Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-278


__ADS_3

Tentu saja Pak Yanto sangat terkejut, begitupun juga dengan Amira dan bu Laras, mereka segera melihat ke arah seseorang yang sudah berani melawan pak Yanto itu.


"Mbak Ara," ucap Amira. Ia sangat syok melihat Ara kini ada di antara mereka.


"Siapa kamu? Berani-beraninya kamu menentang saya!" Bentak pak Yanto.


Kini Amira berdiri tegap dan berada di samping Ara untuk melindunginya. Ternyata Ara yang mendengar teriakan Amira tadi, diam-diam telah menyelinap masuk ke rumahnya.


"Mbak Ara ngapain di sini Mbak? Aku mohon Mbak Ara pergi," kata Amira yang tak ingin melihat Ara akan menjadi sasaran amarah dari ayahnya.


"Enggak Mir, aku akan tetap ada di sini. Aku mau ngomong sama ayah kamu," kata Ara. "Maaf Pak kalau saya ikut campur urusan keluarga kalian, tapi saya cuma mau mengingatkan sama Bapak untuk tidak melakukan kekerasan kepada anak dan istri Bapak, itu istri Bapak dan Amira adalah darah daging Bapak sendiri. Kok Bapak tega sih melakukan hal kejam seperti itu terhadap keluarga Bapak sendiri," kata Ara.


"Memang kamu siapa? Kamu mau jadi pahlawan, tiba-tiba datang mengatur saya dan membela istri juga anak saya. Kamu pikir kamu siapa hah!" Bentak pak Yanto yang emosinya kini berapi-api.


"Saya akan laporkan Bapak ke Polisi kalau Bapak masih saja melakukan tindak kekerasan terhadap istri dan anak Bapak," kata Ara yang menatap Pak Yanto dengan tajam tanpa rasa takut sedikitpun. Perkataannya tidak main-main, karena Ara begitu kasihan melihat kondisi Amira dan ibunya saat ini.


Bu Laras yang tadinya meringkuk pun kini berdiri menghampiri Ara dan Amira.


"Nak sudah Nak, kamu tidak perlu melakukan ini. Sebaiknya kamu pergi saja dari sini sebelum pria baji**** ini akan menyakiti kamu," pinta bu Laras.


"Ibu nggak perlu khawatir bu, Ibu jangan takut. Saya janji akan membantu ibu dan Amira keluar dari sini," ucap Ara dengan sangat meyakinkan.


"Emang kamu siapa mau bawa-bawa keluarga saya? Kamu itu hanya orang luar," kata pak Yanto.

__ADS_1


"Ya saya memang orang luar, tapi orang luar yang peduli dengan keluarga Bapak. Sedangkan Bapak, Bapak itu seorang ayah dan seorang suami di sini, tapi Bapak sama sekali tidak peduli dengan keluarga Bapak seperti orang luar," kata Ara.


"Kurang ajar, berani sekali kamu berbicara seperti itu sama saya," kata pak Yanto. "Amira siapa dia? Siapa wanita yang kamu bawa ini? Berani-beraninya dia melawan Ayah," Tanyanya.


"Itu Bos Amira Yah," kata Amira.


"Oh … Bos ternyata, berarti kamu banyak duit ya? Mendingan kalau kamu mau saya bebaskan Amira dan ibunya, kamu kasih saja saya uang yang banyak. Saya tidak akan lagi menyiksa mereka," kata Pak Yanto.


"Apa ucapan Bapak bisa dipercaya? Karena itu juga kan yang Bapak janjikan sama Seno waktu Bapak meminta uang sama dia dan dia juga memberikan Bapak sejumlah uang," kata Ara.


Amira membelalakkan matanya, ia terkejut mendengar ucapan yang baru saja Ara lontarkan.


"Apa? Jadi Bapak juga pernah minta uang sama Seno? Ya ampun aku malu banget sama Seno," batin Amira.


"Tidak usah banyak bacot, sekarang kamu kasih saya uang atau saya akan menghajar habis-habisan dua wanita ini lagi," kata Pak Yanto.


"Nih uang yang Bapak mau, di dalam amplop ini ada uang 20 juta. Bapak ambil saja, saya Ikhlas. Tapi kalau sampai Bapak mengganggu Amira dan ibunya lagi, menyakiti mereka lagi, saya akan langsung melaporkan Bapak ke polisi," kata Ara sembari menunjukkan amplop coklat berisi uang.


"Mbak nggak usah Mbak, aku mohon jangan berikan itu kepada Ayah," kata Amira.


Akan tetapi, pak Yanto langsung saja merampas amplop tersebut dari tangan Ara.


"Gini dong, terimakasih ya," ucap Pak Yanto dengan senyum sumringah. Lalu ia pun pergi meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


Setelah Pak Yanto pergi, Ara begitu terlihat sangat lega setelah tadi sempat merasa syok. Ia berusaha mengatur nafasnya dan bersikap tenang agar Amira dan ibunya itu tidak khawatir terhadapnya. Bukan syok karena takut dengan Pak Yanto, tetapi ia hanya berpikir kok ada ya orang tua yang tega seperti itu terhadap keluarganya? Sebagai seorang suami dan ayah bukankah seharusnya ia melindungi anak dan istrinya?


"Mbak Ara, Mbak Ara nggak papa kan?" Tanya Amira yang melihat Ara saat ini terdiam.


Akan tetapi bukan menjawab pertanyaan Amira, Ara malah balik bertanya, "Mir, kamu nggak marah kan sama aku?"


"Marah? Kenapa aku harus marah sama Mbak?" Tanya Amira yang begitu bingung dengan pertanyaan Ara.


"Karena aku udah lancang diam-diam ngikutin kamu, masuk ke rumah kamu dan ikut campur urusan keluarga kamu. Aku hanya ingin memastikan Mir, aku sebenarnya udah lama ingin tau gimana kehidupan keluarga kamu. Apalagi aku juga dengar dari Seno waktu itu," kata Ara.


"Jadi Seno juga cerita sama Mbak soal waktu itu?" Tanya Amira.


"Iya Mir, kami berdua sama-sama udah tau, makanya aku tadi sengaja ngikutin kamu, aku ingin memastikan kalau kamu dan ibu kamu baik-baik aja. Kamu nggak marah kan Mir sama aku?" Kata Ara dan bertanya lagi.


"Kenapa aku harus marah sama Mbak? Jujur aku memang syok Mbak waktu tau Mbak ada di sini. Tapi Mbak udah nolongin aku, udah nyelamatin aku. Justru aku malu Mbak karena Ayah aku meminta uang sama Mbak. Mbak kasih uang sebanyak itu ke Ayah aku," kata Amira.


"Uang itu bukan apa-apa buat aku Mir, buat aku yang penting kamu dan ibu kamu selamat," kata Ara.


"Nak Ara, terima kasih banyak ya kamu udah menolong Ibu dan Amira. Amira udah banyak cerita tentang kamu, akhirnya Ibu bisa bertemu langsung dengan kamu meskipun dalam keadaan seperti ini," kata bu Laras.


"Sama-sama Bu, cuma ini yang bisa Ara lakukan. Jujur Ara kasihan lihat ibu sama Amira, Ara sedih Bu, Ara nggak tega ngeliat kalian disiksa seperti tadi. Baru dengar cerita dari Amara aja Ara udah ngerasa sangat terpukul, apalagi setelah Ara tau secara langsung tadi," kata Ara.


"Nak tidak seharusnya kamu seperti tadi, Ibu takut kamu yang akan menjadi sasaran suami Ibu nantinya," kata bu Laras.

__ADS_1


"Ibu tenang aja ya, itu nggak akan mungkin. Kalau pun ia terjadi, Ara pasti akan melaporkan Pak Yanto ke Polisi," kata Ara. "Bu, Amira, kalau kalian mau, saya akan membawa kalian keluar dari rumah ini," kata Ara yang membuat Amira dan ibunya itu terdiam tidak percaya.


...****************...


__ADS_2