Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_213


__ADS_3

Entah lagi ada angin apa, Rolan yang paling tidak suka menginjakkan kakinya ke perusahaan, hari ini memutuskan ke perusahaan untuk menemui Ayahnya.


"Untuk apa pagi-pagi sekali kamu datang ke sini..?" Tanya pak Hernandes


"Daddy, aku mau urus perusahaan kita yang di sini," kata Rolan tiba-tiba.


Pak Hernandes yang terkejut itupun segera menghentikan aktivitasnya lalu menatap Rolan tidak percaya.


"Kamu ngomong apa barusan...?" Tanya pak Hernandes.


"Aku mau urus perusahaan seperti yang Daddy mau, jadi Daddy juga bisa tenang kan kalau ninggalin perusahaan bolak balik ke luar Negeri," jawab Rolan.


"Tidak perlu jika kamu hanya mau bermain-main atau sekedar coba-coba," kata pak Hernandes.


"Aku serius Dad, aku gak lagi bercanda apa lagi main-main," kata Rolan meyakinkan Ayahnya.


"Kasih tahu ke Daddy, apa motivasi yang mendorong kamu tiba-tiba mau mengurus perusahaan," pinta pak Hernandes, ia masih tidak yakin karena selama ini Rolan selalu menolak mentah-mentah jika Ayahnya meminta untuk mengurus perusahaan, tapi kali ini dia yang datang sendiri menyampaikan akan mengurus perusahaan kepada Ayahnya.


"Apa harus motivasi itu aku kasih tau ke Daddy?" Tanya Rolan.


"Harus," jawab pak Hernandes singkat.


"Aku gak mau terus menerus di pandang sebelah mata sama orang lain Dad, apa lagi buat wanita yang aku cintai sejak lama, aku harus buktikan kalau aku juga bisa sukses dengan memimpin perusahaan," jelas Rolan.


"Oh, tapi bukankah kamu juga sudah cukup sukses dengan membuka restauran yang selalu kamu banggakan itu? Bagaimana dengan restauran kamu nanti..?" Tanya pak Hernandes.


"Restauran itu akan aku serahin sama teman aku buat di kelola Dad, jadi akan tetap berjalan sebagai bisnis sampingan aku," jawab Rolan.


"Apa tidak akan menggangu konsentrasi kamu di perusahaan nanti..?" Tanya pak Hernandes lagi.


"Aku janji tidak akan Dad," ucap Rolan.


"Hm, ya sudah. Jadi kapan kamu mau mulai belajar mengurus Perusahaan...?" Tanya pak Hernandes.


"Besok Dad, hari ini aku mau urus dulu masalah restauran aku," jawab Rolan.


"Oke," jawab pak Hernandes manggut-manggut.


...

__ADS_1


"Ra, kamu tidak lupa kan hari ini ada meeting dengan perusahaan Pak Ardi, yang artinya kamu akan ketemu langsung sama Leo sebagai partner kerja," kata pak Haris saat Ara di panggil ke ruangannya.


"Iya Om, Ara ingat kok. Jam 2 siang di perusahaan kita untuk membahas kerjasama tentang pembangunan resort di Bandung kan?" jawab Ara.


"Ya benar, memang tidak salah kamu menempati posisi CEO," kata pak Haris.


"Om, jangan berlebihan dong muji Ara," kata Ara yang malu.


"Om tidak berlebihan Ara, kamu memang sangat pantas," kata pak Haris.


"Terima kasih banyak ya Om," ucap Ara.


"Iya Ra, sama-sama," jawab pak Haris. "Oh ya bagaimana dengan kerjaannya Seno? Dia tidak menyusahkan kamu kan...?" Tanyanya pula.


"Gak kok Om, cukup membantu. Bahkan berkas buat meeting entar aja udah siap," jawab Ara.


"Oh ya, bagus lah jika seperti itu," kata pak Haris.


"Iya Om, kalau begitu Ara pamit ya mau balik ke ruangan Ara," pamit Ara.


"Iya Ra, silahkan!" Jawab pak Haris.


Lalu Ara pun keluar dari ruangan pak Haris.


...


Akan tetapi Ara juga bisa melihat, jika sekretaris Leo yaitu Karina juga tidak pernah mengalihkan pandanganya dari Leo, dan itu membuat Ara sangat tidak menyukainya. Tanpa di sadari, ternyata sedari tadi Seno juga memperhatikan gerak gerik Ara.


"Cemburu ya Kak," bisik Seno yang duduk di sebelah Ara.


"Apaan sih," ucap Ara dan Seno hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Sekian presentasi dari saya, terima kasih," ucap Leo mengakhiri presentasinya.


Plok.. Plok.. Plok.. Riuh tepuk tangan terdengar dari semua orang yang menghadiri rapat tersebut.


"Pak Leo, presentasi Anda sangat luar biasa," puji pak Haris.


"Terima kasih banyak Pak," ucap Leo.

__ADS_1


Rapat berakhir, satu persatu keluar dari ruang rapat dan yang tersisa hanyalah Ara, Leo, Karina dan Seno.


"Sen, jangan lupa kamu kasih salinannya langsung ke saya ya," kata Ara lalu beranjak dari tempat duduk.


"Baik Kak Ara," jawab Seno.


"Pak Leo, Bu Karina, terima kasih untuk hari ini, semoga Perusahaan kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Ara dan berjabat tangan dengan Karina, lalu Leo.


"Sama-sama Bu Ara," jawab Karina.


"Sama-sama Sayang," jawab Leo lalu memeluk dan membisikkan sesuatu telinga Ara, "I love you," bisiknya lalu melepaskan pelukan.


Ara tersenyum, Seno hanya diam saja, sementara Karina menatap dengan tidak suka. Setelah itu, Leo dan Karina pamit meninggalkan perusahaan pak Haris.


"Cieh... Yang abis meeting eh abis di peluk pacar, senyum-senyum terus dari tadi," goda Seno.


"Diem anak kecil," kata Ara.


"Aku anak kecil yang udah bisa buat anak kecil Kak," kata Seno.


"Apaan sih," gumam Ara lalu meninggalkan Seno keluar dari ruang rapat.


"Jadi itu yang namanya Leo?" teriak Seno terkekeh.


Langkah Ara terhenti karena mendengar teriakan dari Seno, lalu berputar balik menghampirinya.


"Iya, kenapa memangnya? pasti kamu taunya juga dari Om Haris kan, makanya aku gak kaget pas tadi kamu bilang aku cemburu lihat Karina yang terus memperhatikan Leo.


"Santai dong Kak, aku cuma mau bilang walaupun saingan aku berat kayak Leo, dia pintar, pengusaha, kalau tampan sih yah sebelas dua belas lah ya sama aku, tapi aku yakin kok kalau aku bisa dapatkan hati Kakak," kata Seno.


"Kamu ngomong apaan sih Sen..? Gak jelas banget," Tanya Ara.


"Masak Kak Ara gak paham sih, dari pertama kali ketemu aku itu udah suka sama Kakak, ya siapa suruh Kakak cantik, baik, pintar, pokoknya Kak Ara itu cewek idaman aku banget," ungkap Seno, akan tetapi Ara sama sekali tidak percaya dengan ucapan Seno.


"Udah ya cukup, saya mau kerja, gak ada waktu buat ngeladenin gombalan bocil kayak kamu," kata Ara.


Saat Ara hendak pergi, tiba-tiba saja Seno menarik tangan Ara hingga tubuh Ara berputar kembali menghadap ke arah Seno.


"Kak Ara, aku bukan bocil. Apa yang aku bilang ke Kakak tadi serius, jujur dari lubuk hati aku yang paling dalam, aku juga baru tau tadi kalau kak Ara punya tunangan, Om Haris yang bilang tadi kalau kita mau meeting sama calon suami Kak Ara," kata Seno lagi.

__ADS_1


"Lepasin tangan calon istri saya," ucap Leo dari kejauhan yang sedang melangkahkan kaki menghampiri mereka dengan wajah datarnya.


...****************...


__ADS_2