Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_237


__ADS_3

Leo bergidik melihat tatapan mata wanita di depannya itu semakin tajam seolah ingin menerkamnya.


"Sayang, ada apa ...? Aku minta maaf kalau kamu terlalu lama nunggu aku pulang, aku gak macam-macam kok, aku tadi gak sengaja ketemu temen yang butuh pertolongan, jadi aku tolongin dulu," ucapnya.


"Oh... jadi sekarang kamu udah anggap Karina itu temen kamu?" tanya Ara yang mulai membuka suaranya.


"Hah?" Leo tertegun menatap wanitanya, "Dari mana dia tau kalau yang aku maksud itu Karina?" Gumamnya dalam hati.


"Kenapa? Kamu terkejut karena aku tau kamu abis nolongin Karina?" Tanya Ara dengan mode serius.


Lagi-lagi Leo di buat tercengang karena Ara bisa membaca pikirannya saat ini.


"Liat, ini apa?" Tanya Ara sambil menunjukkan foto-foto yang baru di terimanya dari nomor yang tidak dikenal.


Terlihat jelas dalam foto tersebut saat Karina sedang mengusap keringat Leo dan Leo menatapnya, ditambah lagi dimana saat Karina memberikan minuman untuk Karina, Leo menerimanya dengan ekspresi yang sangat senang, membuat foto itu terlihat sangat mesra dari satu sisi. Benar-benar orang yang handal yang telah mengambil foto tersebut.


"Sayang, ini gak seperti yang kamu bayangin," kata Leo.


"Memangnya kamu tau apa yang aku bayangin?" Tanya Ara dengan ketus.


"Ya di foto itu, bila di lihat dari satu sisi aku dan Karina terlihat mesra. Sebenarnya gak kayak gitu kok, aku cuma nolongin dia terus dia kasih aku minuman," jelas Leo.


"Harus pakai ngelapin keringat kayak gitu?" Tanya Ara.


"Ya mana aku tau dia mau lap keringat aku, bukan aku yang minta," jawab Leo.


"Tapi kayaknya kamu menikmatinya sampai natap Karina kayak gitu," hardik Ara.


"Enggak, aku cuma terkejut aja sama perlakuan dia," bantah Leo.


"Tapi yang aku liat gak kayak gitu," protes Ara.

__ADS_1


"Yang kamu liat itu hanya dari satu sisi aja, jadi kamu lebih percaya sama foto itu yang gak jelas siapa pengirimnya dari pada aku ...? Bisa aja kan tuh orang memang sengaja mencari kesalahan aku biar bisa mengadu domba kita. Kamu kan tau jelas ada beberapa orang yang gak suka sama hubungan kita karena iri, ya maklum aja aku kan pria tampa," kata Leo yang membuat Ara menampakkan wajah masamnya.


Ara yang tadinya merasa tersentuh dengan perkataan Leo, kini berubah ingin menerkamnya. Mana mungkin bisa di saat keadaan sedang tegang seperti ini, Leo malah mengajaknya untuk bercanda.


"Kamu itu ya benar-benar gak bisa di ajak ngomong serius," ucap Ara.


"Maaf deh Sayang, aku cuma mau mencairkan suasana aja. Tapi memang benar kan, aku tampan dan kamu cantik, di mata orang lain kita itu pasangan yang sempurna. Gak tau udah berapa banyak orang di luar sana yang iri sama hubungan kita, untung lah aku yang beruntung udah dapetin kamu," ucap Leo.


"Ke PD-an banget sih kamu," kata Ara mengulas senyuman tipisnya.


"Biarin, yang penting aku udah buat kamu senyum kan? Sayang, jangan marah lagi ya," pinta Leo.


"Loh ada Ara ya? Leo kok Ara-nya gak di ajak masuk sih malah ngobrol di luar," kata bu Amara yang tiba-tiba saja keluar karena mendengar suara orang yang sedang mengobrol.


"Hai Tante, sapa Ara lalu menyalami tangan bu Amara.


"Hai Ara," balas bu Amara.


"Mami gak tau kalau Ara datang ...?" Tanya Leo.


"Ehm belum lama kok Tante, selang lima menit aja sama Leo Tan," jawab Ara.


"Oh gitu, ya udah yuk masuk Ra," ajak bu Amara.


"Yuk Sayang," ajak Leo pula.


"Iya Tante, Leo, jawab Ara lalu masuk ke dalam rumah Leo dan duduk di ruang tamu.


"Sayang, kamu ngobrol-ngobrol aja ya dulu sama Mami, aku mau taruh ini bentar (menunjuk tas laptop) di kamar," kata Leo dan dibalas anggukan oleh Ara.


...

__ADS_1


"Sher, kamu kenapa sih? Kenapa sekarang kamu selalu menghindar dari aku?" Tanya Tama, pria yang telah meninggalkan Sherin selama dua tahun.


"Kenapa kamu tanya ...? Selama ini kamu kemana aja Tam, dua tahun kamu ninggalin aku gitu aja," kata Sherin.


"Soal itu aku benar-benar minta maaf sama kamu. Kamu kan tahu sendiri kalau waktu itu orang tua aku gak merestui hubungan kita, kalau aku gak mengikuti keinginan mereka untuk belajar bisnis di luar Negeri, semua fasilitas aku dicabut. Gimana aku mau hidup sama kamu nantinya, makanya aku menuruti keinginan mereka," jelas Tama.


"Oh ya, memang ada kamu jelasin ke aku waktu itu? Gak ada kan? Aku udah bilang lebih baik kita akhiri aja hubungan kita karena percuma tanpa restu orang tua kamu, tapi kamu yang yakinin aku agar kita tetap berjuang sama-sama, kamu bilang tanpa harta orang tua kamu bisa berjuang asal aku ada di samping kamu dan mendukung kamu. Tapi nyatanya apa? Syit ...! Semuanya hanya dusta, bodohnya aku percaya gitu aja sama kamu," ucap Sherin dengan penuh emosi.


"Aku minta maaf Sherin. Setelah aku pikir-pikir lagi, gak ada salahnya kalau aku menuruti apa mau mereka dulu, toh ini buat masa depan kita. Aku jadi bisa kasih kehidupan yang layak buat kamu," kata Tama.


"Stop Tama! Aku gak butuh itu semua. Aku udah terlanjur benci sama kamu," ucap Sherin.


"Sher, tolong maafin aku. Kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku kembali buat kamu," ucap Tama.


"Tapi aku sama sekali gak mengharapkan kamu kembali lagi buat aku. Itu sama aja aku menggali luka lama yang telah aku kubur dalam-dalam, kamu udah buat aku trauma akan cinta Tam, kamu buat aku takut untuk memulai karena takut akan kehilangan," kata Sherin.


"Apa itu artinya kamu memang nungguin aku...? Masih cinta sama aku?" Tanya Tama.


"Sama sekali enggak Tama, aku sama sekali gak berharap kamu kembali, jangan menampakkan wajah kamu di depan aku lagi," jawab Sherin dengan tatapan yang tajam, tubuhnya juga bergetar menahan amarah.


"Tapi kenapa Sher?" Tanya Tama.


"Karena udah punya pasangan yang jauh lebih baik dari kamu," jawab Sherin.


Deg, jantung Tama terasa sakit seperti tertancap ratusan bahkan ribuan anak panah yang tidak bisa dijelaskan bagaimana rasa sakitnya.


"Siapa ...? Aku tidak terima ada yang memiliki kamu selain aku," ucap Tama. Ia mengepalkan tangannya erat lalu mendekati wajah Sherin dengan tatapan tajam yang membuat Sherin takut.


"Kamu mau ngapain ...?" Tanya Sherin.


Tanpa menjawab, Tama langsung menarik tengkuk Sherin dan mencium bibirnya dengan kasar.

__ADS_1


Sherin memberontak dengan memukul tubuh Tama tapi tidak digubris, hingga ada seseorang yang menarik tubuh Tama dan langsung menghajarnya.


...****************...


__ADS_2