Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_249


__ADS_3

Setelah mendapat kabar itu, perasaan Rio bertambah semakin tidak karuan, ia berniat akan meminta cuti dari kantornya untuk pergi k Amerika mengunjungi Nadia.


"Sayang, kamu harus kuat ya, aku bakalan datang secepatnya buat temenin kamu," gumam Rio sembari menatap sendu foto Nadia yang ada di ponselnya.


...


Pagi hari seperti biasa Sarah akan selalu disibukkan dengan aktivitas paginya dengan menyiapkan sarapan untuk keluarga tercintanya itu. Bryan si suami masih asyik bergumul di balik selimut sekaligus menemani putri tersayangnya. Ya jika tidur malam, memang Kayla tidur bersama orang tuanya. Sedangkan bu Sinta yang sudah bangun dari subuh memilih untuk olahraga pagi di halaman depan atau menyirami tanaman.


Saat sedang mengoseng-oseng nasi goreng, tiba-tiba saja Sarah merasakan mual dan kepalanya sakit, lama-kelamaan pandangannya buram dan tumbang begitu saja di lantai. Untungnya saat itu bu Sinta sedang masuk ke dalam untuk mengambil minuman karena kehausan setelah berolahraga.


"Sarah ...!" Teriak bu Sinta. Ia sangat syok melihat menantunya itu tergeletak di lantai, terlebih lagi dalam kondisi kompor yang masih menyala, segera saja bu Sinta mematikan kompor dan menghampiri Sarah.


"Sarah ... Sarah, bangun Sayang, apa yang terjadi sama kamu?" Panggil bu Sinta sembari mengguncang pelan tubuh Sarah. "Bryan ... Bryan ...," bu Sinta berteriak memanggil anaknya hingga Bryan pun menghampiri ibunya itu.


"Ibu, ada apa?" Tanya Bryan. "Sarah, ini Sarah kenapa Bu ...?"


"Ibu juga tidak tahu, saat masuk ke dalam rumah, Ibu liat Sarah sudah tergeletak seperti ini," jawab bu Sinta yang tidak kalah paniknya dengan Bryan.


"Sayang, kamu kenapa? bangun dong Sayang," ucap Bryan.


"Bry, kamu bawa aja ya Sarah ke rumah sakit, biar Ibu yang jaga Kayla," ucap bu Sinta.


"Iya Bu," jawab Bryan.


Ia pun segera membawa Sarah ke rumah sakit dengan setelan piyama yang masih melekat pada tubuhnya, begitu juga dengan Sarah. Bryan sama sekali tidak peduli dengan tampilannya yang acak-acakan karena baru bangun tidur, yang terpenting baginya saat ini adalah Istrinya segera mendapatkan pertolongan medis.


...


Seminggu telah berlalu, membuat Ara semakin sibuk dengan aktivitas di kantornya, ia juga harus mewawancarai para calon pegawai yang akan bergabung dengan perusahaannya, itu semua sangatlah memakan waktu dan melelahkan bagi Ara, untungnya dia mendapatkan HRD yang berpengalaman sehingga sangat membantunya dalam memilih pegawai.


"Bu, ini benar seperti ini kan?" Tanya Amira sembari menunjukkan kerjaannya pada layar laptop.


Ara melihat sejenak apa yang sudah di kerjakan oleh sekretarisnya itu.


"Iya benar, bagus sekali Mir. Saya gak nyangka cepat sekali kamu menangkap apa yang udah saya ajarkan, saya bangga sekali sama kamu," puji Ara.

__ADS_1


"Bu, jangan terlalu memuji saya dong, saya baru aja seminggu kerja sama Ibu, masih banyak belajar Bu. Ilmu saya waktu magang juga masih nyangkut dikit-dikit Bu," kata Amira.


"Justru itu lah yang membuat saya makin bangga sama kamu Mir, meskipun baru satu Minggu kamu bekerja sama saya, tapi kamu benar-benar sangat membantu saya," kata Ara.


"Terimakasih ya Bu atas pujiannya, saya janji akan terus berusaha keras untuk membantu Ibu memajukan perusahaan ini," ucap Amira.


"Iya Mir sama-sama, terimakasih juga ya," ucap Ara pula.


"Iya Bu, lalu Ara dan Amira pun melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Tok ... tok ... tok ... seseorang mengetuk pintu ruangan Ara.


"Silahkan masuk!" Ucap Ara.


Krek ... pintu terbuka, seorang pria tampan masuk dengan membawa sebuah tentengan.


Amira merasa terpesona melihat ketampanan Seno, akan tetapi ia hanya dapat menatapnya sekilas lalu kembali fokus dengan laptop-nya.


"Selamat siang Bu Ara," ucap Seno.


"Seno, kamu ada apa ke sini?" Tanya Ara yang sedikit syok melihat kedatangan Seno itu.


"Ya udah silahkan duduk!" Ucap Ara.


"Makasih Kak Ara, kebetulan aku lewat sini tadi jadi pengen mampir aja sekalian bawa makan siang, karena aku tau Kakak pasti belum makan," kata Seno.


"Hm ... memang iya sih, tapi ngomong-ngomong kamu bawa makanannya berapa bungkus? Karena kalau saya makan siang, maka Amira harus makan siang juga. Kamu tau sendiri kan, perusahaan saya belum sepenuhnya beroperasi, di kantin juga belum ada yang jual makanan berat," kata Ara.


"Amira?" Tanya Seno.


"Iya, ini Amira namanya sekretaris saya," ucap Ara.


Amira memandang ke arah Seno dengan senyum yang mengambang.


"Ya ampun cantik banget, karena terlalu fokus sama Kak Ara, aku sampai gak liat ada wanita cantik di sini," gumam Seno dalam hati. Lalu ia pun berjalan mendekati Amira dan menampilkan gaya sok cool-nya itu.

__ADS_1


"Kenalin aku Seno," ucap Seno memperkenalkan diri sembari menjulurkan tangannya.


"Aku Amira," balas Amira dan juga menjulurkan tangan.


Mereka berdua tersenyum dan saling berpandangan, Ara yang melihat akan hal itupun ikut tersenyum dan terpikir akan sesuatu.


"Udah kali pandang-pandangannya," tegur Ara.


Amira dan Seno tersadar, mereka segera mengalihkan pandangan dan menjadi salah tingkah.


"Maaf Bu Ara, saya akan kerja lagi," ucap Amira.


"Mir, udah dong. Ini kan udah waktunya makan siang. Kamu makan aja dulu bareng Seno," kata Ara.


"Jangan Bu, itu kan makan siang Ibu sama Pak Seno, biar saya pesan online aja Bu kayak biasa," tolak Amira karena merasa tidak enak.


"Eh gak papa kok, aku mendadak jadi kenyang. Makan siangnya buat Kak Ara dan Amira aja," kata Seno.


"Gak usah Sen, Mir, itu buat kalian aja ya. Kalau saya gampang lah," kata Ara.


"Benar kata Ara, sebaiknya makanan itu buat kalian aja," kata seorang pria yang masuk ke dalam ruangan tersebut.


Ara, Seno dan Amira pun spontan menatap ke arah pria tersebut.


"Sayang," ucap Ara.


"Kak Leo, ngapain sih ikut-ikutan ke sini, udah bagus-bagus aku sendiri yang di sini bareng dua wanita cantik," gerutu Leo.


"Eh bocil, saya dengar ya kamu ngomong apa. Kamu itu yang seharusnya gak ada di sini, kalau saya udah jelas mau liat calon istri saya," kata Leo dengan tegasnya.


"Saya, saya, saya mau ketemu Amira," ucap Seno mencari alasan.


Meskipun Leo tau bahwa Seno hanya beralasan, tetapi Leo pura-pura percaya saja dan malah memanfaatkan keadaan ini.


"Oh ... kalau gitu bagus dong, sekarang kamu makan makanan yang kamu bawa tadi, saya sama Ara makan makanan yang saya bawa ini," kata Leo sembari menunjukkan tentengan yang ia bawa.

__ADS_1


"Wah ... bagus dong, kalau gitu kita makan sama-sama aja ya," ucap Ara dan mereka semua menyetujuinya.


...****************...


__ADS_2