
"Maaf Tante kalau saya lancang, bukankah Tante bilang mau ketemu dengan istri saya karena ada yang mau dibicarakan?" Tanya Beni.
"Iya, itu memang benar Beni," jawab bu Tania.
"Kalau gitu bisa gak langsung di mulai aja, istri saya tidak bisa terlalu lama di luar, dia akan kecapean Tante. Istri saya harus banyak istirahat agar kondisinya beserta calon anak kami baik-baik aja, itu juga pesan dari Dokter," kata Beni.
Rolan tersentak, hatinya tertampar dan merasa semakin bersalah. Bagaimana bisa dengan mudahnya Beni menyebut anak yang sedang dikandung Cinta adalah anak mereka, sedangkan Beni yang secara biologis adalah ayah kandung dari anak tersebut malah tidak mau mengakuinya, ia benar-benar hanyalah iblis yang tidak punya hati dan perasaan seperti yang dikatakan Cinta.
"Baiklah! Begini Cinta, tujuan Tante ketemu sama kamu adalah untuk meminta maaf," kata bu Tania.
"Minta maaf? Minta maaf untuk apa Tante?" Tanya Cinta.
"Atas kesalahan Rolan, Tante baru tahu kalau ternyata kalian berdua pernah melakukannya dan kamu hamil, tapi bukannya bertanggung jawab malah Rolan mencampakkan kamu begitu saja. Untuk itu lah Tante minta maaf Cinta, seandainya..." ucapan bu Tania terpotong.
"Tante, Cinta udah lupain masalah itu. Sekarang Cinta udah bahagia sama Beni Tan, Cinta gak mau lagi ingat-ingat kenangan pahit itu. Bisa kan Tan Cinta minta tolong jangan bahas ini lagi," ucap Cinta dengan tegas. Sementara yang lain hanya menyimak pembicaraan mereka.
Bu Tania menatap nanar mata Cinta, ia bisa melihat kekecewaan yang ada pada diri Cinta melalui matanya. Namun ia sama sekali tidak bermaksud ingin mengingatkan Cinta pada luka yang telah menggores hatinya itu.
"Tapi Tante cuma ingin kamu memaafkan Rolan, apa kamu bisa...?" Tanya bu Tania ingin memastikan.
"Tante, Rolan ada di sini, kenapa gak Rolan langsung yang minta maaf, terlebih lagi Tante sama sekali gak ada sangkut pautnya sama masalah ini. Tante sendiri kan tadi yang bilang kalau Tante juga baru tau," kata Cinta.
"Cinta, apa pantas jika aku meminta maaf sama kamu...?" Tanya Beni tiba-tiba, ia merasa tertampar dengan perkataan Cinta, memang benar dia lah yang seharusnya minta maaf, bukan ibunya.
"Kenapa tidak...?" Tanya Cinta balik.
"Cinta, sebenarnya aku udah lama mau minta maaf sama kamu. Aku sadar kalau ini hanya seorang pria brengsek, tapi aku menyesalinya. Saat ini aku gak berharap bisa menikah dengan kamu karena kamu udah bahagia dengan Beni. Aku cuma minta maaf sama kamu Cinta, aku udah dapat balasannya, hidup aku selalu terusik, aku gak tenang," ucap Rolan, air matanya lolos begitu saja. Bu Tania yang melihat akan hal itu hanya bisa mengusap lembut punggung anaknya itu agar terasa lebih tenang.
Cinta menatap lekat wajah Rolan, "kenapa Rolan menangis, apa dia benar-benar menyesal sampai menangis seperti itu?" Tanyanya dalam hati.
__ADS_1
"Rolan aku memang sangat marah sama kamu karena kamu gak menganggap aku waktu itu, bahkan kamu juga udah menghina aku, tapi yang kita lakukan itu adalah kesalahan kita berdua, bukan kesalahan kamu sendiri," kata Cinta.
"Terus apa kamu sudi maafin aku...?" Tanya Rolan yang sangat berharap.
"Ya Rolan aku maafin kamu, tapi aku minta sebisa mungkin jangan pernah menampakkan muka kamu di depan mata aku lagi. Semoga setelah ini, kamu bisa menjalani hidup kamu dengan baik," jawab Cinta.
"Iya Cinta, aku janji," ucap Rolan.
Semua yang mendengar akan hal itu ikut merasa senang, terlebih lagi bu Tania, ia lega karena pada akhirnya Rolan bisa menjalani hidup normalnya seperti biasa.
"Terimakasih banyak Cinta, Beni karena sudah mau memaafkan Rolan, Tante doakan rumah tangga kalian selalu rukun, bahagia, kekal abadi sampai maut memisahkan kalian," ucap bu Tania seraya mendoakan.
"Aamiin, makasih banyak Tante doanya," ucap Rolan.
"sama-sama Tante, makasih juga atas doanya," ucap Cinta pula yang di balas anggukan dan juga senyuman oleh bu Tania.
"Ara, Leo terimakasih juga atas bantuan kalian ya, mungkin Tante akan membawa Rolan kembali ke luar Negeri, semoga kalian semua bisa menjalani kehidupan yang baik dan bahagia terus ya," ucap bu Tania.
"Sama-sama Tante, Semoga Tante juga bahagia selalu," ucap Ara.
"Aamiin, ya udah anak-anak kalau gitu Tante sama Rolan duluan ya," pamit bu Tania lalu pergi bersama anaknya.
Setelah itu, Cinta dan Beni pun pamit pulang ke rumah meninggalkan Ara dan Leo di restauran tersebut. Memang Ara dan Leo ingin memesan makan dulu baru mereka akan pulang. Karena saat mengobrol tadi, yang mereka pesan hanya minuman dan makanan ringan.
"Kamu mau makan apa Sayang...?" Tanya Leo.
"Hm... stik aja deh Sayang," jawab Ara. Lalu Leo pun memesan menu yang mereka inginkan.
Tidak lama kemudian makanan dan minuman yang di pesan telah tiba dan tersaji di atas meja.
__ADS_1
"Sayang, kamu tumben gak pesan spaghetti...? Malah pesan sushi," Tanya Ara.
"Lagi pengen aja, kamu mau?" jawab Leo dan bertanya.
"Gak mau ah, kamu aja yang makan," jawab Ara menggelengkan kepalanya.
Ara dan Leo menyantap makanan mereka hingga habis. Setelah selesai makan dan membayarnya, Leo berniat akan mengantar Ara pulang karena mobil Ara sudah diambil oleh supirnya tadi.
...
"Katanya tadi kamu mau antar aku pulang, kenapa jadi ke sini...?" Tanya Ara kebingungan.
Leo membawanya ke sebuah bukit tempat favorit mereka dulu. Akan tetapi kini tempatnya sudah berubah, telah dikelola menjadi tempat khusus untuk orang yang hendak berkemah dengan fasilitas yang telah di sediakan, tinggal menyewanya saja.
"Kita kan udah lama gak ke sini Sayang," jawab Leo.
"Tapi tempatnya udah gak asik kayak dulu, gak privasi lagi. Pasti sekarang lagi ada para pendaki gunung yang berkemah," kata Ara, dia lebih menyukai bukit yang dulunya masih dipenuhi dengan pepohonan dari pada kondisi saat ini.
"Udah yuk ikut aku aja," ajak Leo. Ara hanya mengikuti karena tangannya juga digenggam oleh tunangannya itu.
Setelah tiba, Ara menatap di sekelilingnya dengan kagum, terdapat sebuah taman kecil dengan pepohonan mini yang sepertinya memang di buat untuk pasangan yang datang.
"Sejak kapan ada taman mini kayak gini di sini...?" Tanya Ara.
"Belum lama, kamu suka...?" Jawab Leo dan bertanya.
"Suka banget kalau yang ini Sayang," jawab Ara tersenyum.
"Syukurlah," ucap Leo lalu membawa Ara duduk pada sebuah kursi yang ada di taman itu, dari situ mereka bisa melihat indahnya kota yang yang diterangi oleh lampu membuat Ara semakin kagum melihatnya.
__ADS_1
...****************...