
"Sayang, kamu gak usah anterin aku pulang ya, aku bisa kok pulang sendiri," kata Sarah.
"Gak bisa, aku aku antar kamu pulang sekarang," kata Bryan.
"Tapi Mas, kamu kan udah mau masuk kerja," kata Sarah.
Bryan tampak berfikir, sebenarnya ia memang masih ada kerjaan yang tidak bisa di tinggal.
"Ya udah kamu tunggu sini dulu," kata Bryan lalu merogoh ponsel dari kantongnya dan menghubungi Pak Amir, supir pribadi di rumah Bryan.
"Aku kan bawa mobil, kenapa harus pakai supir sih," protes Sarah saat Bryan selesai menelpon.
"Kamu tunggu pak Amir di sini, aku gak mau kamu pulang sendirian," kata Bryan.
"Tapi di dalam mobil banyak belanjaan," kata Sarah.
"Aku itu suruh pak Amir ke sini naik gojek Sayang, jadi mobil tetap di bawa pulang," jelas Bryan.
"Oh... Ya udah deh kalau gitu," kata Sarah.
Setengah jam kemudian, supir yang menjemput Sarah pun telah tiba dan Sarah pulang ke rumahnya.
...
Tok.. Tok.. Tok.. Ara mengetuk ruang Direktur Utama dan masuk ke dalam.
"Ara, silahkan duduk!" Ucap pak Haris.
"Terima kasih Om," ucap Ara dan duduk. "Om ada yang mau Ara sampaikan."
"Ada apa Ara?" Tanya pak Haris.
"Sebelumnya Ara mau nanya dulu, bukankah semua pegawai di sini boleh mengundurkan diri secara hormat minimal tiga bulan sebelumnya? Tapi kenapa Om gak langsung acc surat pengunduran diri dari Ara...?" Tanya Ara.
__ADS_1
"Oh soal itu, apa kamu yakin Ara sama keputusan kamu itu...?" Tanya pak Haris.
"Ara yakin Om, Om sendiri juga udah tau kan kalau ini impian Ara sebelum Ara menikah dan sekarang udah saatnya Om," jelas Ara.
"Iya Om tahu, tapi Om juga sangat tidak rela jika harus kehilangan kamu di perusahaan ini," kata pak Haris.
"Maafkan Ara Om, tapi udah saatnya Ara membangun masa depan Ara sendiri, impian Ara dari jaman kuliah Om," kata Ara.
Sebenarnya, pak Haris sangat tidak rela jika harus kehilangan CEO terbaik di perusahaannya, akan tetapi ia juga tidak mungkin melarang Ara untuk mencapai impiannya. Bahkan saat itu pak Haris sendiri berjanji akan mendukung apapun yang menjadi keputusan Ara.
"Baiklah Ara, akan Om acc secepatnya," ucap pak Haris dengan nada yang sedikit berat.
"Makasih ya Om," ucap Ara dengan senyuman yang merekah.
"Iya Ara sama-sama ," jawab pak Haris.
"Maafin Ara ya Om, sebenarnya Ara juga gak rela harus ninggalin perusahaan Om Haris. Di perusahaan inilah Ara memulai terjun langsung ke dunia bisnis. Dari bukan siapa-siapa hingga menjadi CEO kayak sekarang ini. Makasih banyak ya Om udah bantu Ara," ucap Ara.
"Doain Ara ya Om," pinta Ara.
"Itu pasti Ra," jawab pak Haris.
...
"ini kenapa berantakan gini sih laporannya? Kamu sengaja ya mau buat perusahaan saya bangkrut," bentak Leo sembari mencampak sebuah berkas di atas meja.
"Ma-maaf Pak, saya kurang teliti waktu itu. Saya lagi gak fit waktu itu jadi kurang fokus," ucap Karina.
"Maaf kata kamu, kamu sadar gak sih, dengan kesalahan yang kamu buat ini, perusahaan bisa rugi tau gak. Makanya kerja yang fokus dong, fokus kerja bukan untuk tujuan lain," bentak Leo lagi.
"Stop.......! Udah cukup ya selama ini kamu bentak-bentak aku kayak gitu. Selama aku kerja di sini, apa pernah aku buat kesalahan yang begitu fatal? Gak kan? Baru kali ini Leo. Jangan jadikan alasan kebencian kamu ke aku, terus kamu bisa marah-marah sama aku seenaknya gitu dong. Udah cukup aku sabar selama ini menghadapi kemarahan kamu, padahal kamu sendiri yang bilang jangan campurkan urusan pribadi sama urusan pekerjaan, tapi nyatanya kamu sendiri gitu kan," Karina mengeluarkan unek-unek dalam hatinya karena sudah tidak tahan lagi dengan sikap Leo.
"Terus mau kamu apa...?" Tanya Leo.
__ADS_1
"Mau aku, bisa gak kamu hargai aku sedikit aja. Bersikap baik sama aku seperti kamu bersikap baik sama pegawai kamu yang lainnya, aku gak minta lebih kok," jawab Karina.
"Kalau kamu gak terus cari gara-gara atau buat kesalahan, saya juga gak akan bentak-bentak kamu Karina," kata Leo yang masih saja dingin, ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Karina yang panjang lebar tadi.
"Ya aku tau selama ini aku memang selalu cari gara-gara, berusaha buat dapetin kamu. Tapi aku juga sadar Yo kalau itu semua sama sekali gak berhasil, sekarang ini aku cuma mau fokus dan tanggung jawab sama pekerjaan aku. Tolong percaya sama aku Yo," pinta Karina memohon.
Sedangkan Leo hanya terdiam, padahal ia merupakan sosok seorang pemaaf. Tapi entah kenapa sulit sekali untuknya memaafkan apalagi percaya dengan Karina. Padahal Karina adalah sahabat kecilnya yang sempat ia kagumi, tapi karena kejahatan yang pernah dilakukannya membuat Leo kini sangat tidak menyukai Karina.
"Aku gak mau tau, dalam rapat besok kamu harus jelasin langsung tentang ini semua di depan para pemegang saham. Kalau kamu sampai gagal dan para pemegang saham itu mundur, maka berakhir juga profesi kamu sebagai Sekretaris di perusahaan ini, ngerti kamu," kata Leo.
"Iya aku mengerti," jawab Karina
"Silahkan keluar!" Ucap Leo.
"Baik Pak, permisi," ucap Karina.
...
"Sayang, seharusnya kamu gak boleh terlalu kasar gitu sama Karina, kasian juga dia. Gimanapun juga dia itu wanita, hatinya itu sensitif banget," kata Ara setelah mendengar cerita Leo tentang kejadian di perusahaan tadi.
"Ya mau gimana lagi, aku emosi banget Sayang. Makanya kalau kerja itu fokus sama kerajaan, ini enggak, malah sibuk sama urusan pribadinya," kata Leo.
"Bukannya dia bilang gak fokus karena gak fit ya?" Tanya Ara.
"Entahlah, yang aku liat dia baik-baik aja. Kalau dia memang sakit, harusnya dia di rumah aja gak usah kerja, kalau maksa buat kerja jadinya buat kesalahan fatal gitu kan," kata Leo.
"Gini ya Sayang, semua orang itu pernah yang namanya buat kesalahan. Kamu kasih Karina kesempatan lagi. Aku yakin dengan bantuan kamu, besok rapatnya akan berjalan lancar. Calon suamiku ini hebat kok, aku yakin dia bisa atasi masalah ini dengan baik," kata Ara sembari melemparkan senyuman manisnya buat Leo.
Leo membalas senyuman Ara dan menatap matanya yang penuh kedamaian, hatinya selalu tenang jika berada didekat sosok wanita yang sangat ia cintai selain ibunya itu.
"Makasih ya Sayang," ucap Leo lalu mencium sekilas bibir Ara.
...****************...
__ADS_1