Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-319


__ADS_3

Bu Tania pun segera saja mengendap-endap keluar dari pagar rumah karena ia takut jika satpam akan terganggu mendengar suara pagar yang terbuka. Setelah itu, ia langsung keluar dan menghampiri taksi online yang sudah dipesannya dan berhenti agak jauh dari rumahnya itu.


Ia pun segera saja pergi, kemana lagi tujuannya pergi kalau bukan menuju ke rumah Cinta dan Beni. Meskipun ia tahu ini pasti akan sangat mengganggu sang empunya rumah karena bertamu malam-malam, tetapi ia sudah tidak punya pilihan lain, rasa rindunya terhadap Clarissa sudah tidak dapat dibendung lagi. Bu Tania tidak sempat mengabari Cinta maupun Beni karena keadaanya sangat darurat, sedangkan saat ini ponselnya sengaja ia tinggalkan di rumah, karena gps yang ada di ponselnya tersambung dengan ponsel asisten bu Tania yang selalu mengawasinya 24 jam.


Perasaan bu Tania saat ini begitu menggebu-gebu, ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan cucu kesayangannya, Clarissa. Ia juga menyuruh supir taksi untuk melaju lebih cepat agar segera tiba di lokasi.


Tidak beberapa lama kemudian, ia pun telah tiba di kediaman keluarga Beni. Bu Tania tersenyum dengan sangat puas, rasanya ia begitu bahagia karena bisa terlepas dari penjara dan dapat menghirup udara segar. Bu Tania pun langsung saja memanggil satpam yang berjaga di rumah Cinta, satpam tersebut segera membuka gerbang tersebut karena ia juga sudah sangat mengenal bu Tania. Bu Tania pun bergegas masuk dan mengetuk pintu rumah.


Kebetulan saat itu Beni yang masih terjaga dan mendengar ketukan pintu, segera saja menuju ke pintu utama dan membukakan pintu untuk tamunya. Sedangkan Cinta saat ini sedang menemani anaknya di dalam kamar.


"Malam Beni," ucap Bu Tania saat melihat wajah Beni yang ada di hadapannya.


"Tante Tania? Malam juga Tante. Ini beneran Tante Tania?" Tanya Beni dengan mata terbelalak, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Bagaimana bisa bu Tania datang ke rumahnya malam-malam begini sendirian? Ya tapi itulah kenyataannya.


"Iya, ini beneran Tante Ben, maaf ya Tante malam-malam ganggu kamu, Tante-" ucapan bu Tania terhenti.


"Udah Tante, jelasinnya di dalam aja ya. Angin di luar dingin, sekarang kita masuk aja dulu," ajak Beni yang memotong ucapan Bu Tania begitu saja.


Bu Tania mengangguk dan menyetujuinya, lalu mengikuti Beni masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Tante, Tante mau duduk dulu di sini, biar Beni panggilin cinta atau Tante mau langsung ke kamar Clarissa?" Tanya Beni.


"Jangan dibangunin Cinta-nya, biar Tante aja yang ke kamar Clarissa. Tapi Tante takut ganggu Cinta dan Clarissa, pasti mereka udah tidur kan?" kata bu Tania.


"Tadi sih Cinta belum tidur Tante, masih nemenin Clarissa. Cuma nggak tahu juga kalau ketiduran," kata Beni. "Lebih baik Tante langsung ikut aja yuk ke kamar."


"Iya Ben," jawab bu Tania menyetujui, lalu ia mengikuti Beni menuju ke kamar Clarissa.


Saat tiba di kamar tersebut, ternyata Cinta saat ini sudah tertidur dalam keadaan memeluk anaknya. Bu Tania pun perlahan mendekati mereka, sebisa mungkin tidak mengganggu anak dan ibu yang saat sedang tiba. Tiba-tiba saja air mata bu Tania lolos begitu saja membasahi pipinya, ia merasa begitu terharu dan bahagia karena dapat melihat Clarissa secara langsung. Rasa rindu yang selama ini dipendamnya akhirnya terobati, hal nekat yang telah ia lakukan adalah pilihan yang tepat, karena akhirnya ia dapat bertemu dengan cucu satu-satunya itu.


Cinta yang pada dasarnya memang tidak pernah tidur nyenyak karena menjaga anaknya, ia pun terbangun karena merasa ada seseorang yang menghampirinya. Memang pada saat itu bu Tania sedang mendekati Clarissa dan menciumnya untuk mengurangi rasa rindu.


Perlahan Cinta membuka matanya dan melihat sosok yang terasa ada di dalam mimpinyanya.


Bu Tania sudah tidak dapat lagi menahan tangisnya, air matanya pun lolos begitu saja. Rasa rindu yang ia rasakan kini telah terobati.


"Tante, ini beneran Tante kan? Aku benar-benar enggak nyangka kalau Tante bakalan datang ke sini. Tapi kenapa malam-malam banget Tante?" Tanya Cinta. Ia tetap saja belum percaya jika ibu paruh baya yang barusan dipeluknya adalah bu Tania.


"Iya Sayang, ini beneran Tante," jawab bu tania diiringi anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Tante, Cinta seneng banget pokoknya bisa ketemu Tante. Tante nginap di sini lagi kan?" Tanya Cinta.


Akan tetapi jawaban bu Tania tidak sesuai dengan harapan Cinta, karena pada saat itu bu Tania menggelengkan kepalanya secara perlahan. Cinta merasa bingung menatap bu Tania yang terlihat sangat sedih.


"Ada apa Tante?" Tanya Cinta.


"Kamu tau kan Sayang kalau suami Tante tidak mengizinkan untuk Tante bertemu dengan kalian lagi. Dia sama sekali belum bisa terima kalau Clarissa ini adalah cucunya, dia tetap menganggap kalau Clarissa ini orang lain. Katanya karena kamu bukan istri Rolan melainkan istri Beni. Tapi bagaimanapun juga Tante sudah sangat menyayangi Clarissa, Tante bukan hanya menganggap Clarissa sebagai cucu Tante, tetapi memang kenyatannya Clarissa itu adalah cucu Tante. Bahkan kalian berdua juga tidak keberatan kan jika Tante memang mengakui Clarissa itu adalah cucu Tante sendiri? Tapi tidak dengan Om Hernandes. Tante benar-benar berasa di dalam penjara, Tante terkurung, Tante diawasi selama 24 jam, Tante tersiksa Cinta," kata bu Tania.


"Terus gimana caranya Tante bisa datang ke sini malam ini?" Tanya Beni.


Bu Tania pun menceritakan kepada Cinta dan Beni bagaimana ia bisa lolos dari rumah dan berada di hadapan mereka saat ini.


"Kalau malam ini Tante nggak pulang, kasian Bibi. Dia nantinya pasti akan disalahkan sama Om Hernandes. Jadi malam ini juga Tante akan pulang. Tapi kamu tenang aja ya Cinta, Tante pasti bakalan sering-sering ke sini meskipun nggak setiap hari, dengan cara seperti ini," kata bu Tania.


"Iya Tante, yang penting Cinta bisa ketemu Tante," kata Cinta, lalu kembali memeluk erat bu Tania.


Beni sangat terharu melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Ia merasa kasihan terhadap istri dan anaknya mengingat orang tua mereka yang belum merestui serta menerima Clarissa sampai saat ini. Tetapi di saat ada bu Tania yang begitu menyayangi mereka, keadaannya malah menjadi seperti ini.


...

__ADS_1


Pagi yang cerah telah menyapa, sinar mentari masuk melalui celah-celah jendela menerpa wajah cantik Ara yang membuatnya terbangun. Ia membuka mata dan menyadari ada sesuatu yang melingkar di perut datarnya itu. Ternyata tangan kekar tersebut adalah milik sang suami yang hari ini tidak pergi ke kantor karena hari Minggu. Tidak biasanya Leo ikut tidur sampai jam 09.00 pagi, sudah pasti karena ia sangat kelelahan menjaganya Ara tadi malam yang entah berapa kali terbangun karena muntah. Ara menatap lekat wajah sang suami, ia sangat bersyukur karena memiliki suami seperti Leo yang sangat mencintai dan menyayanginya.


...****************...


__ADS_2