Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_256


__ADS_3

Ara semakin mendekati Amira dan menatap wajahnya.


"Kamu kenapa Mir? Kenapa bisa ada luka memar di muka kamu …?" Tanya Ara yang terlihat sangat khawatir sambil memegangi wajah Amira itu.


Amira langsung menundukkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya dari wajah Ara.


"Aku gak apa-apa kok Mbak," jawab Amira.


"Mir, liat aku. Apa kamu yakin kalau kamu gak papa? Jangan menyimpan masalah sendirian Mir. Cerita sama aku," pinta Ara.


Bukannya menatap Ara, akan tetapi Amira semakin menundukkan kepalanya dan tanpa sadar air matanya lolos begitu saja.


Ara tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Amira saat ini, akan tetapi ia merasa kasihan dan khawatir melihat luka di wajahnya itu serta melihat Amira yang kini menangis. Pasti Amira sedang mengalami hal yang sangat berat dalam hidupnya, begitulah isi dalam hati Ara saat ini. Segera saja Ara meraih tubuh Amira kedalam dekapannya agar Amira bisa merasa lebih tenang.


...


Ara terlihat sedang memikirkan tentang apa yang terjadi pada Amira, ya memang tadi saat di kantor, Amira menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya kepada Ara. Padahal saat ini Ara sedang bersama Leo di sebuah restauran untuk makan malam bersama, tetapi pikiran Ara sedang tidak berada di tempatnya dan sejenak melupakan pria tampan yang ada di depannya itu.


"Sayang, makanannya kenapa diacak-acak gitu? Kamu lagi mikirin apa?" Tanya Leo.


"Hm ... aku cuma lagi kepikiran sama Amira aja Sayang," jawab Ara.


"Memangnya ada apa dengan Amira?" Tanya Leo.


"Tadi waktu di kantor, Amira itu banyak diam gak kayak biasanya. Setelah aku dekatin, aku kaget liat ada luka memar di mukanya sama luka di sudut bibirnya. Awalnya aku tanya dia gak mau jawab malah nangis, tapi di saat hatinya tenang barulah dia mulai cerita sama aku," jawab Ara.


"Terus itu kenapa katanya?" Tanya Leo yang penasaran mendengar cerita dari Ara.


"Katanya itu semua ulah ayahnya yang suka main judi, jarang pulang sekalinya pulang minta uang dan kalau gak dikasih langsung main tangan sama ibunya maupun sama Amira.


"Kamu yakin cerita Amira itu benar? Maksud aku gak mengada-ngada karena mencari simpati dari kamu gitu," ujar Leo.


"Sayang, kamu kok ngomongnya kayak gitu sih. Aku yakin Amira gak mungkin bohong, aku percaya kok kalau dia selalu jujur sama aku," kata Ara.


"Ya udah kalau kamu memang yakin, aku cuma gak mau kebaikan kamu itu dimanfaatkan oleh orang lain, apalagi kamu belum lama kenal Amira itu," kata Leo.

__ADS_1


"Aku ngerti kok sama kekhawatiran kamu, tapi kamu tenang aja Sayang, aku yakin kok kalau Amira bukan orang seperti itu," kata Ara.


"Iya Sayang, aku juga berharapnya seperti itu. Tapi kok ada ya orang tua seperti ayahnya Amira itu, pasti ada penyebabnya," ujar Leo.


"Tentu aja karena ada penyebabnya," sahut Ara.


"Apa?" Tanya Leo.


"Karena pengkhianatan dari orang kepercayaannya," jawab Ara lalu menceritakannya kepada Leo sedetail-detailnya dan didengar seksama oleh tunangannya itu.


"Oh … gitu, tapi tetap aja itu gak bisa jadi alasan buat dia jadi menyiksa keluarganya, kasian Amira dan Ibunya kalau kayak gitu," kata Leo.


"Iya kasian banget, aku pengen banget bantuin Amira, tapi aku gak tau harus berbuat apa sekarang," kata Ara yang tampak sangat sedih.


"Sayang, kamu jangan sedih ya, yang penting sekarang ini kita doakan aja semoga Amira dan ibunya baik-baik aja ya. Terlalu ikut mencampuri urusan orang lain juga gak baik, belum tentu kan orang itu suka, entar yang ada bikin beban pikiran kamu aja. Dengan kamu mensuport dia aja itu udah ngebantu banget namanya," kata Leo.


"Iya Sayang," jawab Ara dan menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, sekarang dimakan itu makannya, sayang cuma kamu acak-acak aja dari tadi," ucap Leo dan ditanggapi dengan senyuman oleh Ara lalu perlahan menyantap makanannya.


...


New York Amerika Serikat...


Saat ini Nadia sedang berada di dalam ruang ICU dalam kondisi kritis, bahkan Dokter mengatakan jika Nadia sudah tidak bisa lagi menerima donor ginjal dan meminta keluarga atau kerabat untuk menerima kondisi terburuk yang kemungkinan akan terjadi pada Nadia dalam waktu dekat ini.


"Tante, Dokter itu bukan Tuhan. Bukan dia yang menentukan hidup dan mati seseorang, Rio yakin kalau Nadia akan sembuh," ucap Rio dengan air mata berlinang. Ia sangat syok mendengar pernyataan dari Dokter.


"Rio, Tante sama sedihnya dengan kamu, bahkan lebih karena Nadia itu anak Tante, tapi kita harus belajar ikhlas Rio. Memangnya kamu tega liat Nadia dalam kondisi seperti itu terus? Gak kan? Belajar ikhlas ya Nak, kasian Nadia," ucap bu Jasmine yang mencoba untuk tetap tegar.


"Tapi Tante, kita gak bisa nyerah gitu aja lah," sergah Rio.


"Terus apa yang bisa kita lakukan sekarang kalau Dokter aja udah menyerah. Hidup Nadia aja sekarang tergantung sama peralatan medis Rio," kata bu Jasmine.


Rio merasa sangat tepuruk saat ini, karena tidak mau mendengar ucapan dari mulut bu Jasmine yang menurutnya sangat keterlaluan, Rio memutuskan untuk pergi meninggalkan bu Jasmine.

__ADS_1


"Kamu mau kemana Rio?" Tanya bu Jasmine.


"Rio mau nenangin diri dulu Tante, Rio titip Nadia ya," ucap Rio dan dijawab anggukan oleh bu Jasmine.


Rio pun segera pergi melangkahkan kaki ke atas balkon rumah sakit untuk menenangkan hatinya.


"Ara, mendingan aku telpon Ara sekarang untuk memberitahu tentang kondisi Nadia. Di Indonesia sekarang udah jam 11 malam, mudah-mudahan Ara belum tidur," gumam Rio lalu merogoh ponselnya di kantong celana.


Tut ... tut ... tut ... Rio beberapa kali mencoba menghubungi Ara lewat telepon wathshap tetapi tidak ada jawabannya.


"Pasti Ara udah tidur," gumam Rio.


Saat Rio hendak menyimpan ponselnya kembali kedalam saku, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Ara. Segera saja Rio menjawab telepon tersebut.


"Halo, ini siapa ya?" Tanya Ara, karena Rio menggunakan nomor baru.


"Halo Ara, ini aku Rio," jawab Rio.


"Rio, kamu ganti nomor baru? Kamu kemana aja sih, pantes aja gak bisa dihubungin," ucap Ara.


"Iya Ra, maafin aku ya," ucap Rio.


"Iya gak papa, terus kamu ada apa telepon aku malam-malam gini?" Tanya Ara.


Seketika tangis Rio yang sedari tadi di tahan pun pecah.


"Rio, kenapa kamu malah nangis?" Tanya Ara.


"Ra, Nadia Ra," ucap Rio terisak.


"Nadia, kenapa dengan Nadia?" Tanya Ara.


"Nadia kritis Ra," ucap Rio lirih.


"Maksud kamu gimana? Yang jelas dong Rio ngomongnya," kata Ara yang mulai panik.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2