Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_250


__ADS_3

Selesai makan siang bersama, Seno pamit kembali ke perusahaan untuk bekerja, sedangkan Leo masih tetap tinggal untuk sebentar.


"Sayang, aku tadi terpikir sesuatu deh," bisik Ara karena takut jika Amira mendengarnya meskipun saat ini Amira sedang fokus dengan kerjaannya, sedangkan Ara dan Leo masih duduk di sofa yang posisinya tidak terlalu jauh dengan Amira.


"Terpikir apa Sayang?" Tanya Leo.


"Menurut kamu Seno sama Amira cocok gak?" Tanya Ara.


"Hm, jangan bilang kamu jodohin mereka," kata Leo.


"Loh emangnya kenapa Sayang, cocok kan mereka?" Tanya Ara yang tidak mengerti kenapa Leo seperti tidak mendukungnya.


"Kalau di liat gitu aja ya cocok sih, tapi kan Sayang gak seharusnya kita mencampuri urusan pribadi mereka, kalau tiba-tiba mereka nantinya gak cocok terus nyalahin kamu karena kamulah yang menjodohkan mereka, gimana coba? Pasti kamu gak mau dong di salahkan," kata Leo.


"Oh ... gitu, tapi apa salahnya dicoba dulu, masalah cocok gak cocoknya itu urusan mereka lah. Kalau memang gak mau ya dari awal pasti mereka gak mau," kata Ara.


"Ya terserah kamu aja deh, tapi memangnya kamu udah tanya ya sama Amira dia itu udah punya pacar apa belum?" Tanya Leo.


Ara menggelengkan kepalanya seraya berkata," belum sih Sayang."


"Nah, kamu harus tanya dulu dong Sayang, jangan main asal jodoh-jodohin aja. Entar kalau Seno nya mau terus dia juga udah suka sama Amira, tiba-tiba Amira-nya udah punya pacar kasian dong Seno bakalan patah hati," kata Leo.


"Cieh ... ada yang mulai peduli nih, takut banget Seno patah hati," ledek Ara.


"Apaan sih, siapa juga yang peduli. Cuma sesama laki-laki aku ngerti lah gimana rasanya patah hati," kata Leo.


"Heh, yakin tuh, emangnya wanita gak bisa ngerasain sakit hati juga apa," gumam Ara.


"Lagipula kalau menurut aku gak papa juga lah kalau kamu comblangin mereka," kata Leo.

__ADS_1


"Kenapa kamu tiba-tiba jadi mendukung? Cepat banget berubah pikirannya," kata Ara sembari menaikkan kedua alis matanya.


"Ya kalau tuh bocil udah punya pacar, berarti kan dia gak bisa gangguin kamu lagi," ujar Leo.


"Ya, ya masuk di akal sih," ucap Ara manggut-manggut.


"Iya dong. Ya udah Sayang, aku balik ke kantor dulu ya," pamit Leo.


"Iya, aku juga mau lanjutin kerjaan," kata Ara.


"Iya, kamu gak lembur lagi kan hari ini?" Tanya Leo.


"Gak kok, kasian juga sama Amira," jawab Ara.


"Bagus lah, aku pergi dulu ya Sayang," ucap Leo lalu mencium kening Ara.


"Mir, saya duluan ya," pamit Leo pula kepada Amira.


"Iya Pak, hati-hati Pak," pesan Amira.


"Oke," jawab Leo lalu melangkahkan kaki meninggalkan perusahaan Ara.


Amira tersenyum, ia merasa sangat senang karena selain Bos-nya, calon suami bahkan teman Bos-nya itupun bersikap sangat baik padanya.


...


Bryan dan Sarah yang masih berada di rumah sakit merasa sangat senang setelah mendapat kabar bahwa Sarah hamil. Keduanya saling berpelukan erat merasa sangat terharu atas rezeki yang Tuhan berikan kepada mereka.


"Sayang, makasih ya udah kasih aku hadiah terindah di tahun ini, aku seneng banget," ucap Bryan yang tidak henti-hentinya mengucap rasa syukur.

__ADS_1


"Iya sayang sama-sama, aku juga seneng banget," jawab Sarah.


"Aku janji kali ini aku pasti menjaga kamu dan calon anak kedua kita, gak kayak dulu," ucap Bryan. Ia merasa bersalah saat teringat perlakuannya dulu terhadap Sarah saat sedang mengandung Kayla, ia berjanji kepada Sarah dan dirinya sendiri bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi lagi. Bryan akan selalu bersama dan menjaga Sarah serta anak dalam kandungannya dengan baik.


"Aku percaya kok sama kamu, sekarang kita pulang aja yuk kasih kabar ke Ibu, aku yakin Ibu khawatir banget sama kita, dari pagi sampai siang gini kita belum balik," kata Sarah.


"Tadi aku udah kabarin ke Ibu kok pakai telepon rumah sakit, aku bilang nungguin kamu siuman untuk pemeriksaan lebih lanjut. Soalnya aku gak bawa hp. Gimana aku mau ingat sama hp, baju aja aku gak ganti, bahkan aku cuci muka aja di rumah sakit tadi. Untung dompet ada di samping kunci mobil, jadinya kebawa, sangking khawatirnya aku sama kamu tadi," ungkap Bryan.


"Aku minta maaf ya Sayang udah buat kamu khawatir. Yuk pulang," ucap Sarah lalu mengajak suaminya itu pulang.


"Yuk, aku juga gak sabar mau kasih tau Ibu tentang berita bahagia ini," kata Bryan.


Setelah mengurus administrasi dan menebus vitamin untuk Sarah, mereka segera pulang ke rumah.


...


"Akh ... brengsek, kamu liat aja Tama, aku pasti bakalan balas ini semua, aku tidak akan membiarkan perusahaan ini bangkrut hanya gara-gara manusia licik sepertimu," Satu harian ini Arka terus saja uring-uringan, pasalnya para investor tetap tidak mau lagi percaya padanya dan meminta dana yang sudah terpakai segera dikembalikan. Jika seperti ini bukan hanya perusahaan yang terancam bangkrut, tapi seluruh aset kekayaan keluarganya pasti akan disita.


Bagaimana nasib Pak Boby dan Aria nantinya? Itu semua membuat Arka pusing tujuh keliling memikirkannya. Ia terus saja berteriak dan memporak-porandakan berkas-berkas yang ada di atas meja hingga berserakan kemana-mana.


"Arka? Arka kamu kenapa?" Tanya Sherin yang kini sedang berada di depan pintu ruangan Arka, ia sangat terkejut melihat ruangan Arka itu seperti kapal pecah.


Segera saja Sherin mendekati Arka yang sedari tadi menatapnya dengan sendu. Sherin memegangi wajah Arka dengan kedua tangannya sambil menatap lekat wajah kekasihnya. Dari tatapan itu Sherin dapat melihat kesedihan dan kekecewaan yang ada pada diri Arka, segera saja Sherin mencium bibir Arka dengan lembut, memberikan sedikit kehangatan agar pria di depannya itu merasa lebih tenang. Saat Sherin hendak melepas bibirnya, tiba-tiba saja Arka menarik tengkuk Sherin dan ******* bibir bawahnya dengan penuh gairah, Sherin pun membalas ******* bibir Arka.


Saat ini mereka benar-benar tidak peduli jika sedang berada di kantor, bahkan Dante yang tadinya masuk ke ruangan Arka segera keluar dan berjaga di luar takut ada orang lain yang masuk dan melihat Bos dengan kekasihnya itu sedang dimabuk Asmara. Yang jelas Dante sangat berharap jika kehadiran Sherin mampu menenangkan hati Arka, karena dia lah yang menceritakan semuanya tentang kondisi Arka kepada Sherin dan memintanya untuk datang.


"Bos maafkan saya sudah menceritakan semuanya kepada Nona Sherin, Saya hanya berharap Bos akan menjadi lebih tenang setelah bertemu dengannya," batin Dante.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2