
"Kak Rio!" Panggil Aria yang membuat langkah Rio terhenti. Padahal ia sudah hendak masuk ke dalam mobilnya dan hendak pergi dari situ.
"Aria, udah. Kamu mau ngapain lagi sih panggil-panggil dia? Untuk apa lagi? Udah nggak ada lagi yang bisa kamu harapin dari dia kan. Kamu sendiri yang bilang kalau laki-laki cuma bisa menyakiti perasaan kamu aja, dia sama sekali nggak bisa menghargai perasaan kamu. Udah jelas-jelas dia itu tau kalau kamu suka sama dia, tapi dia malah sengaja buat menggantung kamu tanpa hubungan apa-apa," kata Arka.
Deg …
Jantung Rio begitu sakit rasanya mendengar ucapan Arka, ia seperti ditampar oleh ucapan yang baru saja ia dengar. Rio tidak menyangka jika Aria bisa berpikir seperti itu terhadapnya, padahal Rio sendiri juga bingung bagaimana perasaannya saat ini terhadap Aria. Akan tetapi ia sama sekali tidak ada maksud untuk memanfaatkan Aria seperti yang dikatakan oleh Arka tadi. Justru Rio merasa nyaman dan bahagia jika sedang bersama-sama dengan Aria, hatinya juga terasa sakit saat Aria menjauhinya, hanya saja untuk mengakui perasaannya menyukai Aria ia belum bisa memastikannya.
"Kak, bisa kan aku minta tolong sama Kakak, sekarang Kakak masuk, jangan ikut campur urusan aku sama Kak Rio. Biar masalah ini aku sama Kak Rio yang menyelesaikannya," pinta Aria.
"Kamu yakin? Kamu nggak takut nanti kalau bakalan luluh lagi sama dia? Ingat Dek keputusan kamu buat melupakan dia udah tepat," kata Arka.
"Kak tolong, aku udah dewasa Kak, aku bisa urus masalah ini sendiri. Kakak nggak perlu nasehatin aku," kata Arya.
"Ya udah, tapi ingat! Kalau sampai kamu ngerasa sakit hati lagi gara-gara cowok ini, kalau kamu berharap lagi sama cowok ini, Kakak nggak akan tinggal diam," kata Arka dengan tatapan sinisnya menatap punggung Rio.
Setelah itu, Arka pun segera masuk ke dalam rumah mengikuti permintaan adiknya itu. Sedangkan Aria langsung saja menghampiri Rio yang Masih berdiri mematung memikirkan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Kak Rio!" Panggil Aria.
Rio pun segera memutar badannya hingga menghadap ke arah Aria.
__ADS_1
"Iya Ar," jawab Rio.
"Kak, aku minta maaf karena Kak Arka udah bikin Kakak terluka kayak gini. Sebenarnya Kak Arka itu nggak tau apa-apa Kak, cuma dia melakukan itu hanya merasa khawatir sama aku. Ini semua salah aku Kak," ucap Aria.
Rio masih belum mengerti dengan ucapan Aria, akan tetapi ia bisa mengambil kesimpulan dari apa yang tadi sudah didengarnya. Aria pun mengajak Rio untuk duduk di kursi taman depan rumahnya, lalu ia mengambil kotak P3K dan mengobati luka yang ada pada sudut bibir dan juga memar pada pipi Rio.
"Ar, udah ya, aku nggak papa kok. Kamu seharusnya nggak perlu ngelakuin ini sama aku," kata Rio.
"Nggak papa Kak, ini semua kan perbuatannya Kak Arka. Kak Arka juga ngelakuin ini karena aku, jadi udah seharusnya aku ngobatin luka Kakak," kata Aria.
"Rio pun hanya dapat mengikuti keinginan Aria, ia menatap lekat wajah cantik Aria yang saat ini sedang serius dan sangat telaten mengobati lukanya itu, sambil sesekali Aria meniupi lukanya agar tidak terasa begitu pedih. Hingga saat itu Aria tidak sengaja menyentuh luka pada sudut bibirnya dengan cattonbad yang menyebabkan ia merintih dan refleks memegang tangan Aria.
"Maaf, aku nggak sengaja," ucap Rio.
"Nggak papa Kak, aku juga minta maaf ya karena nggak sengaja bikin Kakak merintih. Sakit ya Kak?" Ucap Aria dan bertanya.
"Sedikit sih, tapi udah nggak terlalu sakit lagi kok. Makasih ya kamu udah telaten ngobatin luka aku," ucap Rio.
"Iya Kak sama-sama, udah selesai," kata Aria dan memberitahunya.
"Oh udah ya, ya udah kalau gitu aku pamit pulang ya," ucap Rio.
__ADS_1
"Iya Kak hati-hati. Oh ya Kak Rio, soal yang tadi jangan dipikirin ya dan nggak usah dibahas. Aku lagi nggak mau bahas soal ini sekarang," kata Aria dan Rio pun mengangguk menyetujuinya.
Lalu Rio segera saja pergi meninggalkan rumah Aria dan pulang ke rumahnya, sedangkan Aria langsung masuk ke dalam rumah begitu Rio sudah tak terlihat lagi dari pandangan matanya.
...
"Sayang, kamu bosen nggak sih nemenin aku terus di rumah? Bahkan kita nggak bisa kemana-mana semenjak aku seperti gini, kamu jadi di rumah terus, pulang kerja fokus jagain aku," tanya Ara saat mereka berdua sedang beristirahat.
"Kok kamu ngomongnya kayak gitu sih Sayang. Ya nggaklah, mana mungkin aku ngerasain bosen. Malahan aku senang bisa jagain kamu, bisa sama-sama kamu terus. Nggak masalah kok kita nggak kemana-mana, bukannya di rumah itu malah lebih bagus ya, jadi aku pulang kerja bisa istirahat di rumah, kamu juga istirahat," kata Leo.
"Iya Sayang, makasih ya Sayang. Aku beruntung banget punya suami seperti kamu," ucap Ara dan memeluk suaminya itu serta membenamkan kepalanya di dada bidang milik sang suami.
"Sama-sama Sayang, aku juga beruntung banget punya istri seperti kamu. Istri yang cantik, baik, pengertian. Makasih juga ya karena kamu udah sabar menghadapi kondisi kamu yang seperti ini, kamu tetap sabar menghadapi anak aku yang manja di dalam sini," ucap Leo sembari mengusap lembut perut sang istri.
"Sama-sama Sayang, ini kan anak aku juga. Ya udah seharusnya dong aku sabar menghadapinya. Lagian kalau aku pikir-pikir ya, nikmat banget tau rasanya. Nggak Semua ibu bisa merasakan fase ini. Bahkan kata Sarah waktu dia hamil Kayla, dia sama sekali nggak ngerasain morning sickness, dia kuat tuh sambil kerja. Ya untunglah karena kan pada saat itu Bryan enggak ada di sampingnya, kamu tau sendiri kan waktu itu Sarah bermasalah dengan Bryan. Tapi di saat dia lagi hamil anak kedua, kan dia didampingi sama suaminya, eh dia malah ngalamin morning sickness kayak aku. Kayaknya anak di dalam perut ini juga ngerti deh kondisi ibunya itu seperti apa," kata Ara.
"Iya dong, namanya juga anak baik. Dia tau kalau lagi ada ayahnya apa nggak, dia mau manja-manja sama ayah ibunya. Yang penting kamu sehat-sehat ya sama anak kita. Aku janji akan selalu jagain kalian dengan sekuat tenaga dan semampu aku. Aku sayang banget sama kalian berdua," ucap Leo seraya menciumi rambut dan kening sang istri berulang kali.
Ara begitu bahagia, rasanya saat ini kebahagiaannya tidak dapat lagi diungkapkan dengan kata-kata. Ditambah lagi semenjak jabang bayi hadir di dalam rahimnya, ia merasa semakin bertambah rasa sayang Leo kepadanya.
...****************...
__ADS_1