Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_207


__ADS_3

"Mas, itu beneran rekan bisnis kamu?" Tanya bu Tania.


"Iya benar, itu pak Jackson dan keluarganya," jawab pak Hernandez.


"Kita pulang sekarang!" Kata bu Tania yang membuat anak dan suaminya itu bingung.


"Kenapa Mi?" Tanya Rolan.


"Sudah, jangan banyak tanya," kata bu Tania menarik tangan pak Hernandes dan Rolan untuk keluar.


"Tunggu!" Teriak bu Maria yang berdiri dari tempat duduknya lalu melangkahkan kaki menghampiri Tania.


"Mi ada apa...?" Tanya Ara yang juga bingung, sama seperti Rolan.


Akan tetapi bu Maria tidak menggubris pertanyaan Ara, yang dia pikirkan saat ini hanyalah sahabat yang ia cari selama ini sudah ada di depan matanya.


"Ayo Mas," bu Tania mengajak suaminya untuk segera pergi, akan tetapi dengan cepat bu Maria menghalanginya dengan berdiri di depan bu Tania.


"Minggir! Saya bilang minggir!" Kata bu Tania, sementara itu pak Hernandes dan Rolan melepaskan tangan mereka dari pegangan tangan bu Tania, lalu menghampiri Ara dan Pak Jackson.


"Ara aku gak nyangka deh, ternyata kamu itu anaknya rekan bisnis papa aku," kata Rolan.


"Iya, tapi sekarang aku lagi penasaran ada apa antara mami aku dan mami kamu," kata Ara.


"Tan, aku tidak menyangka bisa ketemu lagi sama kamu, baru saja kemarin aku dan Amara bahas soal kamu," kata bu Maria.


"Bahas apa? Menjelek-jelekkan aku seperti yang kalian lakukan dulu?" Tanya bu Tania sambil menatap mata bu Maria.


"Tan, kamu salah paham. Justru aku dan Amara berniat akan menjelaskannya tentang masa lalu itu, kamu benar-benar salah paham Tan," kata bu Maria.


"Salah paham gimana? Sudah jelas aku dengar semua dengan telinga aku sendiri, aku tidak tuli," kata bu Tania.


FLASHBACK ON...


"Mendingan kamu gak usah deh ganggu Tania lagi," ucap Maria kepada seorang pria yang menyukai Tania yaitu Aldo.


"Kenapa?" Tanya Aldo.


"Pokoknya kamu cari yang lain aja, Tania itu gak pantas buat kamu," sambung Amara.


Ternyata di saat itu Tania tidak sengaja mendengar percakapan antara kedua sahabatnya itu dengan pria yang sedang dekat dengannya di ruang olahraga. Tania merasa kecewa karena mengira kedua sahabatnya itu telah memfitnahnya, dengan amarahnya dia langsung saja meninggalkan ruangan tersebut.


"Kenapa tidak pantas?" Tanya Aldo lagi.


"Ya karena Tania itu terlalu baik dan polos untuk seorang playboy seperti kamu," jawab Maria.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti maksud kalian," kata Aldo.


"Oh tidak mengerti ya, lihat ini!" Kata Amara lalu menunjukkan foto-foto yang ada di ponselnya, foto dimana saat Aldo sedang berada di sebuah bar, di foto tersebut tampak Aldo yang sedang bercumbu mesra dengan wanita secara bergantian.


"Sial, dari mana kamu dapat foto-foto itu? Tanya Aldo.


"Kamu tidak perlu tahu, aku bisa saja menghapus foto di hp ini, tapi salinan di laptop masih ada, bagaimana dong...?" Kata Amara.


"Brengsek, apa mau kalian?" Tanya Aldo yang semakin kesal.


"Jauhi Tania! Maka foto-foto ini tidak akan berpindah tempat. Memang kamu mau kalau sampai berpindah ke tangan orang tua kamu?" kata Maria.


Aldo tidak punya pilihan karena ia tidak mau jika orang tuanya tahu sikapnya yang menjijikkan itu, pastinya orang tuanya akan murka bahkan tidak menganggapnya lagi sebagai anak.


FLASHBACK OFF.


Sejak saat itulah Aldo tidak lagi mendekati Tania, ia bahkan menghindar saat Tania menghampirinya dan sejak saat itu juga Tania mulai menjauhi sahabatnya karena menurutnya merekalah yang menyebabkan cinta pertamanya itu tidak bisa ia miliki.


...


"Apa? Kamu serius Sayang?" Tanya Leo saat Ara menceritakan soal dinner antara keluarganya dan keluarga Rolan.


"Iya Sayang, aku aja gak pernah nyangka loh. Mana Rolan jadi sok akrab lagi," jawab Ara.


"Nah itu yang aku gak mau, kamu harus jaga jarak sama dia, awas aja ya kamu!" kata Leo.


"Memangnya harus banget ya kita ikut campur? kenapa gak kita biarin aja orang tua yang menyelesaikan kesalahpahaman itu?" Tanya Leo.


"Ya harus dong, paling gak kita bantu mereka buat ketemu," jawab Ara.


"Caranya?" tanya Leo.


"Gampang," Ara berbisik di telinga Leo.


"Oke," jawab Leo.


"Ya udah sekarang aku mau jalan-jalan sama Marco boleh?" Tanya Ara.


"Boleh dong," jawab Leo. "Let's go."


"Oke," jawab Ara lalu mereka keluar dari rumah Ara dan naik ke motor.


...


"Jadi kalian sama sekali tidak ada bahas apa-apa waktu itu?" Tanya bu Amara dari sebrang telepon.

__ADS_1


"Boro-boro mau ngobrol, lihat muka aku saja dia tidak mau, suasananya jadi canggung banget Ra waktu itu. Tapi mau bagaimana lagi, Tania mau melanjutkan acara makan malam bersama hanya dengan syarat aku tidak boleh bahas apapun saat itu," jelas bu Maria.


"Jadi sekarang kita harus bagaimana Mar...? Aku mau ketemu sama Tania agar kita bisa jelaskan yang sebenarnya tentang masa lalu itu," kata bu Amara.


"Aku juga maunya begitu Ra, tapi Tania sama sekali tidak mau dengar penjelasan aku waktu itu," kata bu Maria.


"Hm aku hanya berharap suatu saat kita bisa bersama-sama lagi seperti dulu," kata bu Amara.


"Iya Mar, mudah-mudahan masih ada kesempatan ya nanti buat kita. Oh ya, Ara baru pulang tuh di antar Leo, aku matiin dulu ya Ra teleponnya," kata bu Maria.


"Oh iya ya, salam buat Ara ya," kata bu Amara.


"Iya Ra, bye," Ucap bu Maria.


"Bye," Balas bu Amara.


Lalu panggilan telepon terputus dan bu Maria melangkahkan kaki menghampiri Ara yang baru saja tiba.


"Makasih ya sayang," ucap Ara.


"Iya sama-sama sayang, gimana kamu happy gak?" Tanya Leo.


"Ya pastilah sayang, ngapain kamu tanya lagi sih," jawab Ara


"Besok mau jalan lagi gak sama Marco?" Tanya Leo.


"Mau," jawab Ara bersemangat.


"Semangat banget," kata Leo.


"Iya dong," jawab Ara.


"Sayang siapa tuh,?" Tanya Leo menunjuk ke sembarang tempat, Ara pun melihat ke arah tersebut.


"Mana? gak ada siapa-siapa kok Sayang," jawab Ara kebingungan. Saat Ara memutar wajahnya ke arah Leo lagi, tiba-tiba saja... Cup, sebuah ciuman mendarat di pipi Ara.


"Ih Leo, kamu jahil banget sih," kata Ara.


"He he he gak apa dong jahil sama calon istri sendiri," kata Leo nyengir.


"Hm iya deh gak apa, entar juga ada saatnya aku balas," kata Ara.


Leo dan Ara saling bertatapan, perlahan Leo mendekati wajahnya ke wajah Ara, dengan spontan Ara memejamkan matanya menyambut apa yang akan di lakukan oleh Leo. Akan tetapi...


"Ehem," terdengar suara seseorang berdehem dari arah pintu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2