
Amira tampak sangat antusias mendekati sang dokter untuk segera mengetahui bagaimana hasil operasi yang baru saja dilakukan terhadap ibunya.
"Bagaimana kondisi Ibu saya Dok?" Tanya Amira.
"Begini Mbak, operasinya berjalan lancar. Akan tetapi kondisinya saat ini sangat lemah, beliau koma. Kita berdoa saja ya semoga ada keajaiban sehingga Ibu kamu akan segera sadar dan sembuh seperti sedia kala," kata dokter.
Amira meringkuk dan menangis sejadi-jadinya, ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini, harus senang ataupun sedih. Ia senang karena operasinya berjalan lancar, akan tetapi ia juga sedih karena kondisi ibunya saat ini sangat lemah. Begitu juga dengan Bu Maria, ia merasakan begitu sedih dan menangis histeris berada di pelukan Ara.
Seno mencoba menenangkan Amira dan meraih tubuh wanita itu kedalam dekapannya agar Amira merasa lebih tenang.
"Mir, yang sabar ya," ucap Seno seraya mengusap pundak Amira dengan lembut.
"Dok, apa sekarang kami boleh melihat keadaannya Laras?" Tanya Bu Maria.
"Ya Bu, Bu Laras akan segera kami pindahkan ke ruang ICU. Kalian semua boleh melihatnya, tapi secara bergantian ya dan tetap menggunakan APBD lengkap," kata dokter.
"Baik Dok," terima kasih banyak," jawab Bu Maria.
Setelah bu Laras dipindahkan ke ruangan ICU, mereka pun secara bergantian melihat kondisinya. Amira lah yang terlebih dahulu masuk, setelah itu kini giliran Bu Maria yang masuk ke dalam ruangan ICU tersebut.
__ADS_1
Bu Maria duduk di samping brankar Bu Laras, ia memandangi wajah polos sahabatnya yang saat ini sedang terbaring lemah tak berdaya dan dibantu dengan peralatan medis. Ia menggenggam erat tangan sahabatnya itu dengan air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti.
"Laras, aku Maria. Apa kamu masih ingat sama aku? Aku senang bisa ketemu lagi sama kamu, tapi kenapa kita bertemu dalam keadaan seperti ini? Dalam kondisi yang tidak kita inginkan. Saat ini aku bisa melihat wajah kamu sedangkan kamu sama sekali nggak bisa liat wajah aku. Laras, kamu harus kuat ya. Kamu harus berjuang untuk kesembuhan kamu. Ingat ada Amira yang sangat mencintai kamu, dia sangat terpukul saat ini dan sangat berharap kamu bangun. Kamu harus segera bangun, di sini ada aku juga yang selalu mendoakan untuk kesembuhan kamu, aku mau kamu bangun. Setelah sekian lama kita nggak ketemu, banyak banget yang mau aku ceritain sama kamu Ras, banyak banget yang mau aku kasih tau ke kamu. Kamu tau nggak, di saat Mama aku meninggal, dia menyebut nama kamu karena kamu nggak ada di sampingnya saat itu," ucap Bu Maria seraya menciumi tangan bu Laras yang telah basah karena kejatuhan air matanya. Hatinya begitu pedih seperti teriris pisau yang sangat tajam.
Amira, Ara, Leo dan Seno yang saat itu melihatnya dari balik kaca ruangan ICU pun ikut merasa sangat sedih, Ara bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Amira dan juga Maminya saat ini. Ara sendiri tidak dapat menyembunyikan rasa sedihannya, meskipun Ia belum lama kenal dengan Bu Laras, tetapi ia juga sudah merasa cukup dekat dengannya, merasakan kebaikan dan juga kasih sayang dari ibunya Amira itu.
...
"Pi tolong lah keluarin aku dari sini, pinta Tama saat pak Tedy mengunjunginya ke sel tahanan.
"Kamu pikir Papi bisa berbuat apa saat ini, kamu tahu kan tuntutan Ara dan Leo itu sangat kuat dan tidak main-main. Mereka sendiri tidak mau mencabut tuntutannya, apa yang bisa Papi perbuat untuk kamu Tama," kata pak Tedy.
"Jadi maksud Papi, Papi akan ngebiarin aku tetap berada di sini gitu," kata Tama dengan tatapan matanya yang tajam.
Seketika ekspresi wajah Tama pun berubah, sorotan matanya sendu dan membuat pak Tedy menjadi iba.
"Maaf Pi, tapi tolong Pi selamatkan aku, keluarkan aku dari sini. Aku nggak mau terus-terusan berada di sel tahanan ini, ini sama sekali nggak lucu buat aku," pinta Tama.
"Dasar bodoh, kamu pikir Papi senang melihat anak Papi berada di tahanan ini. Sama sekali tidak Tama. Papi juga sedang berusaha agar kamu bisa segera bebas, Papi juga mau kamu segera keluar dari sini. Tapi mereka itu sangat kuat, terutama Ara, kamu tahu kan siapa Pak Jackson itu, beliau memiliki kekuasaan yang tidak bisa di bantah oleh siapa pun," kata Pak Tedy.
__ADS_1
"Iya Pi aku tahu, tapi masa sih Papi kalah gitu aja dengan Pak Jackson itu. Papi kerahkan dong pengacara Papi yang paling hebat, paling handal untuk bebasin aku," kata Tama.
Untuk sementara waktu, kamu bertahan saja dulu di sini, tapi Papi janji sama kamu Papi pasti akan kembali lagi dan mencari cara supaya kamu bebas dari sini," kata Pak Tedy.
"Aku tunggu ya Pi, aku benar-benar udah nggak betah lagi berada di sini, aku mau segera bebas Pi. Aku mau hancurin orang-orang yang udah bikin aku berada di sini, yang udah bikin aku menderita," kata Tama dengan sorotan matanya yang tajam dan penuh kebencian.
"Sudahlah Tama, apalagi yang mau kamu lakukan setelah ini? Kamu ingat, kamu bisa masuk penjara bukan gara-gara mereka, tapi gara-gara kelakuan kamu sendiri terhadap mereka. Lalu apalagi yang mau kamu lakukan? Memangnya kamu mau kembali masuk penjara jika ketahuan berbuat hal yang merugikan mereka," Kata Pak Tedy yang tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya itu.
Memang Pak Tedy itu tidak terlalu menyukai Pak Jackson orang tua dari Ara, akan tetapi Pak Jackson juga lah yang selama ini telah memberikan saham terbesar di perusahaannya. Ya menjilat dalam dunia bisnis itu sangatlah biasa seperti yang dilakukan oleh Pak Tedy orang tua dari Tama itu.
"Jadi menurut Papi aku lebih baik diam aja gitu setelah apa yang telah mereka lakukan ke aku," kata Tama.
"Papi juga nggak suruh kamu pasrah gitu aja Tama, tapi lebih baik kamu diam, biar kali ini Papi yang akan membalaskan dendam untuk kamu. Karena Papi sendiri sangat sakit hati terhadap Pak Jackson, dia sama sekali tidak mau mengabulkan keinginan Papi untuk melepaskan kamu demi anaknya, jadi Papi pastikan kalau Papi akan balas dendam juga demi anak Papi yaitu kamu," kata Pak Tedy.
"Terimakasih Papi, aku nggak nyangka kalau sesayang itu Papi sama aku bahkan Papi mau membalas dendam buat aku," ucap Tama lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan memeluk sang ayah.
"Ya sudah, sekarang kamu tenang saja ya di sini. Kamu bersabar sedikit lagi. Papi mau pulang dulu karena masih ada urusan yang Papi harus lakukan," kata Pak Tedy.
"Baik Pi," jawab Tama diiringi anggukan kepalanya.
__ADS_1
Lalu Pak Tedy pun segera pergi dari sel tahanan.
...****************...