
Ara masih tampak sibuk bergelut dengan pekerjaannya meskipun saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang. Begitu juga dengan Amira, ia masih tampak sibuk tertunduk memeriksa beberapa file yang akan diserahkan kepada Ara sampai-sampai tidak menyadari jika Seno dan Leo saat ini sudah berdiri di depan mejanya. Amira yang merasa ada bayangan seseorang langsung saja ia mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat dua pria tampan yang ada di depan matanya saat ini.
"Kak Leo, Seno? Kok kalian nggak ngomong sih ada di sini," kata Amira.
"Ya habis kayaknya kamu sibuk banget, jadi aku sama Kak Leo memutuskan untuk berdiri aja di sini," kata Seno.
"Oh … iya, maaf ya aku memang lagi banyak kerjaan dan ini harus aku kasih laporannya langsung ke Kak Ara hari ini," ucap Amira.
"Oh … gitu, iya gak papa kok," kata Seno.
"Iya kerja sih boleh, tapi ini tuh udah waktunya makan siang. Pasti bos kamu juga masih sibuk kan di dalam," kata Leo menunjuk ke ruangan Ara.
"He … he … he … iya bener Kak, apalagi Kak Ara, dari tadi sibuk banget," kata Amira.
"Udah aku duga, ya udah kalau gitu mana berkas yang mau kamu anterin ke Ara? Sini biar aku aja yang kasihkan langsung ke istri aku," kata Leo.
"Ini udah siap beberapa Kak, tapi beneran nggak papa nih Kak Leo yang anterin?" Tanya Amira.
"Iya nggak apa-apa, biar aku aja yang kasihkan ke Ara," kata Leo.
Lalu dengan sedikit ragu-ragu Amira pun menyerahkan beberapa berkas kepada Leo, karena tidak enak menyusahkan suami dari bos-nya itu meskipun Leo sendiri yang memintanya.
Setelah mengambil berkas tersebut dari tangan Amira, Leo pun segera saja mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Ara. Sedangkan Seno tetap di luar menemani Amira, menunggu Ara dan Leo keluar.
"Masuk!" Teriak Ara saat mendengar ketukan pintu.
Leo pun masuk ke dalam, Ara mendongakkan kepalanya dan tersenyum melihat sosok pria yang ada di depannya yang juga tersenyum kepadanya.
"Sayang, kamu udah datang?" kata Ara.
"Bu Ara, udah dong kerjanya. Ini tuh udah siang, udah waktunya makan. Nih aku bawain beberapa berkas dari sekretaris kamu, tapi ntar aja ya periksanya sehabis makan," kata Leo.
"Iya, aku tau kok ini udah waktunya makan siang, tapi bentar lagi ya, lagi nanggung banget. Memang berkas ini sih nanti aku periksanya, cuma ini aku masih ada kerjaan, nanggung dikit lagi, sepuluh menit lagi," kata Ara.
"Kamu nih ya, aku juga habis libur loh, tapi nggak sesibuk ini deh. Sampai aku Wa aja enggak kamu baca," kata Leo.
__ADS_1
"Ya habis kamu Wa-nya kayak gitu sih, aku tuh lagi kerja Sayang, lagi sibuk," kata Ara.
"Kayak gitu gimana sih Sayang, aku kan Wa-nya nanya kamu lagi apa? Aku kangen, wajar dong. Aku juga sibuk kali, tapi masih sempat tuh buat menghubungi kamu," ucap Leo berpura-pura ngambek.
"Ya udah deh, aku minta maaf ya. Sekarang kamu duduk aja dulu ya biar aku siapin kerjaan aku," ucap Ara.
"Sepuluh menit ya," kata Leo.
"Iya sepuluh menit," jawab Ara.
Sepuluh menit kemudian, Ara benar-benar menyudahi pekerjaannya, lalu pergi makan siang bersama dengan suaminya, Amira dan juga Seno.
...
Waktu masih menunjukan pukul 08.00 pagi, akan tetapi Rio sudah tampak sibuk dan fokus dengan pekerjaannya. Tiba-tiba ada seorang rekan yang mengabarkan kepadanya jika ia dipanggil ke ruangan Direktur Utama. Rio pun saat itu langsung saja menghentikan aktivitasnya dan menuju ke ruang direktur untuk menemui bos-nya itu.
"Bapak ada apa panggil saya ke sini?" Tanya Rio kepada Pak Wijaya yang merupakan direktur dari perusahaan tempatnya bekerja.
"Begini Rio, kamu kan sekarang sudah menjadi CEO di perusahaan ini. Kinerja kamu juga sangat bagus ditambah lagi sekarang kamu memiliki banyak pekerjaan yang harus ditangani segera. Selain sekretaris, saya rasa kamu juga butuh asisten," kata pak Wijaya.
"Bukannya sekretaris saya itu juga bisa dibilang sebagai asisten ya Pak?" Tanya Rio.
"Terimakasih sekali ya Pak, kalau memang itu keputusan Bapak ya saya dengan senang hati menerimanya Pak," ucap Rio.
"Iya Rio, kamu itu karyawan saya yang sangat berkualitas di perusahaan ini," kata pak Wijaya.
Ya memang dengan kepintaran yang Rio miliki, ia menjadi karyawan yang sangat berpotensi di perusahaan tempatnya sekarang bekerja. Rio yang dulunya pernah membangun usahanya sendiri dan bangkrut, lalu ia mencoba melamar di perusahaan besar dari sebagai seorang manager dan kini naik jabatan sebagai CEO berkat kegigihan yang selama ia jalani, dan selalu berusaha keras.
"Terimakasih banyak Pak," ucap Rio.
"Sama-sama. Ya sudah kalau gitu kamu tunggu saja ya, hari ini saya sudah langsung suruh dia bekerja karena saya sendiri yang mewawancarainya waktu itu. Nanti saya akan bilang ke HRD, jika asisten kamu itu sudah datang dia akan langsung menemui kamu ke ruangan CEO," kata pak Wijaya.
"Baik Pak," jawab Rio. Setelah itu pun Rio keluar dari ruangan Direktur untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tok … tok … tok … Seseorang mengetuk pintu ruangan CEO.
__ADS_1
"Masuk," ucap Rio.
Lalu orang yang mengetuk pintu pun masuk dan membuat mata Rio tidak percaya melihatnya.
"Aria?" Ucap Rio.
"Selamat pagi pak Rio," ucap Aria.
"Pak?" Ucap Rio tidak mengerti.
"Iya, Pak," kata Aria tersenyum, lalu ia pun berjalan mendekati Rio.
"Boleh saya duduk?" Tanya Aria.
"Ya silahkan!" Jawab Rio.
Dan Aria pun langsung duduk di seberang Rio.
"Ini maksudnya kamu asisten aku yang dipilih Pak Wijaya itu ya?" Tanya Rio.
"Iya benar Pak, saya asisten baru Bapak. Nama saya Aria," ucap Aria memperkenalkan diri.
"Aria, udah dong nggak usah bercanda kayak gitu," kata Rio.
"Kak Rio, aku nggak bercanda, aku serius. Memang aku asisten Kak Rio sekarang," kata Aria.
"Kok bisa? Kamu itu lulusan luar Negeri loh, masa kamu ngelamar di sini hanya sebagai asisten," kata Rio.
"Ya bisa lah Kak, ini itu pengalaman kerja aku yang pertama. Memang kenapa kalau aku kerja sebagai asisten Kakak? Aku kan kuliahnya juga jurusan bisnis, jadi sama aja lah," kata Aria.
"Ya justru karena kamu itu kuliahnya jurusan bisnis, kamu bisa ngelamar sebagai CEO atau kamu bisa bantu Kakak kamu tuh ngurus perusahaan keluarga kamu sendiri," kata Rio.
"Aku nggak mau Kak, aku baru tamat kuliah masa harus langsung ke perusahaan Papa, aku gak mau langsung menikmatinya gitu aja. Aku mau memulainya dari nol sampai aku nanti bisa bangun bisnis aku sendiri," kata Aria.
"Kok kamu mirip banget ya pemikirannya sama Ara," kata Rio.
__ADS_1
"Ya kalau miripnya yang baik-baik nggak masalah dong Kak," kata Aria tersenyum. Rio pun membalas senyum manis dari Aria itu.
...****************...