Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_243


__ADS_3

"Leo ...!" Teriak Ara dengan histeris saat melihat Leo ambruk, ia pun berlari menghampiri Leo.


Saat itu salah satu anak buah Boy akan menangkap Ara, tapi dengan cepat Seno menyerang penjahat tersebut. Dan di saat Boy lengah, Arka segera menendang tangan Boy hingga pistol yang dipegang olehnya itu tercampak jauh entah kemana.


Perkelahian sengit pun terjadi antara mereka hingga saling terluka satu sama lain, sedangkan Ara tetap fokus kepada Leo.


"Sayang, kamu bertahan ya," ucap Ara, air matanya bercucuran tidak dapat terbendung lagi. Ia menaruh kepala Leo di atas pangkuannya.


"Sayang, kamu jangan nangis, aku senang ngeliat kamu baik-baik aja," ucap Leo lirih sembari mengusap air mata tunangannya itu.


"Aku gak papa, justru kamu yang terluka gara-gara aku, aku akan bawa kamu pergi dari sini, kita harus ke rumah sakit sekarang," kata Ara.


"Tapi keadaannya masih sangat berbahaya, aku gak bisa bantu mereka buat ngelawan para penjahat itu, aku cuma bisa nyusahin kalian aja," ucap Leo.


"Hust ... udah ya jangan ngomong macam-macam, yang penting itu memikirkan kondisi kamu saat ini, aku harus segera cari bantuan," ucap Ara.


Wiiuu ... wiiuu ... wiiuu ... terdengar suara sirine mobil polisi kian mendekat. Memang sebelumnya Rio sudah menghubungi Polisi dan mengirimkan alamat lokasi mereka sekarang.


"Sial, cabut sekarang," ucap Boy memberi kode kepada anak buahnya saat tahu polisi datang.


"Hei mau kemana kalian!" Teriak Arka, tubuhnya sempoyongan karena melawan dua preman sekaligus, salah satunya adalah Boy yang merupakan Bos dari para penjahat dan sangat jago bela diri. Di wajah Arka juga terdapat beberapa luka memar dan ada sedikit darah di sudut bibirnya.


Segera saja mereka semua pergi ke rumah sakit di antar oleh sebagian polisi, sementara sebagian polisi lainnya berusaha mengejar Boy dan anak buahnya sebelum mereka kabur terlalu jauh.


...


Bu Maria merasa sangat khawatir karena tidak menemukan Ara di kamarnya, beberapa kali ia mencoba menghubungi Ara juga tidak ada jawaban yang membuat hati bu Maria sangat tidak tenang. Satpam di rumahnya mengatakan jika Ara keluar dari jam 10 malam dan belum kembali. Ia pun memutuskan untuk menghubungi Leo tetapi sama saja tidak ada jawabannya.


"Ara, kamu kemana sih Nak, jangan buat Mami khawatir gini dong, Leo juga kenapa gak angkat telpon aku, apa jangan-jangan terjadi sesuatu sama mereka berdua? Aku harus tanya soal ini sama Amara," gumam bu Maria yang terus bermonolog sendiri.


Sementara itu, bu Amara saat ini juga sedang merasa khawatir karena tidak sengaja menjatuhkan foto Leo hingga kacanya pecah, perasaannya jadi tidak enak dan kepikiran Leo, terlebih lagi Leo juga tidak ada di kamarnya.


"Dimana Leo ...? Gak mungkin banget jika sepagi ini dia sudah pergi ke kantor dan tidak izin sama aku" gumam bu Amara lalu mencoba menelpon Leo tetapi tidak dijawab.

__ADS_1


"Hp-nya aktif tapi kenapa gak di angkat ya?" Tanya bu Amara dalam hatinya.


Lalu tiba-tiba ponsel bu Amara berdering ada telepon masuk, bu Amara bergegas mengangkatnya tanpa melihat siapa nama penelpon tersebut.


"Halo Leo, akhirnya kamu-" ucapan bu Amara terhenti karena mendengar suara yang menelponnya.


"Ra, apa Leo ada di rumah?" Tanya bu Maria.


"Maria? Leo gak ada di rumah, ada apa Mar ...?" Tanya bu Amara pula.


"Jadi benar mereka berdua tidak ada di rumah, perasaan aku gak enak banget Ra, kata satpam Ara keluar dari jam 10 malam," ungkap bu Maria.


"Sama, perasaan aku juga gak enak banget, dihubungin juga gak di angkat," ucap bu Amara.


"Ya udah Ra kita coba aja dulu hubungin teman-teman dekat mereka, kalau di antara kita ada yang dapat kabar langsung infoin ya Ra," kata bu Maria.


"Iya Mar," jawab bu Amara.


lalu panggilan telpon terputus.


...


"Ra, kamu yang sabar ya," ucap Sherin sambil mengusap lembut pundak Ara.


Ara terlihat sangat sedih dengan tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata hingga matanya menjadi bengkak. Dalam hatinya terasa sangat takut dan khawatir, ia juga merasa sangat bersalah karena merasa dirinya lah yang menyebabkan Leo dan teman-temannya terluka.


"Sher, ini semua gara-gara aku. Leo tertembak, Arka luka parah dan yang lainnya juga luka-luka, cuma aku yang gak terluka sedikitpun," ucap Ara bersedih.


"Ra, udah ya jangan nangis terus. Gak ada yang mau ini semua terjadi, yang penting semuanya selamat kan? Dan kita doakan aja operasi pengeluaran peluru dari lengan Leo berjalan lancar," ucap Sherin. Sebenarnya ia juga sangat sedih melihat kondisi Arka dan teman-temannya, akan tetapi Sherin mengerti jika Ara pasti lebih sedih lagi karena kejadian yang menimpa dirinya itu.


Beberapa saat kemudian, Rio, Bryan, dan Seno keluar dari ruang UGD dan sudah diobati, mereka juga sudah boleh pulang karena lukanya hanya luka kecil. Sedangkan Arka harus di rawat dulu di rumah sakit untuk memulihkan keadaannya dan menunggu hasil ronsen untuk memastikan tidak ada penyakit serius di dalam tubuhnya.


"Kalian gak papa? Maafin aku ya," ucap Ara.

__ADS_1


"Gak usah minta maaf Ra, kamu gak salah apa-apa kok," kata Rio.


"Iya Ra, lagian kita gak kenapa-napa Ra," sambung Bryan.


"Kak Ara, kami baik-baik aja dan boleh pulang. Tapi Kak Arka-" Seno menghentikan ucapannya.


"Kenapa Arka? Dia dimana sekarang?" Tanya Sherin.


"Masih di dalam dan harus dirawat dulu," jawab Seno.


"Sher, kamu liat kondisi Arka aja dulu. Temenin dia," ucap Ara.


"Iya Sher, ada kami kok di sini yang temenin Ara," kata Rio.


Sherin yang sangat khawatir itu segera pergi ke UGD untuk melihat kondisi Arka. Saat itu juga Sarah, Cinta dan Beni pun tiba di rumah sakit dan langsung menghampiri mereka di depan ruang operasi.


"Guys, gimana keadaan kalian, kenapa kalian gak ajak gue?" Tanya Beni.


"Kita sengaja karena gak mau istri loe yang lagi hamil loe tinggal sendiri dan menjadi khawatir," jawab Bryan.


"Pa, tapi kamu gak apa-apa kan?" Tanya Sarah.


"Gak papa Sayang, Kayla sama ibu ya? ibu udah tau?" Tanya Bryan.


"Iya Pa, ibu khawatir banget, tapi aku udah bilang kok kamu gak papa," jawab Sarah.


"Arka mana ...?" Tanya Beni.


"Masih di UGD, kamu sama Cinta langsung ke sana aja, ada Sherin juga di sana," kata Rio.


"Ya udah kami ke sana dulu ya," kata Beni. Lalu ia dan Cinta pergi dari pandangan mereka.


"Ra, yang kuat ya. Leo pasti baik-baik aja kok," ucap Sarah sembari memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2