
"Ara, tolong Papi dong," pinta pak Jackson kepada anaknya.
"Ara nggak ikut-ikutan ya Pi, harusnya Papi dong yang ceritain ke Mami, kan beberapa hari ini Papi selalu sama Mami," kata Ara membela diri.
"Gini aja deh, kalau kalian berdua nggak mau cerita sama Mami ada apa ini, mendingan Mami pulang sekarang," kata bu Maria dengan mode ngambek dan melipat kedua tangannya serta memalingkan wajah dari anak dan suaminya itu.
"Jangan gitu dong Sayang. Iya-iya sini Papi ceritain," kata pak Jackson.
"Iya Mami, jangan ngambek dong. Sekarang kita berdua ceritain ya," bujuk Ara pula.
"Anak sama papinya kompak main rahasia-rahasiaan sama maminya, mentang-mentang sama-sama berbisnis. Mami juga punya bisnis kali, tapi nggak ada tuh main rahasia-rahasiaan sama kalian berdua," gerutu bu Maria.
"Iya deh Mi maaf," ucap Ara.
"Mami jangan marah-marah dong, ntar kalau Papi ada waktu libur lagi, kita jalan-jalan deh keluar Negeri," kata Pak Jackson yang terus membujuk istrinya.
Lalu bu Maria pun tersenyum menghadap Ara dan pak Jackson.
"Gitu dong, kalau senyum kan manis. Iya kan Ra?" Puji Pak Jackson dan bertanya lepada anaknya.
"Iya dong manis banget, Mami siapa dulu, Mami Ara," ucap Ara dengan bangga.
"Istri Papi," sambung pak Jackson.
Kini mereka bertiga pun tertawa bahagia sebagaimana keluarga yang harmonis.
Saat sedang asyik bersenda gurau dengan keluarganya, tiba-tiba mata Bu Maria tertuju pada satu keluarga yang sedang duduk tidak jauh dari tempat duduk mereka.
"Sayang, itu bukannya Leo dengan mami papinya ya?" Tanya bu Maria sembari menunjuk ke arah yang dimaksudnya.
"Mana Mi?" Tanya Ara dan menoleh ke arah yg ditunjuk oleh maminya itu. Pak Jackson pun ikut mencari keberadaan keluarga Leo.
"Oh iya Mi, kok bisa kebetulan banget ya kita bisa ketemu sama mereka di sini," kata Ara setelah menemukannya.
"Iya Sayang, coba deh kamu hubungi Leo, kamu kasih tau kalau kita ada di sini. Soalnya kan jarak kita terpisah sama kaca ya, jadi kalau kita panggil-panggil mereka nggak bakalan denger," kata bu Maria.
"Oke Mi," jawab Ara dan mengambil ponselnya di dalam tas, lalu ia pun segera menghubungi Leo.
"Halo Sayang," ucap Leo dari seberang telepon.
"Halo Sayang, kamu lagi dimana?" Tanya Ara.
__ADS_1
"Aku lagi di Restauran Family nih sama Mami dan Papi. Kamu lagi dimana? Udah makan belum?" Jawab Leo dan bertanya balik.
"Coba deh kamu liat dari balik kaca sebelah kiri kamu," kata Ara.
Leo pun langsung menoleh dan saat itu Ara melambaikan tangannya, Leo melihat ke Ara juga ikut melambaikan tangan.
"Sayang, kamu ada di sini juga?" Tanya Leo.
"Iya, aku juga baru sadar loh ternyata ada kamu dan keluarga kamu juga di sini," jawab Ara.
"Iya Sayang, ya udah kebetulan aku sama Mami Papi baru aja pesan makanan. Biar aku ajak orang tua aku samperin kamu dan orang tua kamu ya," kata Leo.
"Ya udah, aku tunggu ya Sayang," kata Ara.
Lalu Ara memutuskan panggilan telepon.
Tidak berapa lama, Leo dan kedua orang tuanya pun telah tiba menghampiri Ara dan keluarganya.
"Hai Ra," sapa Bu Maria.
"Hai Mar, gak nyangka banget ya kita ketemu di sini," kata bu Amara.
"Iya, padahal kita nggak janjian ya," kata bu Maria.
"Pak Jackson," sapa Pak Ardi dan mereka berjabat tangan.
"Silakan duduk Pak Ardi, Leo, bu Amara!" Ucap pak Jackson.
Kini kedua keluarga itu pun duduk satu meja untuk menikmati makan siang dan mengobrol bersama.
"Nggak nyangka banget ya kita bisa makan bareng kayak gini tanpa janjian," kata Leo.
"Iya, kalau bukan Mami dan Papi yang ajak makan di luar tadi, aku nggak mungkin makan di sini," kata Ara.
"Oh ya kebetulan banget ya, aku juga diajakin Mami sama Papi makan di luar," kata Leo pula.
"Kok bisa kebetulan gitu ya," ujar Ara merasa ada yang ganjal.
Bu Maria dan bu Amara yang melihat anak mereka itu kebingungan hanya bisa terkekeh di belakang mereka berdua.
...
__ADS_1
Selesai makan bersama ibunya, Bryan menghampiri Sarah yang sedang menidurkan Kayla. Karena saat hamil anak kedua, Sarah menjadi lebih lemah dan kurang berselera untuk makan.
"Sayang, kamu lagi apa? Kayla nya udah tidur atau belum?" Tanya Bryan.
"Hust … jangan bising Mas, Kayla-nya baru aja tidur," jawab Sarah .
"Oh .. ya udah kamu lanjutin aja tepuk-tepuknya biar makin nyenyak," kata Bryan, lalu ia pun duduk di sudut ranjang dekat istrinya.
Beberapa saat kemudian, bu Sinta datang menghampiri mereka ke kamar Kayla. Memang bu Sinta sendiri yang meminta untuk tidur di kamar Kayla karena ia ingin menemani cucunya itu, terlebih lagi saat ini Sarah sedang hamil.
"Sarah, Bryan, Kayla-nya udah tidur belum?" Tanya bu Sinta.
"Ibu, iya Bu Kayla baru aja tidur," jawab Bryan.
"Ya udah kalian berdua ke kamar aja, biar Ibu temenin Kayla sekalian ibu mau istirahat juga," kata bu Sinta.
"Iya Bu," jawab Bryan. "Sayang, yuk kita ke kamar," ajak Bryan, lalu Sarah pun duduk.
"Ya udah Bu, kami ke kamar dulu ya," kata Sarah.
"Iya Sayang, jangan lupa diminum ya vitaminnya, kalau bisa kamu makan dulu buahnya, walaupun sedikit yang penting jangan sampai perut kosong saat kamu minum vitamin," pesan bu Sinta.
"Iya Bu," jawab Sarah mengangguk.
"Bryan, kamu temenin istri kamu ya, kamu jaga dan kamu rawat dia," kata bu Sinta.
"Iya Ibuku sayang, aku pasti akan menjaga dan merawat istri aku dengan sepenuh hati juga segenap jiwa dan raga aku," jawab Bryan.
Sarah tersenyum, Ia sangat bersyukur. Dulu saat dia sedang hamil Kayla, Bryan tidak bersikap semanis ini kepadanya, akan tetapi Tuhan memberikannya kekuatan untuk menjalani kehidupannya sendiri dengan mengandung Kayla, melahirkan dan membesarkan Kayla. Sedangkan saat ini, di saat kehamilan keduanya yang lemah, ada Bryan di sisinya yang selalu menjaga dan menemaninya, juga ada ibu mertua yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri yang begitu menyayanginya.
"Sayang, yuk," ajak Brian lagi yang membuyarkan lamunan Sarah.
"Iya Mas," jawab Sarah. Lalu mereka berdua keluar dari kamar Kayla dan menuju ke kamar mereka.
"Kamu duduk di sini aja dulu ya Sayang," kata Bryan saat mereka sudah tiba di kamar, ia mendudukkan Sarah di sofa.
"Mau ke mana Pa?" Tanya Sarah.
"Aku mau ambilin buah sama vitamin kamu dulu," jawab Bryan.
"Iya Sayang, makasih ya," ucap Sarah.
__ADS_1
"Sayang kamu nggak perlu makasih sama aku. Ini memang udah tugas aku sebagai suami kamu," kata Bryan.
...****************...