
Sarah tersenyum, ia tidak mampu lagi untuk mengucapkan kata-kata, yang pasti saat ini ia merasakan begitu sangat bahagia karena telah memiliki keluarga yang sempurna, terlebih lagi ia sedang menunggu kehadiran anak mereka yang kedua. Bryan bergegas ke dapur mengambil buah dan mengupasnya, setelah itu ia pun membawa buah tersebut dan juga air putih untuk istrinya.
"Sayang, vitamin kamu ditaruh di mana?" Tanya Bryan.
"Ada di dalam laci situ," jawab Sarah dan menunjuk ke arah laci yang berisi vitaminnya.
Bryan pun segera mengambil vitamin tersebut, lalu membawakannya kepada Sarah.
"Ini dia buah apel untuk bumil dan vitaminnya," kata Bryan sembari meletakkan potongan buah apel di atas meja, lalu ia mengambil satu potong apel dan menyuapinya ke mulut istri tercintanya itu.
Sarah menggigit apel tersebut, mamun baru saja satu gigitan, Sarah sudah mengalami mual yang luar biasa dan tiba-tiba …
Huek … huek … perut Sarah terasa terguncang, kepalanya juga sangat pusing yang membuatnya begitu lemah.
Bryan sangat tidak tega melihat keadaan istrinya saat ini, dia juga menangis.
"Apakah dulu sarah juga mengalami hal seperti ini saat aku tidak ada di sampingnya?" Tanya Bryan di dalam hatinya.
"Sayang, ayo muntahin aja," kata Bryan, ia menadah muntah Sarah dengan kantong yang sudah disediakan. Memang pada jam-jam tertentu Sarah akan mengalami seperti itu.
Setelah mengeluarkan isi dalam perutnya yang tidak seberapa, Sarah pun memaksakan diri untuk meminum vitaminnya, lalu berbaring di sofa. Bryan pun memberikan minyak angin aromaterapi sembari memijat-mijat pelan pundak istrinya agar merasa lebih enakan. Sarah mencoba memejamkan matanya untuk mengurangi rasa mual yang sedang ia rasakan.
Satu jam berlalu, akhirnya Sarah pun tertidur di sofa tersebut. Bryan langsung saja menggendong istrinya dan memindahkan ke atas kasur, lalu menyelimuti dan mencium keningnya.
"Selamat tidur ya Sayang, aku janji akan selalu menjaga kamu. Aku nggak akan pernah melakukan kesalahan yang pernah dulu aku lakukan sama kamu dan Kayla, I love you," gumam Bryan sembari menatap wajah polos istrinya itu.
....
Hari ini, Tama akan mendatangi perusahaan milik Pak Jackson, Papinya Ara. Ia ingin menanyakan apa penyebab dari pemutusan kerjasama yang tiba-tiba itu.
__ADS_1
Saat sedang di dalam perjalanan menuju ke perusahaan Pak Jackson, tiba-tiba saja Tama mengalami kemacetan yang luar biasa. Ternyata di depan sana ada kecelakaan mobil yang begitu dahsyat sehingga menimbulkan kemacetan.
Tin … tin … tin … tin … berulang kali Tama menekan klakson mobilnya, akan tetapi itu sama sekali tidak berpengaruh. Bukannya kemacetan berkurang tetapi semakin bertambah, kini Tama terjebak di tengah-tengah kemacetan.
"Sialan!" Umpat Tama dengan raut wajah yang penuh emosi. Ia juga berulang kali memukul setir mobilnya. "Brengsek, brengsek, brengsek… gimana nih, mana katanya Pak Jackson jam 10.00 mau berangkat ke luar Negeri lagi, gimana coba? Kalau aku nggak sempat ketemu sama Pak Jackson, aku bakalan dimarahin lagi sama Papi, bisa-bisa perusahaan di Jakarta gagal jatuh ke tangan aku," ucap Tama dengan penuh kekhawatiran.
Akhirnya setelah dua jam, kemacetan dapat diatasi dan kendaraan kini sudah dapat melewati jalan tersebut. Tama segera saja melajukan mobilnya menuju ke perusahaan Pak Jackson. Setibanya di tempat tujuan, Tama memarkirkan mobilnya di sembarang tempat dan langsung saja turun dari mobil lalu masuk ke dalam perusahaan.
"Eh Mas mobilnya Mas, jangan parkir sembarangan," kata Satpam.
"Kamu urus aja," kata Tama sembari mencampakkan kunci mobilnya. Satpam hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Tama itu.
Saat ia melewati Loby, lagi-lagi ia dihentikan oleh resepsionis, "Mas mau ke mana?" Tanya resepsionis tersebut.
"Saya mau ketemu sama Pak Jackson," jawab Tama.
"Tapi Pak jackson-nya-" ucapan resepsionis tersebut terpotong.
"Tapi Pak Jackson nggak ada di perusahaan Mas, beliau baru saja pergi ke bandara dan akan berangkat ke luar Negeri," kata resepsionis itu.
"Hah? Kenapa nggak ngomong dari tadi sih," Gerutu Tama, ia langsung saja berbalik arah melangkahkan kaki keluar dan meminta kunci mobil kepada Satpam. Langsung saja ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil menuju ke bandara
...
Sejak jalan berdua bersama Aria untuk pertama kalinya malam itu, Rio jadi terus memikirkan Aria. Entah kenapa perasaannya saat bersama Aria menjadi lebih tenang, ia bahkan senyum-senyum sendiri jika sedang memikirkan Aria.
"Enggak, nggak, ini nggak boleh terjadi Rio. Nadia itu baru aja pergi bahkan kuburannya juga belum kering, kamu nggak boleh memikirkan orang lain Rio. Ingat, kamu harus ingat," ucap Rio yang bermonolog dengan hatinya. Tapi bayangan Aria selalu saja muncul di pikirannya, ia teringat bagaimana saat itu Aria menghiburnya dan membuatnya tertawa saat sedang bersedih kehilangan Nadia.
Rio menatap bintang-bintang di langit dari jendela kamarnya, tiba-tiba saja terlintas wajah Nadia di langit yang sedang tersenyum kepadanya, seakan-akan Nadia berbicara dan menyampaikan sesuatu kepadanya. Akan tetapi Rio tidak tahu apa itu, yang jelas Nadia terus tersenyum dan tidak ingin melihat Rio bersedih.
__ADS_1
"Aku rasa aku sudah gila, selain memikirkan Aria, kini aku pun menganggap Nadia muncul di langit yang sedang tersenyum kepadaku," gumam Rio.
Ara meraih ponselnya yang ada di atas kasur, ia menekan nomor seseorang pada WhatsApp lalu menghubunginya.
"Halo Kak Rio," ucap Aria.
"Halo Aria, aku nggak ganggu kamu kan?" Tanya Rio.
"Nggak Kak, nggak sama sekali. Ada apa Kak?" Tanya Aria.
"Gini Ar, kamu kan pernah bilang sama aku kalau aku lagi sedih atau aku lagi pengen cerita, aku boleh menghubungi kamu," kata Rio.
"Iya bener, aku senang banget kalau Kak Rio mau cerita sama aku. Ada apa kak? Cerita aja kalau mau, cerita lewat hp atau mau ketemu?" Tanya Aria.
"Kalau ketemu langsung kamu bisa?" Tanya Rio.
Aria melihat jam dinding yang ada di dinding kamarnya, saat ini jam menunjukkan pukul 09.00 malam.
"Boleh Kak kita ketemu, di mana ...? Tanya Aria.
"Kok ketemu? Biar aku aja yang jemput kamu Ar, kalau kamu nggak keberatan," kata Rio.
"Kakak serius mau jemput aku?" Tanya Aria yang begitu terkejut mendengarnya. Sepertinya saat ini Rio mulai membuka hati untuknya, atau Aria saja yang terlalu percayalah diri. Bisa saja kalau saat ini Rio memang sedang membutuhkan teman dan menganggap Aria sebagai sahabatnya.
"Aku serius Ar, biar sekalian aku minta izin sama Arka," jawab Rio.
"Ya udah Kak, aku tunggu ya," kata Aria tersenyum bahagia, akan tetapi Rio tidak bisa melihat senyuman manis yang terpancar di bibir Aria tersebut.
Lalu panggilan telepon terputus.
__ADS_1
...****************...