Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_239


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tidak terasa ini adalah hari terakhir Ara bekerja di perusahaan milik pak Haris. Rasanya sangat tidak rela harus meninggalkan perusahaan yang telah bertahun-tahun memberikan banyak pelajaran berharga untuknya. Tetapi Ara harus ikhlas karena semua telah menjadi keputusannya sendiri.


"Ra, Om harap kamu bisa sukses ya dengan bisnis yang akan kamu bangun sendiri. Jangan sungkan untuk meminta bantuan Om jika kamu membutuhkannya," ucap pak Haris.


"Aamiin, makasih ya Om. Iya Om tenang aja, Ara pasti akan menghubungi Om kok kalau Ara butuh bantuan," ucap Ara.


"Kak, aku ngelamar kerja di perusahaan Kakak aja ya nanti," kata Seno.


"Seno, jadi kamu mau ninggalin Om juga gitu," cibir pak Haris.


"He ... he ... he ... maaf Om, Seno cuma bercanda kok," ucap Seno nyengir.


"Seno, sesuai kesepakatan bersama yang sudah kita bahas kemaren, maka kamu lah yang akan menggantikan posisi Ara," kata pak Haris.


"Iya Om, Kak Ara juga udah ajarin Seno kok. Seno udah siap Om," jawab Seno dengan yakin.


"Om suka jawaban seperti itu Sen," ucap pak Haris.


"Awas ya kalau sampai saya dengar kamu kerjanya gak bener, gagal dong apa yang udah saya ajarkan ke kamu," kata Ara.


"Tenang aja Kak, aku janji gak akan kecewain Om Haris dan Kak Ara," ucap Seno.


"Ya udah kamu buktiin aja," kata Ara.


"Oke," Jawa Seno sembari mengacungkan jari jempolnya dan tersenyum lebar.


"Ya udah, jangan lupa rapat nanti siang. Akan menjadi rapat perpisahan buat Ara dan kita umumkan juga bahwa Seno langsung yang akan menggantikan Ara," ucap pak Haris.


"Tapi Om, bukannya udah pada tau ya ...?" Tanya Seno.


"Iya, tapi tetap aja harus diumumkan biar lebih resmi Seno," celetuk Ara.


"Ya, apa yang di bilang Ara memang benar. Jadi persiapkan diri kamu Seno," sambung pak Haris.


"Oh ... gitu, baiklah! Om sama Kak Ara gak perlu khawatir soal itu.


Ara tertunduk, air matanya lolos begitu saja tanpa mampu dibendungnya lagi. Pak Haris dan Seno yang melihat akan hal itu saling berpandangan, mereka sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Ara saat ini. Rasanya mereka juga tidak ingin untuk berpisah dengan Ara, kehilangan orang yang sangat penting dan sangat berpotensi dalam bekerja.


"Kak Ara, udah jangan nangis lagi ya, aku jadi tambah sedih Kak," kata Seno sambil memberanikan diri mengusap lembut pundak Ara.

__ADS_1


Ara tertegun ia mengangkat kepalanya lalu menatap Seno, tampak Seno yang saat ini juga sedang bersedih, terlihat jelas dari sudut matanya yang mengeluarkan tetesan air bening. Lalu Ara memeluk Seno hanya sebagai tanda perpisahan, dengan senang hati Seno pun membalas pelukan tersebut.


"Kak, kita bisa kan ketemu di luar kalau aku kangen sama Kakak?" Tanya Seno.


Ara melepaskan pelukannya dan tersenyum, "bisa dong, tapi jangan sering-sering ya, saya harus membagi waktu. Terus bagi waktu buat Leo juga tentunya," kata Ara.


"Ikh malas banget deh dengar nama Leo," ucap Seno sembari mengerucutkan bibirnya.


Pak Haris dan Ara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Seno yang seperti anak kecil itu, wajar saja jika Ara hanya menganggapnya bocil dan tidak pernah menanggapi gombalan-gombalan yang selalu dilontarkan oleh Seno untuknya.


"Seno, kamu itu harus terima kenyataan kalau Ara udah punya calon suami, bahkan setelah perusahaan Ara nanti diresmikan, mereka akan segera menikah. Iya kan Ara ...?" Kata pak Haris dan bertanya kepada Ara.


"Iya Om," jawab Ara tersenyum.


Sedangkan Seno tetap saja cemberut seperti anak kecil yang tidak dikasih uang jajan oleh ibunya.


...


Karina berjalan menuju ke parkiran mobil. Saat itu kebetulan ia juga melihat Leo yang ada parkiran. Karina tersenyum smirk, tidak tahu apa lagi yang yang sedang ia rencanakan saat ini.


"Leo!" Panggil Karina saat Leo akan masuk kedalam mobilnya.


"Hati-hati ya," ucap Karina sekedar berbasa-basi.


"Oh iya, kamu juga," jawab Leo dengan wajah datar.


Tiba-tiba Karina memegangi kepalanya, matanya mulai terpejam dan tubuhnya lunglai hendak tumbang. Leo yang melihat akan hal itu langsung saja menangkap tubuh Karina hingga ia terjatuh kedalam pelukannya, mata mereka saling bertemu dan bertatapan.


"Kamu gak papa ...?" Tanya Leo. Ia juga membantu Karina untuk berdiri.


"Aku gak papa kok Yo, makasih ya udah nolongin aku," ucap Karina.


"Iya sama-sama, yakin gak kenapa-napa?" Tanya Leo lagi.


"Gak Yo, aku cuma sedikit pusing aja. Kayaknya sih gara-gara tadi siang aku gak makan," jawab Karina.


"Oh ... ya udah, mendingan kamu pulang dan makan," kata Leo.


"Leo, aku tau kamu selalu menghindar untuk pulang bareng aku. Tapi aku minta tolong kali ini aja, bisa gak aku ikut pulang, anterin aku pulang ke rumah. Kepala aku masih pusing banget, takutnya gak kuat aja sampai ke rumah," kata Karina.

__ADS_1


"Hm ... gimana ya? Kasian juga liat Karina. Bisa bahaya banget kalau bawa mobil dalam keadaan gak stabil," gumam Leo dalam hati.


Lalu Leo merogoh ponsel di saku celana, ia tampak mengirim pesan kepada seseorang. Hingga beberapa saat kemudian, Leo tampak tersenyum smirk dan menyimpan kembali ponselnya kedalam saku.


"Ya udah, aku anterin kamu pulang. Pastiin mobil kamu aman ditinggal," kata Leo.


"Iya, makasih banget ya Leo," ucap Karina bersemangat, ia sangat senang karena akhirnya rencananya berhasil.


Leo dan Karina masuk kedalam mobil, setelah itu Leo mulai melajukan mobilnya ke arah tujuan.


Selama di perjalanan, Karina terus menatap ketampanan Leo yang membuatnya selalu kagum, Leo yang menyadari akan hal itu hanya diam saja dan fokus menyetir.


"Loh Leo, kita mau kemana ...? Ini kan bukan arah ke rumah aku?" Tanya Karina yang baru menyadarinya.


"Memang bukan, kamu ikut aja ya. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat dulu," jawab Leo.


"Iya, aku ikut kemana aja kamu mau bawa aku pergi," ucap Karina dengan senyum sumringah. Hatinya sangat berbunga-bunga karena Leo semakin lama semakin bersikap manis padanya.


Setibanya di tempat tujuan...


"Silahkan turun!" Ucap Leo.


Karina menatap sekeliling yang ternyata adalah rumah sakit.


"Rumah sakit ...? Kita mau ngapain Yo?" Tanya Karina.


"Turun aja dulu, entar juga tau," jawab Leo.


"Mungkin Leo mau ajak aku jenguk temennya, hm ... gak papa deh, ikut aja," batin Karina.


Saat mereka turun dari mobil, Ara dan Seno yang sudah menunggu langsung menghampiri mereka.


"Sayang," panggil Leo.


"iya Sayang, akhirnya kalian sampai juga.


"Ini ada apa ...?" Tanya Karina yang mulai curiga.


"Jadi gini Karina, kata Leo kamu tadi pusing dan hampir pingsan, jadi Leo bawa kamu ke sini supaya kamu bisa diperiksa," jawab Ara yang membuat Karina terkejut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2