Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-292


__ADS_3

"Dia bilang sama aku katanya aku enak bisa kembali ke dunia nyata, sedangkan dia masih menggantung statusnya, nggak tau mau kemana. Mau pergi ke alam lain dia belum diterima, mau kembali ke dunia nyata, dia nggak tau harus kembali ke mana, keluarganya belum juga ketemu, padahal kita juga udah pernah membantu dia buat cari keluarganya," jelas Leo.


"Nggak salah lagi Sayang, itu memang Frans Pantes aja waktu kamu koma kali ini, aku nggak bisa ketemu sama kamu, nggak bisa ngeliat kamu, ternyata kamu ada di dunia lain," kata Ara.


"Iya sayang, tapi kali ini aku bisa mengingatnya karena aku merasa itu hanya mimpi," kata Leo.


"Oh … gitu, ya kita doain aja deh ya mudah-mudahan Frans bisa cepat ketemu sama keluarganya supaya bisa balik ke dunia nyata, dan kalau nggak pun mudah-mudahan Frans bisa pergi ke dunia seharusnya dia berada," kata Ara.


"Iya Sayang, mudah-mudahan aja ya," ucap Leo pula.


"Tapi Frans gak jahil lagi kan sama kamu Sayang?" Tanya Ara.


"Gak kok Sayang, beda banget sama yang kamu ceritain kalau dia suka jahil sama aku. Udah tobat kali," jawab Leo.


Ha … ha … ha …


Terdengar tawa dari mulut Ara dan Leo.


...


Di ruangan yang gelap dan sempit, tampak seorang pria saat itu sedang meringkuk karena merasakan perutnya lapar, ia ingin keluar dari tempat persembunyian tetapi saat ini polisi sedang berada di sekeliling tempat tinggalnya. Siapa lagi pria itu kalau bukan Tama, ia saat ini sangat merasa kelaparan berada di ruang bawah tanah. Sebenarnya ia sempat keluar untuk mengambil makanan, akan tetapi sialnya ia langsung saja melihat para Polisi yang menjaga di sekitar villanya itu. Dengan terpaksa Tama hanya dapat mengambil cemilan yang ada di kamar lalu masuk lagi ke rumah bawah tanah, tempat persembunyian yang dianggapnya hanya sementara, tapi ia tak tahu entah kapan akan keluar dari tempat itu.


"Sial, mau sampai aku berada di sini, lama-lama aku bisa mati kelaparan," Umpat Tama. "Karina pasti udah ketangkap sama Polisi. Terus aku harus gimana sekarang? Bisa mati perlahan aku di sini. Nggak bisa, pokoknya aku harus segera keluar dari sini gimana pun caranya."


Tama segera mengatur siasat agar bisa kabur dari villanya, ia berencana mengendap-endap di saat para polisi nanti sudah lengah. Sekarang ini ia hanya bisa bertahan berada di tempat gelap nan sempit sembari menahan perutnya yang sudah keroncongan.


"Duh … gimana ini? Aku benar-benar lapar," kata Tama sembari memegang perutnya yang perih.


Saat sinar mentari sudah tak lagi terlihat dan berganti dengan cahaya bulan, Tama tampak lemah keluar dari tempat persembunyiannya, ia mencari-cari makanan yang ada di dalam kulkas.

__ADS_1


"Sial! Ternyata persediaan makanan juga sudah habis. Aku belum bisa keluar dari sini sekarang, meskipun aku tidak melihat Polisi di sekitar villa, tapi aku yakin mereka pasti tetap berjaga-jaga tidak jauh dari sini. Apa yang harus aku lakukan sekarang, ayo berpikir Tama," gumam Tama seraya memukul kepalanya sendiri.


Tama membalikkan badannya hendak kembali ke kamar, "Akh, sial! Sakit sekali," rintih Tama karena kakinya tersandung meja, saat ini memang ruangan tampak gelap. Tama tidak berani menyalakan lampu karena takut ketahuan oleh Polisi jika ia berada di dalam villa.


Tama pun kembali meraba-raba dinding menuju ke kamarnya.


"Lebih baik aku tidur aja. Mungkin kalau aku tidur rasa lapar ini akan hilang, tapi ini baru jam 08.00 gimana bisa aku tidur. Ini semua gara-gara kalian, aku nggak akan tinggal diam, aku pastikan kalian semua akan menderita," kata Tama dengan sorotan mata yang tajam.


...


Sementara saat ini Karina ditahan oleh Polisi sambil menunggu hasil pemeriksaan dan menunggu tertangkapnya Tama. Karina hanya seorang diri meratapi nasibnya di balik jeruji besi.


"Kenapa sih nasib aku jadi seperti ini? Papi tolong Karin Papi, Karin nggak mau ada di sini, Karin mau pulang Pi," gumam Karina. Ia merasa hidupnya sangat menderita berada di sel tahanan, ia ingin cepat-cepat keluar dari sini, tapi dia juga tidak tahu bagaimana caranya.


"Ini semua gara-gara kamu Tama, kamu yang udah bikin aku ketangkap, tapi kamu malah enak-enakan kabur Tama. Sialan!" Karina berteriak dengan lantangnya tanpa ia sadari.


"Maaf Pak, saya keceplosan," ucap Karina.


"Jangan berisik ya kamu, mengganggu ketenangan saja," bentak sipir. "Itu makanan kamu dimakan, kamu kira di sini bisa makan enak sampai-sampai kamu tidak mau menyentuh makanan itu," kata sipir yang melihat makanan Karina belum luak sama sekali.


"Tapi saya memang nggak mau Pak makan makanan itu, itu bukan selera saya," kata Karina.


"Sombong sekali kamu. Tapi semua terserah kamu, kalau kamu mau mati di dalam sel itu juga bukan urusan saya," kata sipir yang tak peduli sama sekali dengan Karina.


Akhirnya Karina pun memakannya karena merasakan perutnya yang lapar, sama halnya dengan yang dirasakan oleh Tama, akan tetapi Karina masih beruntung karena ada makanan yang bisa mengisi perutnya. Sementara Tama, dia bisa saja mati kelaparan malam ini karena sama sekali tidak ada lagi makanan yang bisa di telan olehnya.


...


"Mbak Ara, Kak Leo, kita pamit dulu ya," kata Amira.

__ADS_1


"Iya Kak Ara, Kak Leo, udah malam nih. Aku mesti anterin Amira pulang. Kak Leo cepat sembuh ya," kata Seno.


"Iya Mir, sen, kalian hati-hati ya," ucap Ara.


"Makasih ya Amira, Seno. Sen kamu harus anterin Amira sampai rumah, pastikan selamat sampai dengan tujuan," kata Leo.


"Iya Kak, Kakak Tenang aja. Aku pasti bakalan jadi pria yang tanggung jawab kok kayak Kakak," kata Seno.


"Baguslah kalau gitu, seorang laki-laki memang harus seperti itu," kata Leo.


Ara dan Amira hanya tersenyum saja mendengar obrolan dua pria tampan yang ada di depan mereka.


"Oh ya Mir, jadi tadi motor kamu ditaruh di perusahaan ya?" Tanya Ara.


"Iya Mbak tadi aku titipin sama Pak Bejo, kebetulan yang jaga malam ini Pak Bejo," jawab Amira.


"Oh … gitu, jadi ini mau ambil motor dulu ke kantor ya?" Tanya Ara lagi.


"Nggak Kak, aku langsung nganterin Amira pulang aja, besok pagi aku jemput biar pergi bareng ke perusahaannya," kata Seno yang menjawab pertanyaan Ara.


"Bagus dong kalau kayak gitu, lagian ini kan udah malam juga, kasian Amira kalau harus ambil motor ke perusahaan terus pulang sendirian," kata Ara.


"Iya kak aku pikirnya juga kayak gitu, makanya lebih baik aku langsung anterin Amira pulang aja," kata Seno.


"Hm … memang maunya kamu tuh," sindir Leo.


"Ah Kak Leo kayak enggak tahu trik laki-laki aja," kata Seno.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2