
"Aku minta maaf ya udah galak-galak sama kamu tadi, kamu benar ini di luar kantor, gak seharusnya kita kaku kayak gitu. Maafin aku ya Karin," ucap Leo dan terpaksa untuk tersenyum agar Karina tidak menaruh curiga padanya.
"Iya Yo, gak papa kok," jawab Karina.
"Beneran gak papa? Maaf banget karena kondisi aku yang kayak gini suka buat aku jadi uring-uringan akhir-akhir ini. Aku cuma kesal aja sama diri aku sendiri yang gak berguna kayak gini Rin," Ucap Leo lirih untuk menarik simpatik dan meyakinkan Karina.
"Good, boleh juga akting kamu," ucap Ara.
Leo hanya bisa tersenyum mendengar suara gemas tunangannya itu, jika Ara ada di dekatnya, pasti ia sudah menerkam Ara.
"Gak papa, beneran Leo. Aku paham kok," ucap Karina.
Rasanya ingin segera pergi menjauh dari Karina, itulah yang ada dalam pikiran Leo saat ini, akan tetapi ia ingat akan tujuannya yang telah ia rencanakan bersama Ara.
Kini Leo dan Karina sedang serius meneliti berkas dan menandatanganinya. Selama Leo tidak ke perusahaan, Karina lah yang mengurus perusahaan dengan baik, memang tidak bisa dipungkiri jika Karina sangat handal mengurus perusahaan karena dia pernah menjadi CEO di perusahaan milik keluarganya.
"Udah selesai semua kan?" Tanya Leo.
"Untuk hari ini cukup," jawab Karina.
"Oh ... ya udah silahkan diminum airnya," ucap Leo, Karina langsung saja meminum minuman yang telah dibuat oleh ART di rumah Leo.
Karina tersenyum lega, ia merasa senang karena ternyata kekhawatirannya itu salah, Leo bersikap dingin padanya tadi hanya karena mood-nya yang sedang tidak baik bukan karena merasa curiga terhadap Karina. Ia jadi merasa bersalah terhadap Leo, karena ulahnya lah Leo jadi tertembak.
"Karina, aku mau nanya," kata Leo.
"Tanya aja Yo," kata Karina.
"Menurut kamu, Seno itu gimana orangnya? Mungkin gak sih kalau Seno itu ada niatan buat merebut Ara dari aku?" Tanya Leo.
"Hm ... kayaknya Leo mulai curiga nih sama Seno, mendingan aku panas-panasin aja sekalian deh," batin Karina, tiba-tiba di dalam otaknya muncul ide jahat.
"Leo, kalau menurut aku sih memang Seno itu suka banget sama Ara, gak bisa dipungkiri kalau nantinya Seno itu bakalan merebut Ara dari kamu," jawab Karina.
"Kayaknya kamu benci banget ya sama Seno?" Tanya Leo asal.
__ADS_1
"Memang, abisnya itu dia selalu aja ikut campur urusan aku. Nyebelin banget pokoknya, kayak waktu di rumah sakit kemaren, rasanya pengen aku bejek-bejek aja tuh orang," oceh Karina dengan ekspresi kesalnya.
Leo mendengarkan dengan seksama sembari menatap wajah Karina, seakan berkata ayo Karin, ayo, ngomong terus, ungkapin kejahatan kamu.
"Sayang aja rencana aku ga-" Karina menghentikan ucapannya, "Sial! Hampir aja aku keceplosan," batinnya.
Leo mengangkat dua alisnya karena tiba-tiba Karina terdiam, "Kenapa diam? Rencana ga, ga apa maksudnya?" Tanya Leo.
"Oh itu, gak ada apa-apa kok Leo, aku salah ngomong aja tadi," jawab Karina mengelak.
"Oh ... berarti aku yang salah dengar," kata Leo.
"Iya Yo, ya udah karena udah gak ada urusan aku balik ke kantor lagi ya," kata Karina.
"Iya, hati-hati ya," jawab Leo.
Lalu dengan langkah yang terburu-buru, Karina segera meninggalkan rumah Leo.
Setelah Karina pergi, Leo segera masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, kamu masih di situ? Kamu dengar gak Karina tadi ngomong apa? Halo Sayang," panggil Leo. Teleponnya masih tersambung, akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari Ara.
...
Pagi hari yang cerah menyapa, suara kicauan burung saling menyahut menambah indahnya suasana pagi seindah suasana hati Ara saat ini, Ara telah rapi dengan setelan kemeja dan blazernya serta rok selutut yang menambah kecantikannya. Hari ini ia akan pergi ke perusahaan barunya untuk bertemu para investor. Leo, pak Ardi, pak Jackson, pak Haris dan Seno juga hadir untuk menanam saham di perusahaan Ara yang bergerak dalam bidang desainer.
Ara sengaja membangun perusahaan tersebut agar bisa memproduksi pakaian sendiri dan bekerja sama dengan butik ibunya, bu Maria.
Ara tiba di sebuah bangunan lantai lima yang telah dipersiapkannya dalam dalam satu tahun belakangan ini. Bahkan beberapa pegawai juga sudah direkrutnya di sela-sela kesibukannya bekerja di perusahaan pak Haris.
Rapat sedang berjalan, Ara dengan serius mempresentasikan kepada semua investor dan didengarkan seksama oleh para investor tersebut. Tidak henti-hentinya Leo memandang calon istrinya itu, merasa kagum atas kepintaran yang dimiliki Ara.
"Terimakasih," ucap Ara di akhir presentasi.
Setelah itu para investor pun saling berdiskusi membahas untung rugi dalam penanaman modal. Tentunya semua yang hadir telah menanam modal di perusahaan Ara termasuk ayahnya sendiri, yaitu pak Jackson.
__ADS_1
"Sayang, Papi doain kamu bisa sukses nantinya dengan menjalankan perusahaan kamu sendiri," ucap pak Jackson.
"Aamiin, makasih ya Pi udah doain dan percaya sama Ara," ucap Ara.
"Ara, selamat bekerja sama ya," ucap pak Ardi.
"Makasih ya Om," ucap Ara.
"Selamat bekerja sama Ara, sukses selalu ya buat kamu," ucap Pak Haris.
"Iya Om, makasih banyak ya," ucap Ara.
"Kak Ara, good luck ya," ucap Seno.
"Thank's ya Sen," ucap Ara.
Ara memandang ke arah Leo yang dari tadi hanya diam menatapnya sambil tersenyum, "Sayang, kamu gak mau ngucapin apa-apa ke aku?" Tanyanya.
Leo melangkahkan kakinya mendekati Ara lalu memeluknya, semua mata yang melihat perlakuan Leo itu hanya tersenyum.
"Leo, kamu kenapa? Ini ramai orang loh di sini," kata Ara.
"Biarin aja, abisnya aku bangga banget sama kamu, aku yakin kamu bakalan sukses nantinya," ucap Leo.
"Makasih ya Sayang," ucap Ara tersenyum dan membalas pelukan Leo tersebut.
Rapat telah selesai, kini hanya tinggal Ara, Leo dan Seno yang memang sudah sepakat akan berbicara sebentar setelah rapat selesai. Untunglah Leo dan Seno itu CEO jadi mereka bisa menyerahkan pekerjaan mereka dulu kepada sekretarisnya.
"Jadi kalian mau ngomong apa Kak sama aku?" Tanya Seno.
"Gini Sen, kami berdua curiga kalau Karina adalah dalang dari penculikan kita kemaren," kata Ara.
"Hah? Masak sih Kak? Tapi kenapa kalian curiga sama Nenek sihir itu?" Tanya Seno yang tidak mengerti akan maksud Ara dan Leo.
"Kamu dengerin ini aja deh," kata Ara lalu memutar rekaman yang sengaja direkamnya lewat telepon waktu itu.
__ADS_1
Seno pun mendengarkan rekaman suara itu secara seksama hingga ia mendengar suatu ucapan yang membuatnya bertanya, "Sayangnya rencana aku ga, maksudnya gagal gitu?"
...****************...