
Ara menatap Leo heran dan mengerutkan keningnya.
"Kenapa Sayang? Kok kamu jadi lihatin aku kayak gitu?" Tanya Leo.
"Kenapa jadi kamu yang nggak sabaran sekarang?" Tanya Ara balik.
"He … he … he … kalau cepat ketemu mereka, cepat siap urusannya, cepat juga deh kita pergi dari sana dan makan bareng sambil ngebahas soal pernikahan kita," jawab Leo tersenyum.
Ara yang mendengar akan hal itu pun ikut tersenyum, ia tahu jika kekasihnya itu sangat ingin membicarakan masalah pernikahannya dari kemarin. Tapi karena Ara telah berjanji kepada Aria, maka ia pun meminta Leo untuk menyelesaikan janjinya terlebih dahulu. Lalu Ara dan Leo pun pergi ke sebuah cafe, tempat yang ia janjikan bersama Sherin dan Aria.
Setibanya di cafe, Ara dan Leo yang melihat Aria yang telah tiba di sana pun segera menghampirinya.
"Kak Ara, apa kabar?" Tanya Aria yang beranjak dari tempat duduknya lalu berpelukan sebentar dengan Ara.
"Kakak baik kok Ar, kamu sendiri gimana kabarnya?" Tanya Ara pula.
"Aku baik juga Kak, nih buktinya aku sehat walafiat kan berdiri di depan Kakak," jawab Aria tersenyum.
"Oh … syukurlah," gumam Ara.
"Oh ya Kak Leo apa kabar? Sehat kan kak?" Tanya Aria yang kini beralih kepada Leo.
"Ya baik, seperti yang kamu lihat," Jawab Leo singkat.
__ADS_1
Lalu Ara, Leo dan Aria pun duduk kembali dan memesan minuman sambil menunggu Sherin datang.
Tidak lama kemudian, sosok yang mereka tunggu-tunggu pun datang dan sedang melangkahkan kaki menuju ke arah mereka. Setibanya di sana, Sherin langsung saja menyapa ketiganya dan ikut duduk bergabung bersama dengan mereka.
"Hai Kak Sherin, aku Aria adiknya Kak Arka. Maaf ya jadi ganggu waktu Kakak buat ketemuan di sini. Yang aku dengar dari Kak Arka, katanya Kak Sherin sibuk banget kerja sampai-sampai nggak ada waktu buat ketemu," kata Aria.
"Hai juga Aria, aku udah tahu kok soal kamu dari Arka maupun dari Ara. Senang bisa bertemu dengan kamu langsung. Tentang yang Arka bilang itu sebenarnya memang benar, tapi ada hal lain juga yang membuat kita udah lama nggak ketemu dan ini kan yang pengen kamu tahu?" Tanya Sherin langsung tanpa berbasa-basi.
"Iya Kakak benar, nggak papa kan kalau aku tau, soalnya aku tuh udah kenal banget sama sifatnya Kak Arka. Gak mungkin banget kalau dia nggak ada masalah, tapi keadaannya kayak gitu. Jadi aku pengen tau Kak sebenarnya ada apa?" Tanya Aria sembari menatap mata Sherin.
"Iya kamu boleh tahu kok, Ara juga udah tau masalahnya apa," jawab Sherin.
Lalu Sherin pun menceritakan masalah yang terjadi antara dirinya dan juga Arka. Aria menyimak dengan seksama, ia mengerti dan juga dapat melihat dari tatapan Sherin jika Sherin melakukan itu semua karena dia sangat mencintai kakaknya, Arka.
"Kak Sherin aku ngerti sama kondisinya, tapi kenapa Kakak nggak coba ngomong sama Kak Arka? Biar Kak Arka nggak salah paham Kak, kasihan Kak Arka, aku liat dia banyak diam sekarang," kata Aria.
"Mungkin belum saatnya Ar, nggak papa kok. biarlah Arka benci sama aku, yang penting dia selalu hidup dalam kebahagiaan tanpa gangguan Tama. Tolong ya kamu jangan kasih tau apa-apa ke Arka, aku nggak mau Arka tau," ucap Sherin, akan tetapi hatinya begitu terasa pedih.
"Iya Kak," jawab Aria. Ia merasa begitu terharu melihat pengorbanan yang Sherin lakukan, pantas saja Arka selalu memuji kekasihnya itu saat menelpon Aria.
"Sebaiknya aku nggak perlu ngomong apa-apa dulu ke mereka tentang rencana aku, biar nanti tiba saatnya, barulah mereka akan tau dengan sendirinya, aku udah nggak sabar melihat Sherin dan Arka bisa bersatu lagi dan bahagia," gumam Ara dalam hati.
...
__ADS_1
Saat Sedang membereskan pakaian, tiba-tiba saja ada foto yang terjatuh dari dalam lemari tepat di bawah kaki bu Maria, langsung saja bu Maria mengambil foto tersebut yang ternyata adalah fotonya bersama sahabat lamanya itu. Lama Bu Maria menatap foto tersebut, perasaannya campur aduk, ia merasa rindu, bahagia dan juga sedih karena sampai saat ini, ia belum juga menemukan dimana keberadaan sahabat kecilnya itu.
"Laras, kamu ada dimana …? Apa kabar kamu? Aku berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali, aku kangen banget sama kamu Laras," gumam bu Maria.
Bersamaan dengan itu, pak Jackson yang baru saja pulang dari kantor, langsung menghampiri istrinya yang terlihat sangat sedih.
"Ada apa Mi?" Tanya pak Jackson.
"Papi udah pulang? Ini Pi, Mami tadi ketemu foto kenangan Mami dan Laras waktu sekolah dulu, Mami jadi makin kangen deh sama Laras, mungkin nggak ya kalau suatu saat nanti mami bakalan ketemu lagi sama Laras," kata bu Maria.
Pak Jason mendekati istrinya, ia mengusap lembut pundak istrinya itu, lalu meraih tubuhnya kedalam pelukan hangatnya.
"Mami yang sabar ya, Mami jangan sedih. Papi yakin kok suatu saat nanti pasti Mami akan ketemu lagi sama sahabat Mami, atau kita cari aja di internet, gimana Mami mau nggak?" Tanya pak Jackson.
Bu Maria tertegun, benar juga apa yang dikatakan oleh suaminya, tapi ia juga takut jika tindakannya itu nanti akan mengganggu ketenangan Laras, bisa saja kan saat ini Laras memang sedang tidak mau diganggu oleh siapapun, pikirnya.
"Mami kenapa diam?" Tanya Pak Jackson saat melihat istrinya itu termenung.
"Mami nggak papa kok Pi, Mami cuma Lagi mikir aja, sebaiknya kalau masalah mencari di internet itu nggak usah dulu deh Pi. Mami takutnya akan mengganggu ketenangannya Laras," ucap Bu Maria.
"Oh … gitu, ya udah deh terserah mami aja, yang penting Papi selalu doain semoga Mami bisa ketemu sama sahabat lama Mami itu," ucap pak Jackson.
"Iya Pi, makasih ya Pi doanya," ucap Bu Maria lalu membalas pelukan erat dari suaminya itu.
__ADS_1
Ara yang baru saja pulang dan melewati kamar kedua orang tuanya itu, tidak sengaja melihat pintu kamar yang terbuka. Langsung saja ia mendekat dengan maksud untuk menutup pintu tersebut, akan tetapi tanpa sengaja ia melihat orang tuanya sedang berpelukan. Ara tersenyum dan merasakan hatinya menghangat melihat keharmonisan kedua orang tuanya itu. Dalam hati Ara juga berdoa, "Semoga nantinya aku dan Leo bisa hidup harmonis sampai tua seperti Mami dan Papi."
...****************...