Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_212


__ADS_3

Meskipun seperti itu, Karina tidak berniat untuk menyerah mendapatkan hati Leo, pria yang ia kagumi sejak kecil.


"Leo, kalau kamu memang capek ya udah istirahat aja, aku pulang dulu ya," kata Karina.


"Silahkan!" kata Leo lalu melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.


Bersamaan dengan itu, bu Amara datang membawakan minuman untuk Karina dan bisa melihat bahwa anaknya itu tidak suka dengan kehadiran sekretarisnya itu.


"Karina, kamu mau kemana...?" Tanya bu Amara karena melihat Karina beranjak dari tempat duduknya.


"Mau pulang Tan," jawab Karina.


"Loh, memang sudah selesai bahas pekerjaannya?" Tanya bu Amara lagi.


"Udah kok Tante. Lagian Leo katanya capek banget, jadi mau istirahat," jawab Karina.


"Oh begitu, terus minuman yang sudah Tante buatin gimana? kamu minun dulu ya," kata bu Amara.


Karena merasa tidak enak dengan bu Amara, Karina pun duduk kembali untuk menghabiskan jus jeruk yang telah di buatkan hingga habis, barulah setelah itu ia pergi meninggalkan rumah Leo. Sedangkan bu Amara langsung menghampiri Leo ke kamarnya.


"Mami," ucap Leo saat ibunya itu masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu belum mandi Sayang?" Tanya bu Amara yang melihat anaknya berbaring di atas kasur sambil memainkan ponselnya, masih menggunakan pakaian yang sama saat ia pulang tadi.


"Bentar lagi Mi," jawab Leo. "Mami ada apa?" tanyanya pula.


"Mami tahu kamu sangat tidak menyukai Karina karena kesalahannya dulu, tapi bukannya dia sudah minta maaf sama kamu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi? Kamu lupakan masa lalu itu Sayang. Mami lihat sekarang ini Karina hanya ingin menjadi teman kamu saja, ingat Leo, bagaimanapun juga kalian itu sahabat kecil," kata Mami Leo.


"Mi, Mami gak usah terlalu percaya sama Karina. Mami gak tau kan apa aja yang udah dia lakuin buat ngerusak hubungan Leo sama Ara? Leo sama Karina sekarang ini hanya sebatas Bos dan pegawai, kalau ada kerjaan ya sebaiknya di bahas di kantor, gak usah cari-cari alasan buat ke rumah," kata Leo yang sangat kesal.


Bu Amara di buat tidak berkutik oleh perkataan Leo, ia hanya dapat tersenyum, ia tahu jika anaknya itu sangat mencintai Ara dan tidak mau berurusan sama orang-orang yang akan menghancurkan hubungan percintaannya.


"Ya sudah, kalau begitu Mami keluar dulu ya. Kamu mandi biar segar badannya," kata bu Amara.


"Iya Mi, maafin Leo ya kalau Leo agak sensi bahas soal wanita itu," ucap Leo.


"Tidak apa-apa Sayang, Mami mengerti," ucap bu Amara lalu keluar dari kamarnya.

__ADS_1


...


Bu Amara dan bu Maria bertemu di salah satu restauran yang dulunya sering dikunjungi oleh mereka bersama bu Tania. Akan tetapi kali ini bukan karena kehendak mereka, melainkan Ara dan Leo lah yang minta mereka untuk hadir.


"Ini anak-anak pada kemana ya...?" Tanya bu Maria.


"Aku juga tidak tahu Mar, mereka yang suruh kita datang, tapi mereka malah belum muncul," kata bu Amara.


"Iya, heran deh kenapa mereka suruh kita kesini, aku jadi teringat lagi sama Tania Ra," kata bu Maria.


"Hm.... Aku juga," kata bu Amara pula, mereka berdua tampak sedih mengingat masa lalu itu, di saat persahabatan mereka masih terjalin harmonis dan selalu bersama.


"Jangan sedih-sedih gitu dong," Kata seseorang yang suaranya tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Bu Amara dan bu Maria terkejut, mereka ingat betul siapa pemilik suara tersebut dan langsung saja melihat ke arah sumber suara.


"Tania," ucap mereka bersamaan dan langsung saja beranjak dari tempat duduk, lalu menghampiri dan memeluk bu Tania. Mereka bertiga tampak terharu dan sangat bahagia.


"Rencana kamu memang luar biasa Sayang, berhasil," kata Leo.


"Iya dong, Ara," ucap Ara dengan bangganya. Saat ini Ara dan Leo sedang melihat orang tua mereka dari kejauhan.


"Yuk," jawab Ara menyetujui.


"Tan, kok kamu bisa ada di sini...?" tanya bu Amara.


"Iya, kita benar-benar terkejut loh kamu tiba-tiba datang dan mau terima pelukan kita kayak tadi," sambung bu Maria.


"Mar, Ra, maafin aku ya karena selama ini sudah salah paham sama kalian, aku membenci kalian padahal kalian membela dan mendukung aku," kata bu Tania.


"Dari mana kamu tahu soal itu Tan...?" Tanya bu Maria.


"Dua hari yang lalu, anak kalian Ara dan Leo menemui aku, terus menceritakan soal ini sama aku. Awalnya aku tidak bisa percaya begitu saja, tapi apa kalian tahu, semalam mereka membawa Aldo di depan aku, dia mengiyakan apa yang anak kalian jelaskan ke aku," jelas bu Tania.


"Oh ya, kok bisa Ara dan Leo bertemu sama Aldo..?" bu Amara tampak kebingungan.


"Aku ingat, waktu itu Ara pernah tanya soal kita dan tanya juga dimana Aldo sekarang, aku hanya kasih tahu alamat lamanya sih. Aku tidak menyangka sama sekali jika Ara dan Leo bisa menemukan Aldo," kata bu Maria.

__ADS_1


"Dan Leo pernah tanya sama aku soal tempat-tempat favorit kita bertiga dulu, ya salah satunya restauran ini, ternyata ini tujuannya," sambung bu Amara.


"Sudahlah itu juga tidak penting, yang penting itu sekarang, kita sudah baikan berkat anak kalian," kata Tania.


"Iya Tan. Terima kasih ya kamu sekarang sudah mau maafin kita," ucap bu Amara.


"Iya Tan, kita tahu kok sudah salah tidak memberitahu kamu dulu, hingga menyebabkan kesalahpahaman di antara kita," ucap bu Maria pula.


"Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak percaya sama kalian," ucap bu Tania.


"Jadi berasa lebaran ya maaf-maafan, ya sudah sekarang kita pesan makan yuk," ajak bu Maria.


...


"Gimana perasaan kamu sekarang? Seneng..?" Tanya Leo saat mereka dalam perjalanan di dalam mobil.


"Seneng dong, makasih ya Sayang," ucap Ara.


"Makasih buat apa?" Tanya Leo.


"Ini semua berkat kamu juga, aku bahagia banget liat mami tadi bisa tersenyum dan tertawa lepas bareng sahabat-sahabatnya," jawab Ara.


"Sayang, kamu lupa ya? Sahabat mami kamu itu, ya mami aku juga," kata Leo.


"Oh iya, aku lupa kalau Tante Amara itu mami kamu," kata Ara tersenyum meledek.


"Sayang, kamu ini," rengek Leo.


"Aku bercanda, jangan ngambek dong Sayang," kata Ara.


"Pujuk dong," pinta Leo.


Cup.... Satu kecupan mendarat di pipi Leo. Leo tersenyum mendapat sentuhan itu dari sang pujaan hati.


"Lagi dong Sayang, di sini," pinta Leo sembari menunjuk bibirnya.


"Apaan sih kamu, fokus nyetirnya," kata Ara.

__ADS_1


"Nanti ya kalau udah gak nyetir lagi," kata Leo dan hanya di jawab senyuman oleh Ara.


...****************...


__ADS_2