
Seperti yang direncanakannya, Leo benar-benar mandi secepat kilat seperti bebek karena tidak mau lama-lama meninggalkan istrinya itu sendirian. Akan tetapi saat Leo telah selesai dan keluar dari kamar mandi, ia melihat sang istri saat itu sudah tertidur. Entah sudah nyenyak atau belum, yang jelas Leo tidak mau mengganggunya. Akhirnya Leo pun keluar secara perlahan sebisa mungkin agar tidak membuat keributan dan tidak mengganggu istrinya itu. Selesai memakai pakaian pun Leo lebih memilih duduk di sofa sembari memandangi sang istri, takut jika ia terbangun dan memerlukannya. Menurut Leo, jika saat ini ia menghampiri sang istri di tempat tidur, sudah pasti Ara akan terusik dan bisa saja terbangun.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, hingga setengah jam berlalu Leo telah duduk di sofa sembari menatap istrinya. Perasaan kantuk yang menghampirinya saat ini tidak dapat dibendungnya lagi, hingga tanpa sadar pun ia terlelap di sofa tersebut. Dan tiba-tiba saja …
"Huek … huek … ,"
Suara itu terdengar hingga membangunkan Leo dari Mimpi indahnya yang baru saja ia lewati selama lima menit, sontak ia langsung terbangun dan menghampiri istrinya yang saat itu sedang mengeluarkan seluruh isi perutnya seperti biasa, bahkan kali ini Ara tidak sanggup lagi untuk berkata-kata, karena rasanya begitu perih, dadanya terasa lebih sesak dari yang biasa ia rasakan.
"Sayang kita ke rumah sakit aja ya sekarang, aku khawatir banget liat kondisi kamu seperti ini," ajak Leo yang sangat panik melihat Ara yang terlihat sangat lemah tak berdaya.
Ara hanya dapat menggelengkan kepalanya, lalu ia mencoba mengatur nafasnya dengan berbaring kembali.
"Sayang, mau sampai kapan kamu kayak gini terus? Paling nggak dokter kan tau apa yang harus dilakukan jika kamu seperti ini," ujar Leo, ia tidak tahu harus berbuat apa selain mengajaknya ke dokter.
Akan tetapi Ara selalu saja menolaknya, karena menurutnya apa yang terjadi kepadanya saat ini adalah hal biasa seperti yang ibu mertuanya selalu katakan. Tidak akan ada yang bisa mengobati fase ibu hamil yang seperti ini.
Tok … tok … tok …
__ADS_1
Terdengar suara ketukan pintu. Bu Amara membuka pintu dan langsung masuk ke dalam.
"Ara kamu muntah lagi Sayang?" Tanya bu Amara.
"Iya Mi Ara barusan muntah, padahal waktu Leo pulang kerja tadi, kira-kira setengah jam yang lalu Ara juga baru muntah," jawab Leo yang menggantikan Ara untuk menjawabnya. Karena saat ini Ara benar-benar tak sanggup untuk mengucapkan satu kata pun.
Bu Amara tersenyum lalu mendekati anak dan menantunya itu.
"Mami kenapa senyum-senyum kayak gitu sih? Leo ini lagi panik Mi liat keadaan istri Leo seperti ini. Kita bawa Ara ke rumah sakit ya sekarang," kata Leo.
"Kalau kondisi Ara seperti ini terus, makan nggak mau, terus muntah, gimana kondisi anak kami mau baik-baik aja Mi di dalam perut," hardik Leo.
"Sayang, kamu kok bicara seperti itu sih. Kamu tau bayi dalam perut Ara sangat kuat, asalkan ibunya juga kuat. Sekarang ini anggap aja anak kalian lagi manja, ingin diberi perhatian lebih dari ibu dan ayahnya. Dalam kondisi istri kamu yang seperti ini, kamu harusnya memberikan perhatian yang ekstra buat istri kamu, bukannya protes mulu," kata Bu Amara memberi pengertian kepada anaknya.
"Bukan protes Mi, maklum aja ini aja ini kan pengalaman pertama, wajar dong Leo takut. Mami tenang aja, Ara nggak lagi seperti ini aja Leo udah kasih perhatian ekstra Mi, apalagi Ara dalam kondisi seperti ini. Makanya Leo mau bawa Ara ke rumah sakit, karena Leo khawatir sama istri Leo, Leo khawatir lihat kondisi Ara seperti ini Mami," kata Leo.
"Sudah-sudah, kamu ini kok jadi merengek seperti anak kecil gitu sih. kamu tenang aja, Ara bakalan baik-baik aja. Yang penting kamu terus kasih perhatian sama istri kamu dan selalu menjaganya, paksa dia buat makan," kata bu Amara. "Dan kamu Sayang, kamu harus makan ya walaupun hanya sedikit-sedikit, obat dan vitaminnya juga harus diminum supaya bayi kamu selalu sehat," ucapnya yang kini beralih menatap sang menantu.
__ADS_1
Ara pun mengangguk dan tersenyum kepada ibu mertuanya itu, "Iya Mi, Ara nggak papa kok. Ara baik-baik aja. Ara pasti akan memaksakan diri untuk tetap makan, rasanya ini memang benar-benar nikmat ya Mi. Ternyata untuk menjadi seorang ibu itu memang sangat tidak mudah, pantas saja anak yang tidak menghargai ibunya akan mendapatkan balasan yang setimpal. Karena pengorbanan ibu itu benar-benar luar biasa," kata Ara.
"Ini baru hamilnya, belum melahirkan, belum lagi mengurusnya sampai nanti dia dewasa, kalian gak bisa bayangin kan berapa banyaknya pengorbanan seorang ibu untuk anaknya," kata bu Amara.
"Tapi kan seorang ayah juga berjuang penuh untuk anaknya Mi," kata Leo yang tak terima jika ayah tidak berperan dalam tubuh kembangnya seorang anak.
"Iya Sayang, Mami kan nggak bilang kalau ayah itu nggak berkorban untuk anaknya. Ayah juga dong rela berkorban, bertaruh nyawa, mencari nafkah untuk keluarganya," kata bu Amara yang membuat Leo tersenyum dan hatinya begitu menghangat.
Lalu Leo pun memeluk bu Amara, memang Leo sangat menyayangi ibunya itu. Meskipun saat ini ia telah beristri, tidak mengurangi sedikitpun rasa sayangnya kepada wanita yang telah melahirkannya itu.
...
Tepat pukul 10.00 malam, bu Tania telah bersiap-siap dengan rencana yang sudah disusunnya dengan sangat rapi. Ia juga sudah meminta tolong kepada bibi untuk membantunya melancarkan aksinya pada malam hari ini untuk kabur. Ia sudah sangat tidak betah lagi berada di rumah yang rasanya seperti penjara.
Malam ini, ia sengaja menyuruh Asisten Rumah Tangganya itu untuk memberikan kopi yang sudah dicampur obat tidur kepada seluruh penjaga rumah termasuk supir, satpam dan juga Bodyguard. Bibi tidak memikirkan apapun resikonya nanti jika Tuan-nya tahu, yang jelas niatnya hanya ingin membantu Nyonya-nya itu. Karena sang nyonya juga selalu membantunya dalam keadaan susah. Akan tetapi bu Tania berjanji jika semuanya akan baik-baik saja, dia akan pergi secara diam-diam dan juga akan kembali secara diam-diam pula, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saat semua orang yang menjaga rumah sudah tertidur pulas, bu Tania pun segera pergi meninggalkan rumah dan menuju ke tempat yang sangat ingin ditujunya.
...****************...
__ADS_1