
"Taruh di situ aja Mas!" perintah Ara kepada Kurir yang mengantar furniture ke rumahnya.
"Di sini ya Mbak?" Tanya Kurir tersebut sembari menunjuk tempat untuk memastikannya lagi.
"Iya Mas di situ aja," jawab Ara.
Lalu dua orang kurir langsung saja menaruh barang dan menatanya ke tempat yang Ara maksud. Setelah semuanya selesai, para kurir itu langsung saja pamit dan meninggalkan rumah Ara dan Leo.
"Kayaknya kurang ke sini deh Sayang, jadi kalau misalnya kita taruh di sebelah sini, terus di sebelah sininya nanti ditaruh foto pernikahan kita, pasti keliatan lebih bagus deh, kelihatan lebih gimana gitu pokoknya, lebih nyaman mata mata memandang," ujar Leo sembari menunjuk tempat-tempat yang dimaksudnya.
"Ehm …," Ara tampak berpikir. "Iya yang kamu bilang benar juga sih, tapi gimana dong orangnya udah pergi."
"Tenang aja, kan ada aku. Aku bisa kok geserin, cuma lemari hias segini doang, paling juga ringan," kata Leo.
"Eh jangan dong Sayang, menurut aku itu berat loh. Tadi aja sampai dua orang gitu angkatnya," kata Ara.
"Itu tadi kan di angkat, nah ini cuma di geser doang," kata Leo.
"Ya udah kalau gitu biar aku yang bantuin kamu ya," kata Ara.
"Jangan, aku nggak mau nanti istri aku ini kecapean. Kamu benar-benar harus istirahat sampai nanti waktunya kita pergi honeymoon," larang Leo.
"Kamu sendiri tadi yang bilang gampang, berarti nggak berat lah buat aku," kata Ara.
"Aku nggak mau nanti kamu kecapean Sayang," kata Leo mengulanginya lagi.
"Masa gara-gara gini doang aku kecapean sih," protes Ara.
"Ya udah deh, kita coba aja sekarang," kata Leo.
Lalu Ara dan Leo pun mulai memindahkan lemari hias tersebut ketempat yang dimaksud oleh Leo. Ternyata lemari hias tersebut tidak terlalu berat sehingga Ara dan Leo dapat dengan mudah memindahkannya.
"Beres deh," ucap Ara.
"Iya, ternyata memang ringan ya Sayang, kalau tau kayak gitu mendingan tadi aku aja yang mindahin sendiri," kata Leo.
"Ya nggak bisa gitu juga lah Sayang, kalau kamu angkat sendirian jadi nggak seimbang dong nanti. Kalau kamu geser-geser sendiri terus tumbang gimana? Kalau sama aku kan paling nggak ada yang nahan biar bisa lebih seimbang," kata Ara.
"Iya juga ya Sayang, kamu itu emang istri aku yang paling cerdas, beruntung banget aku dapat istri seperti kamu," kata Leo.
__ADS_1
"Makasih Sayang, aku juga beruntung banget bisa punya suami seperti kamu," ucap Arab pula. Mereka berdua pun saling bertatapan dan tersenyum.
...
Tiga hari pun telah berlalu, kini Ara dan Leo sedang bersiap-siap karena besok mereka akan berangkat ke Cappadocia Turki, yang merupakan Negara impian Ara untuk berbulan madu.
"Kamu udah siap Sayang? Itu aja yang mau dibawa?" Tanya Ara yang melihat suaminya itu hanya mengeluarkan beberapa pakaiannya dari lemari dan akan dimasukkan ke dalam koper.
"Iya Sayang, memang mau bawa apaan lagi," jawab Leo.
"Iya juga sih, kita nggak usah bawa barang banyak-banyak ya, berat. Kamu satu koper dan aku satu koper udah cukup deh," kata Ara.
"Iya Sayang, kalau nanti kita kekurangan baju, di sana kan kita bisa beli," kata Leo.
"Oh iya juga ya, bener kata kamu," kata Ara.
"Ya dong, daripada kita harus berat-berat kan Sayang," kata Leo.
"Iya, kalau gitu kita bawa yang penting-penting aja kayak baju tidur, baju buat santai, terus ya pokoknya seperlunya aja deh," kata Ara. "Sayang, koper kamu masih longgar kan?" Tanyanya.
"Masih, kenapa?" Tanya Leo.
"Hm … kalau wanita mah kebiasaan, alat-alat tempurnya aja udah lebih banyak daripada bawa pakaian," kata Leo.
"Iya dong, kan supaya cantik. Aku cantik juga buat kamu. Siapa coba yang bakalan bangga kalau istrinya cantik," kata Ara.
"Iya, iya, tapi aku maunya kamu itu cantiknya cuma buat aku aja, nggak buat orang lain. Lagian tanpa kamu dandan pun kamu tetap cantik kok Sayang," kata Leo.
"Masa?" Tanya Ara.
"Iya, kamu nggak percayaan banget sih. Kamu itu wanita paling cantik di hidup aku selain Mami," ungkap Leo.
"Iya deh aku percaya kok sama kamu, makasih ya Sayang," ucap Ara.
"Iya Sayang sama-sama," jawab Leo.
Saat dirasa barang bawaan mereka cukup dan sudah dimasukkan semuanya ke dalam koper, Ara dan Leo pun langsung saja merebahkan diri di atas kasur, mereka segera memejamkan mata karena besok mereka harus bangun pagi-pagi sekali dan akan melakukan perjalanan menuju ke luar Negeri.
...
__ADS_1
Keesokan harinya, Ara dan Leo pun bergegas berangkat ke bandara dengan diantar oleh kedua orang tua Ara dan kedua orang tua Leo.
"Hati-hati ya, jangan lupa oleh-olehnya," ucap Bu Maria saat mereka sudah tiba di bandara.
"Iya Mami tenang aja," jawab Ara.
"Jadi Mami mau oleh-oleh apa nih?" Tanya Leo kepada ibu dan ibu mertuanya.
"Kalau maunya Mami sih sama ya dengan maunya Mami kamu," kata Bu Maria sembari melirik sahabat yang telah menjadi besanya itu.
"Memang apaan Mi?" Tanya Ara.
Bu Amara tersenyum dan menjawab, "Kami maunya cu-cu," jawab Bu Amara jujur.
"Wah kalau itu sih keinginan Papi juga," kata pak Jackson.
"Keinginan Papi juga dong," sambung Pak Ardi pula.
Mereka semua yang ada di situ pun tertawa bahagia. Ara dan Leo menganggap permintaan yang dilontarkan kedua orang tua mereka itu adalah hal yang wajar, sama juga seperti yang mereka inginkan ingin segera memiliki anak.
Tidak lama kemudian, Ara dan Leo pun segera memasuki pesawat dan segera terbang ke Turki.
....
"Sepi juga ya nggak ada Tante Tania," kata Cinta kepada suaminya, Beni.
"Iya, aku juga ngerasa gitu. Biasanya kalau kita makan malam rame, ada yang suapin Kayla, sekarang nggak ada, rasanya sepi dan ada yang kurang," kata Beni.
"Iya kamu benar, kapan ya kira-kira orang tua kita berdua bisa merestui hubungan kita dan menerima Clarissa sebagai cucunya seperti bu Tania," kata Cinta.
Beni menatap nanar mata sang istri, ia sangat mengerti jika Cinta sangat sedih dan berharap kedua orang tua mereka menyetujui hubungan mereka dan berada di sini menemaninya. Mungkin di mulut Cinta bisa mengatakan dia tidak apa-apa, dia baik-baik saja, akan tetapi Beni bisa ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh istrinya.
"Sayang, kamu yang sabar ya. Aku yakin kok. suatu saat nanti pintu hati mereka akan terbuka untuk menerima kita. Aku akan berusaha buat ngomong sama Mama dan Papa aku lagi," kata Beni.
"Iya, aku juga mau ngomong lagi sama Mama. Gimanapun pun juga Clarissa ini kan anak aku, dia lahir dari rahim aku, berarti cucu Mama. Tapi kenapa Mama enggak mau menerima Clarissa," kata Cinta seraya menjatuhkan air matanya yang membuat Beni semakin iba.
Sayang, udah ya, kamu nggak usah sedih kayak gitu. Kalau kamu sedih, Clarissa juga ikut sedih tuh," kata Beni sembari menarik tubuh sang istri ke dalam dekapan hangatnya.
...****************...
__ADS_1