapa pada senyum-senyum gitu sih? Aku ini khawatir tau nggak, terus kamu nggak kenapa-napa kan? Dokter bilang apa?" Tanya Leo.


Ara mengulas senyum manisnya, ia ingin memberikan kabar bahagia itu kepada suaminya. Akan tetapi tiba-tiba bu Amara yang terlebih dahulu mencela ucapannya.


"Leo kamu nggak perlu khawatir, Ara baik-baik aja kok. Dan kamu tau Dokter bilang apa yang menyebabkan Ara bisa jadi seperti ini?" Tanya bu Amara.


"Ya Leo gak tau lah, kalian kan belum ngomong apa-apa sama Leo," jawab Leo. "Apa Mi? Ara kenapa?" Tanyanya yang terlihat begitu sangat khawatir.


"Sayang, aku baik-baik aja kok," kata Ara.


Lalu bu Amara memberi gestur kepada Ara untuk memberitahu kabar baik itu kepada suaminya dan Ara pun mengangguk menyetujuinya.


"Kata Dokter aku hamil," ungkap Ara.


"Hah? Kamu seriusan Sayang?" Tanya Leo. Ia yang tadinya menunjukkan wajah khawatir berubah menjadi sangat senang mendengar kabar bahagia itu


"Ya bener lah, selamat ya Sayang karena kalian berdua sebentar lagi akan menjadi orang tua," ucap bu Amara.


"Makasih ya Mami, makasih ya Sayang. Aku benar-benar terharu banget, nggak nyangka banget di dalam sini udah ada calon junior aku," ucap Leo sembari mengelus perut sang istri. "Mami juga bakal jadi Oma dong."


"Iya dong, Mami juga seneng banget. Mami mau langsung kabarin ke maminya Ara, pasti dia juga senang banget deh dengar kabar bahagia Ini," kata bu Amara yang begitu bersemangat.


Ara dan Leo pun begitu sangat bahagia melihat ibu dan ibu mertuanya itu merasakan kebahagiaan yang tiada tara.


Bu Amara pun langsung saja merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya dan menghubungi besannya yang sedang berada di luar Negeri itu.


"Halo Amira," ucap bu Maria dari seberang telepon.

__ADS_1


"Halo Mar, aku ganggu kamu nggak?" Tanya bu Amara.


"Nggak dong Ra, memang ada apa Ra?" Tanya bu Maria.


"Aku ada kabar bahagia loh buat kamu, buat kita sih sebenarnya," kata bu Amara.


"Kabar bahagia apa? Seneng banget kayaknya," Tanya bu Maria.


"Iya dong aku senang, Habis ini kamu pasti juga bakalan senang banget deh dengernya," kata bu Maria.


"Apaan sih, bikin penasaran aja deh," kata bu Maria.


Saat ini hatinya sedang dilanda rasa penasaran karena bu Amara yang ingin menyampaikan kabar bahagia itu kepadanya.


"Anak kamu, menantu aku, istrinya Leo, saat ini sedang hamil," kata bu Amara berbicara secara perlahan.


"Apa? Kamu serius?" Tanya bu Maria yang tidak bisa percaya begitu saja.


"Iya dong aku serius. Nggak kamu, nggak Leo, sama aja pada nggak percaya waktu aku menyampaikan kabar ini. Tapi wajar sih, aku sendiri aja waktu Dokter sampaikan tadi nggak percaya gitu," kata bu Amara.


"Ya ampun Ra, aku senang banget. Jadi sekarang kamu lagi sama Ara ya?" Tanya bu Maria.


"Iya Mar," jawab bu Amara. Lalu ia pun menceritakan tentang kejadian tadi pagi saat Ara memintanya datang lalu pingsan dan sampai dibawa ke rumah sakit.


"Ra, ini benar-benar kabar bahagia banget buat aku. Aku pasti akan segera pulang ke Indonesia, kebetulan Mas Jackson urusannya di sini juga udah selesai. Mungkin besok kita bakalan langsung pulang, aku udah gak sabar banget buat ketemu Ara," kata bu Maria.


"Aku tunggu ya Mar," ucap bu Amara.


"Iya Ra. Aku titip Ara ya, tolong kamu jagain Ara," kata bu Maria.


"Kamu nih ngomong apaan sih Mar, kayak sama siapa aja. Ara itu kan menantu aku yang berarti anak aku juga, masa iya kamu main pakai titip-titipan gitu. Kamu tenang aja, aku pasti bakalan jaga Ara dengan baik," kata bu Amara.


"Iya Ra, aku percaya kok sama kamu. Aku lega banget rasanya," ucap bu Maria.

__ADS_1


"Iya Mar, ya udah kalau gitu aku mau samperin Ara lagi ya ke dalam. Entar kamu hubungin Ara aja langsung," kata bu Amara.


"Oke, oke, kalau gitu. Aku juga masih di dalam perjalanan mau pulang ke apartemen," kata bu Maria.


"Oh ya udah kalau gitu, Bye … ," ucap bu Amara.


"Bye … ," balas bu Maria.


Lalu panggilan telepon berakhir.


...


Pak Hernandes saat ini sedang bersiap-siap, karena esok hari dia akan melakukan perjalanan bisnis ke luar Negeri. Berulang kali ia memaksa sang istri untuk ikut dengannya tetapi bu Tania selalu menolaknya. Karena bu Tania sudah berencana akan kembali ke rumah Cinta dan Beni setelah suaminya itu pergi. Sudah jelas alasannya karena ia sudah sangat merindukan cucunya yang kini telah berusia 3 bulan. Selama tiga bulan ini dia hanya diam-diam dan bersembunyi untuk menghubungi Cinta melihat wajah cucunya itu melalui video call. Gerak-gerik bu Tania benar-benar selalu diawasi, bahkan pak Hernandes telah memberikan supir sekaligus asisten khusus untuk menemani kemanapun istrinya pergi. Bu Tania merasa dirinya sedang berada di dalam penjara, ia ingin memberontak tetapi sama sekali tak berdaya. Ia hanya bisa pasrah dan berharap agar suaminya itu dapat berubah dan membuka hatinya untuk menerima cucu mereka, meskipun ibu dari cucu mereka itu tidak menjadi menantu mereka.


"Mami, kamu belum siap-siap juga?" Tanya pak Hernandes.


"Siap-siap mau kemana? Aku kan udah bilang sama Mas, kalau aku nggak akan ikut," bantah bu Tania.


"Kamu ini benar-benar keterlaluan ya, bentak pak Hernandes.


"Aku keterlaluan? Kamu yang keterlaluan Mas, kamu udah bikin hidup aku seperti di dalam penjara dan sekarang kamu juga maksa buat aku ikut kamu pergi," hardik bu Tania memutar bola matanya malas.


"Memang itu kan tugas kamu sebagai seorang istri? Dulu kamu nggak pernah membantah jika aku mengajak kamu kemanapun aku pergi. Apalagi kita ini akan pergi ke Amerika, di sana ada Rolan. Memang kamu nggak kangen sama Rolan? Kamu lebih mementingkan wanita itu dan anaknya," kata pak Hernandes.


"Oh jelas, aku memeng mementingkan cucu kita. Aku udah terlanjur sayang sama dia," ungkap bu Tania.


"Sayang, sayang, sayang, udah aku bilang berkali-kali anak itu bukan cucu kita," kata pak Hernandes.


"Clarissa cucu kita Mas," kata bu Tania menatap tajam mata suaminya.


Akhirnya pak Hernandes tidak tahan lagi dengan bantahan istrinya, emosinya kini telah meledak sampai ke ubun-ubun. Ia segera melayangkan tangannya di pipi bu Tania dengan sangat kuat hingga istrinya itu terjungkal.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2